Sains vs Agama

KEJADIAN ini dialami oleh Galileo Galilei. Hidupnya saat itu bagaikan telur di ujung tanduk. Ketukan palu Paus Urbanus VIII, pemimpin Gereja Katolik pada April tahun 1663, telah menjatuhkan sanksi hukuman seumur hidup bagi ilmuwan astronomi itu. Galileo beruntung karena terhindar dari hukuman mati, sebagaimana bentuk hukuman bagi siapa saja yang mengancam kewibawaan gereja katolik. Pokok permasalahannya dianggap menyangkut martabat gereja yang harus di junjung oleh siapapun, bahkan seandainya pun tidak benar. Galileo yang menyakini bahwa matahari adalah pusat semesta, telah membangkitkan amarah pimpinan gereja yang berkeyakinan bumi lah pusat semesta. Vonis tersebut tidak bisa ditawar-tawar lagi, meskipun Galileo dikenal sebagai katolik yang taat dan sama sekali bukan penganut ajaran reformasi sebagaimana yang dituduhkan.

Keputusan yang dikeluarkan di Vatikan, oleh badan inkuisisi gereja pada kakek renta itu sebenarnya bukanlah yang pertama. Tiga puluh tahun sebelumnya, seorang ahli filsafat Giordano Bruno juga dianggap sesat dan dijatuhi hukuman mati. Tragis dan menyisakan dendam yang tak berkesudahan bahkan hingga kini. Baca lebih lanjut

Iklan

Galileo Galilei (1564-1642)

Perjalanan nasib Galileo pada saat itu tergantung hasil keputusan pengadilan yang berlangsung di ruang sidang Vatikan, sebuah kawasan khusus di kota Roma. Sidang yang diketuai oleh Paus Urbanus VIII, pemimpin Gereja Katolik, pada 22 Juni 1633, akan memutuskan hukuman yang dijatuhkan kepada seorang ilmuwan berusia enam puluh sembilan tahun bernama Galileo Galilei. Jika saja pada saat itu orang-orang sudah menyadari bahwa yang menjadi pesakitan pada persidangan kali itu adalah seorang astronom besar yang meletakkan dasar untuk pandangan fisika modern tentang sistem tata surya, mungkin bukan hukuman penjara seumur hidup yang diputuskan.

Keputusan tersebut diambil karena Galileo dianggap membawa aliran sesat yang dianggap berbahaya bagi Gereja Katolik. Walaupun para uskup itu mengenal Galileo secara pribadi adalah seorang Katolik yang taat dan sama sekali bukan penganut ajaran reformasi. Astronom, filsuf dan fisikawan Italia itu meyakini bahwa bukan Bumi, melainkan matahari yang menjadi pusat tata surya. Keyakinannnya senada dengan apa yang diungkapkan oleh Baca lebih lanjut

Albert Einstein (1879-1955)

Einstein dan teori relativitas hadir pada saat yang tepat, jika dikaitkan dengan perkembangan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Ibaratnya pucuk di cinta, ulam pun tiba. Perkembangan yang dimaksud yaitu bangkitnya Jerman modern, kelahiran senjata-senjata nuklir, dan lahirnya Zionisme. Peristiwa tersebut memang lebih menjelaskan tentang perkembangan Jerman modern. Namun posisi Jerman pada saat itu sangat berperan dan turut mempengaruhi peradaban dunia yang tengah dilanda perang dunia kedua. Fakta ini penting untuk diketahui, karena kemunculan Einstein dan teori relativitasnya terasa begitu fenomenal. Jika saja teori relativitas muncul pada abad 20 ini, mungkin akan terjadi perbedaan yang begitu mendasar dan respon masyarakat akan menunjukan reaksi yang berbeda pula.

Beberapa hal yang menyinggung kehidupan pribadi Einstein juga perlu penulis ungkit. Sebagai sosok ilmuwan fenomenal, kehidupan dan kepribadian Einstein menjadi bagian yang menarik untuk diperbincangkan. Mungkin sampai saat ini hanya sosok seorang Einstein saja yang mampu menggangkat profil ilmuwan bak seorang selebritis dan publik figur. Baca lebih lanjut