PMR Buat Aku Lebih Keren Lo

Namaku Obi. Aku sekolah di SMP N 3 Mrebet. Sekolahku bukan sekolah kota. Namun berada persis di tengah-tengah sawah. Tepatnya berada di desa Cipaku. Sebuah desa yang subur, tenang dan nyaman. Sumber air di desaku sangat melimpah. Mungkin karena itulah, sawah-sawah di desaku tak pernah kering meski di musim kemarau seperti saat ini.

Saat ini aku berada di kelas delapan. Sebenarnya teman-teman kelasku tidak ada yang nakal, namun entah mengapa, aku tidak mudah akrab dengan mereka. Satu-satunya teman akrabku adalah Mela. Kebetulan selain satu kelas, Mela juga masih tetangga rumah. Jadi, kalau ada tugas kelompok biasanya aku selalu bersama Mela.

Mela adalah teman yang asyik. Orangnya selalu ceria dan pintar. Hampir setiap aku ada permasalahan, biasanya Mela bisa memberi solusi yang tepat. Mela beda dengan aku, temannya banyak. Hampir satu sekolah ini mengenal Mela. Mungkin seperti aku, teman-teman juga suka curhat ke Mela kalau ada masalah. Baca lebih lanjut

Bukan Sekadar Menghukum

MENGHADAPI polah tingkah anak-anak di kelas memang membutuhkan kesabaran. Seringkali, saya harus sering menahan amarah karenanya. Selalu saja ada kerepotan yang muncul dari canda, perkataan dan cara mereka bertindak. Kadang saya berpikir, mengapa mereka sering mempersulit diri sendiri? Sadarkah mereka bahwa hal itu sangat menyakitkan bagi guru. Dan akhirnya jawaban itu saya dapatkan setahun kemudian. Saat menatap seorang siswa yang terdiam seribu bahasa dengan selembar kertas hasil ujian di tangannya.

Celana panjang biru yang awalnya bagus, dia “dirapikan” dengan memotong bagian bawahnya hingga kelihatan mata kakinya. Padahal itu celana sekolahnya. Satun-satunya lagi. Saat diingatkan, dengan wajah tertunduk dimenjawabnya dengan anggukan kepala. Saya artikan bahwa dia memahami maksud saya.

Minggu berikutnya, gantian celana putih yang dia sulap menjadi model pensil. Padahal itu celana seragam untuk hari rabu dan kamis. Saya ingatkan lagi, dengan lebih keras. Jawabannya sama. Hanya saja, anggukan kepalanya kali ini lebih pelan.

Minggu berikutnya lagi, bukan model celana yang dia desain ulang, tetapi model rambutnya. Potongan rambutnya sebenarnya biasa saja, bahkan cenderung rapi. Tetapi warnanya itu. Berubah menjadi merah.

Kali ini saya tegur dengan lebih keras. Jawabannya bukan anggukan kepala lagi. Baca lebih lanjut

Buletin EspErO says edisi 3

Salam Redaksi,

cover ES_3HUKUMAN

Hukuman di sekolah jelas bukan bermaksud untuk menyakiti siswa, tetapi sebagai bentuk pembelajaran. Agar siswa lebih baik lagi. Tentu saja dengan jenis-jenis hukuman yang mendidik.

Setiap orang memiliki alasan tertentu untuk melakukan sesuatu. Misalnya, ikut lomba alasannya agar bisa dapat hadiah. Berangkat lebih pagi agar tidak dihukum karena terlambat.

Bicara masalah terlambat, kami akui tim Redaksi terlambat menerbitkan buletin edisi yang ketiga ini. Alasannya banyak, tapi kami tidak perlu mengungkapkannya.

