Piknik Bareng ESPERO ke Djogdja

pantai

Salam Espero sahabat semua. Espero adalah SMP Negeri 2 Pulosari, Pemalang, Jateng. Sebuah sekolah pinggiran di lereng Eyang (Gunung) Slamet yang meski pinggiran, tetapi prestasi selalu terdepan.

Tahun 2013 ini rombongan ESPERO, sebanyak 275 siswa tingkat VIII dengan 20 guru pendamping, menyambutnya dengan acara PIKNIK ke kota wisata Djogdja. Pemilihan tanggal 27 April sebagai waktu yang tepat untuk kegiatan studi tour tahunan siswa Espero karena satu alasan utama, yakni biar lebih leluasa di lokasi wisata. Maklum, bulan April ini kan bertepatan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) SMP tahun 2013 yang dilaksanakan kemarin tanggal 22 s.d 25 April 2013. Asumsinya sekolah-sekolah belum menyelenggarakan study tour karena (mungkin) kesibukan penyelenggaraan UN. Dan… apa yang terjadi…. ternyata semua serba meleset set set….

Ternyata memang animo pelajar untuk study tour ke Jogja tidak mengenal waktu. Buktinya, di hampir semua lokasi wisata yang disinggahi Espero ternyata penuh sesak dengan pelajar dari sekolah lain yang sama-sama study tour dan (mungkin pula) sama-sama punya asumsi kayak Espero hehehee… Namun tak apalah… the show must goon!!! Atau singkatnya… Lanjuuu…ttt! Baca lebih lanjut

Iklan

Rindu Jogja

jokjadulu1

Enam tahun lamanya meninggalkan Yogyakarta alias Jogja sejak tahun 2007, ternyata tak bisa menghapus kenanganku terhadap kota itu. Terkadang, demi melepas rinduku dengan Jogja, aku mencari-cari alasan agar bisa mengunjungi Jogja. Entah sekadar lewat demi merasakan hiruk pikuk Jogja, hinggap sejenak di warung angkringan, jalan-jalan di Malioboro, hingga mendengarkan debur ombak pantai Parangtritis.

Delapan tahun tinggal di Jogja ternyata terasa begitu membekas. Rasa-rasanya hingga saat ini masih merasakan diri sebagai orang Jogja. Segala berita yang menyangkut soal Jogja, langsung terekam. Aksesoris-aksesoris seperti kaos, dompet, hingga sepatu ala Jogja pasti langsung tertarik. Ada teman atau saudara hendak pergi ke Jogja, pasti nitip belanjaan khas Jogja. Sampai-sampai begitu tahu ada kenalan baru pulang dari Jogja mesti diburu. Siapa tahu bawa oleh-oleh khas Jogja. Lumayan, bisa sekadar mengobati rasa rinduku dengan Jogja.

Masa-masa tinggal di Jogja ibarat masa perjuangan. Perjuangan mencari jati diri, mengenal kawan dan persaudaraan, pengalaman, ketrampilan, prinsip hidup hingga pasangan hidup. Awal-awal tinggal di Jogja, berbagai cara aku tempuh demi mengenal Jogja. Seringkali dengan sengaja aku menyusuri gang-gang sempit di sekitar kota Jogja. Memahami dan mencoba bertutur ala dialek Jogja. Mencicipi berbagai sajian khas Jogja yang seumur-umur baru aku rasakan. Mengunjungi berbagai perayaan adat di Jogja. Keluar masuk mall-mall meski tak bawa uang receh sekalipun. Begadang di angkringan Malioboro hingga pagi hari sampai masuk angin. Menembus mitos pohon beringin kembar di alun-alun Utara dengan mata tertutup. Hingga mencoba peruntungan usaha dengan berjualan es di depan pasar Bering Harjo. Baca lebih lanjut

Enaknya kos Gratis di Masjid Jogja

Mencari tempat kos itu gampang-gampang susah. Kalo kebetulan teman-teman kosnya enakan, ya pasti bikin betah. Nah kalo sebaliknya, bisa cuma numpang lewat hehe… Kos juga bisa merubah kepribadian dan perilaku kita. Intinya, kita akan menjadi lebih baik jika lingkungan kita baik dan akan bertambah buruk jika lingkungan kita memang berpotensi membawa kita ke arah yang lebih buruk.

