Komunitas Film Pendek

Istilah “komunitas” berarti “sama” yang diambil dari kata communis dari bahasa Latin. Komunitas bisa dipahami sebagai sebuah kelompok yang para anggotanya memiliki aktivitas, ketertarikan, hobi, habitat atau sesuatu lain yang sama. Maka, komunitas film bisa berarti kelompok yang memiliki ketertarikan hingga keterlibatan dalam dunia film. Komunitas film yang dimaksud adalah bukan komunitas dalam bentuk perusahan atau organisasi komersial, tetapi organisasi atau kelompok penggiat film diluar jalur industri.

Belakangan ini kalangan muda, termasuk didalamnya para pelajar, semakin marak dalam membentuk komunitas-komunitas film, khususnya film independen atau film pendek. Dari kota-kota besar hingga tingkat kecamatan di daerah pinggiran bermunculan kumpulan anak muda yang menamakan diri sebagai komunitas film.

Di tingkat sekolah mulai bermunculan jurusan multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga ekstrakurikuler bidang multimedia, audio visual, broadcasting atau semacamnya. Hal yang sama lebih gencar terjadi di tingkat perguruan tinggi. Baca lebih lanjut

Iklan

Pelajar dan Film Pendek

Dalam awal kemunculan film pendek, kota Jakarta memang bisa dikatakan sebagai gudangnya film pendek. Jakarta seolah-olah menjadi pusat perkembangan dan produksi film pendek di Indonesia. Tetapi saat ini keadaan sudah mulai berubah. Saat ini, Jakarta tidak bisa lagi memonopoli perkembangan film pendek di Indonesia. Banyak kota-kota kecil hingga daerah pedalaman yang mampu menghasilkan film-film pendek berkualitas. Bahkan beberapa film pendek yang menang dalam beberapa festival tingkat nasional bukanlah produksi sineas-sineas kota besar.

Perkembangan film pendek di daerah ternyata lebih banyak didominasi oleh kalangan pelajar. Terutama pelajar dari tingkat SMA sederajat hingga perguruan tinggi. Ratusan buah film pendek diproduksi setiap tahunnya oleh para generasi muda. Tiap-tiap dari mereka membawa semangat, minat dan warna tersendiri melalui film pendek yang dibuat.

Bagaimana dengan pelajar tingkat SMP? Ya, mereka juga sudah mulai bergerak dan menunjukkan kualitasnya. Kegiatan-kegiatan tentang pembelajaran produksi film melalui workshop, festival dan kompetisi khusus untuk anak-anak usia SMP sudah Baca lebih lanjut

Ada Waria di sekolahku

DIA teman satu meja dengan saya di SMP dulu. Selepas itu kami tak pernah bertemu lagi, kecuali di satu kesempatan. Untuk ukuran laki-laki, wajahnya bisa di kata cukup “cantik”. Postur tubuhnya kurus tinggi. Gerak geriknya lemah gemulai. Mimik bicara dan polah tingkahnya betul-betul mirip ekspresi seorang perempuan. Tapi saya tahu betul bahwa dia itu laki-laki. Hampir sebagian besar teman bermainnya adalah perempuan. Dan eloknya sepucuk surat cinta pernah diterimanya dari seorang teman perempuan yang  telah lama menaruh perasaan suka padanya.

KAMI, teman-temannya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan kepribadiannya. Tidak ada rasa canggung saat berdekatan dengannya. Dan dia juga sepertinya menikmati apa yang melekat pada dirinya. Saat yang menakutkan baginya adalah saat pelajaran olah raga. Maklum dengan polah kemayu-nya, tentu menjadi semacam hiburan bagi kami saat melihatnya berolahraga. Lucu dan menjadi sebuah tontonan yang sangat menyenangkan.

Hampir sepuluh tahun setelah kelulusan sekolah kami tak saling bertemu. Kami melanjutkan studi tanpa saling komunikasi. Hingga saat tak sengaja kulihat dia berjalan di sepanjang trotoar sendirian. Dan sungguh mengejutkan, Baca lebih lanjut