Yang pasti, kami sudah menghukum diri kami sendiri dengan menyiapkan harga tertentu sebagai hadiah dari lomba menulis cerpen yang kami adakan. So, buat teman-teman yang hobi atau suka atau pingin atau sekadar ikutan juga tidak apa, gabung dan buatlah karya terbaikmu melalui tulisan. Tulisan mu adalah kisah mu J

Komunitas Film Pendek

Istilah “komunitas” berarti “sama” yang diambil dari kata communis dari bahasa Latin. Komunitas bisa dipahami sebagai sebuah kelompok yang para anggotanya memiliki aktivitas, ketertarikan, hobi, habitat atau sesuatu lain yang sama. Maka, komunitas film bisa berarti kelompok yang memiliki ketertarikan hingga keterlibatan dalam dunia film. Komunitas film yang dimaksud adalah bukan komunitas dalam bentuk perusahan atau organisasi komersial, tetapi organisasi atau kelompok penggiat film diluar jalur industri.

Belakangan ini kalangan muda, termasuk didalamnya para pelajar, semakin marak dalam membentuk komunitas-komunitas film, khususnya film independen atau film pendek. Dari kota-kota besar hingga tingkat kecamatan di daerah pinggiran bermunculan kumpulan anak muda yang menamakan diri sebagai komunitas film.

Di tingkat sekolah mulai bermunculan jurusan multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga ekstrakurikuler bidang multimedia, audio visual, broadcasting atau semacamnya. Hal yang sama lebih gencar terjadi di tingkat perguruan tinggi. Baca lebih lanjut

Pelajar dan Film Pendek

Dalam awal kemunculan film pendek, kota Jakarta memang bisa dikatakan sebagai gudangnya film pendek. Jakarta seolah-olah menjadi pusat perkembangan dan produksi film pendek di Indonesia. Tetapi saat ini keadaan sudah mulai berubah. Saat ini, Jakarta tidak bisa lagi memonopoli perkembangan film pendek di Indonesia. Banyak kota-kota kecil hingga daerah pedalaman yang mampu menghasilkan film-film pendek berkualitas. Bahkan beberapa film pendek yang menang dalam beberapa festival tingkat nasional bukanlah produksi sineas-sineas kota besar.

Perkembangan film pendek di daerah ternyata lebih banyak didominasi oleh kalangan pelajar. Terutama pelajar dari tingkat SMA sederajat hingga perguruan tinggi. Ratusan buah film pendek diproduksi setiap tahunnya oleh para generasi muda. Tiap-tiap dari mereka membawa semangat, minat dan warna tersendiri melalui film pendek yang dibuat.

Bagaimana dengan pelajar tingkat SMP? Ya, mereka juga sudah mulai bergerak dan menunjukkan kualitasnya. Kegiatan-kegiatan tentang pembelajaran produksi film melalui workshop, festival dan kompetisi khusus untuk anak-anak usia SMP sudah Baca lebih lanjut

Surat Terbuka untuk Peserta UN

Purbalingga, 05 April 2012 pukul 23.23

Kepada : Anak-anak bangsa yang sebentar lagi menghadapi UN

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Anakku…. Sebentar lagi perjuangan kalian akan mencapai titik puncaknya. UN sudah didepan mata. UN memang bukanlah segalanya, tetapi saat ini mungkin segalanya akan kurang lengkap tanpa kesuksesan UN. Karena itu berambisi-lah kalian untuk bisa lolos dari UN. Tapi tak perlu pula kalian menjadi ambisius yang bisa melakukan segala cara untuk kelulusan UN.

Satu hal menjadi musuh utama kalian saat UN sebenarnya bukanlah ketidakbisaanmu mengerjakan soal-soal Un, tetapi lebih pada nasfu menyontek.

Menyontek itu ibarat candu. Meski kau sebrilian Einstein, tetapi karena kau terbiasa menyontek, maka saat kesempatan itu ada, pasti kau akan menyontek. Kalau kau memiliki kesempatan menyontek, tetapi kau tidak melakukannya, maka ketahuilah dan bersyukurlah karena kau termasuk manusia langka saat ini.

Baca lebih lanjut