Sering kita dengar, seorang mahasiwa yang kedapatan ngedrugs, kumpul kebo, suka miras, kecanduan dll. Padahal dulunya, sebelum jadi mahasiswa, anaknya kalem, lembut, taat ibadah dll. Pokoknya tipe anak muda soleh dan solehah lah. Itu mungkin salah satunya disebabkan lingkungan dimana dia kos.

Fenomena kos campur (laki-laki dan perempuan satu rumah) sudah mulai merambah kota-kota pelajar. Asyik memang secara sekilas Baca lebih lanjut

Seninya Kuliah di Jogja

Sebagai seorang alumni SMA yang sedang mencari cita-cita, Jogja saya datangi sendirian meski untuk yang pertama kali. Mau ajak teman, tak ada yang berkenan. Mau ajak orang tua, malu rasanya. Akhirnya meski deg-degan, akhirnya sampai juga langkah kaki ini ke Jogja. Peristiwa ini terjadi dulu pas setahun menjelang reformasi.

Bekal ke Jogja tak banyak. Pengalaman tak ada. Maklum ini kota pertama terjauh yang saya datangi sendirian. Bekal duit juga seadanya. Maklum pula, saat itu dana musti berhemat demi bisa membayar uang masuk kuliah. Satu-satunya bekal yang cukup ampuh saat itu adalah catatan no bus yang harus dinaiki begitu sampai terminal Jogja. Bus itu menuju ke suatu daerah dimana kakak saya sudah setahun menempatinya.

Kesan pertama begitu sampai Jogja adalah dinamis. Maksudnya ramai, sibuk, terus bergerak dan muda. Baca lebih lanjut

Jogja memang selalu merindu

Yogyakarta alias Jogja, memang pantas dirindukan. Monjali (monumen Jogja kembali), Benteng Vredeburg, Taman Pintar, Keraton, Prambanan, Paris, Malioboro hingga Alkid (Alun-alun kidul) adalah tempat tongkrongan semasa kuliah dulu. Tak perlu harus berdompet tebal untuk bisa menikmati sore indah di Jogja. Cukup bensin secukupnya plus receh buat parkir tentunya dan map. Ya, awal-awal ke Jogja peta memang perlu. Maklum, di Jogja itu sebentar-sebentar lampu bangjo. Baru lima menit jalan, eh… ketemu perempatan. Tapi, itulah seninya hidup di Jogja. Siap antri, siap bensin, siap peta, siap bahasa Jawa dan siap receh.

Delapan tahun tinggal di Jogja sejak tahun 2007 berlalu tak terasa. Hampir lima tahun pula meninggalkan Jogja, terasa baru kemarin. Pas pagi-pagi, kadang masih mencium aroma segar soto Jogja masuk melalui lubang pintu kamar kos. Minggu pagi menjadi waktu untuk antri soto jogja belakang hotel Saphir. Maklum, dulu saya pernah kos di hotel Saphir Jogja yang di jalan solo itu. Tepatnya di lantai dua, Baca lebih lanjut

UGM Universitas Populer di Indonesia

Membicarakan masalah universitas, seperti membuka kenangan masa lalu saat masih kuliah di Jogja. Masa-masa yang penuh dinamisasi hidup. Meraba masa depan dengan bergelut kerasnya persaingan saat itu. Ada suka dan tentu saja ada duka. Memancing otak membuka lagi obrolan dengan teman di warung angkringan tentang universitas terpopuler di Indonesia. Bukan pembicaraan serius sebenarnya, tetapi karena menyangkut nama baik dan almamater, tentu saja pujian dan sanggahan saling mewarnai diskusi ala nasi kucing pada waktu itu. Nah, yang sedikit di bawah ini bisa dikatakan intisari dari obrolan kami. Tak perlu tersinggung kalau merasa dibanding-bandingkan. Tak perlu juga merasa di atas angin kalau dipuji-puji. Semua ini boleh dianggap sekadar ngemeng-ngemeng (kata mas tukul maksudnya ngomong-ngomong) atau sekadar info dan masukan buat adik-adikku calon mahasiswa. Baca lebih lanjut