Bukan Sekadar Menghukum

MENGHADAPI polah tingkah anak-anak di kelas memang membutuhkan kesabaran. Seringkali, saya harus sering menahan amarah karenanya. Selalu saja ada kerepotan yang muncul dari canda, perkataan dan cara mereka bertindak. Kadang saya berpikir, mengapa mereka sering mempersulit diri sendiri? Sadarkah mereka bahwa hal itu sangat menyakitkan bagi guru. Dan akhirnya jawaban itu saya dapatkan setahun kemudian. Saat menatap seorang siswa yang terdiam seribu bahasa dengan selembar kertas hasil ujian di tangannya.

Celana panjang biru yang awalnya bagus, dia “dirapikan” dengan memotong bagian bawahnya hingga kelihatan mata kakinya. Padahal itu celana sekolahnya. Satun-satunya lagi. Saat diingatkan, dengan wajah tertunduk dimenjawabnya dengan anggukan kepala. Saya artikan bahwa dia memahami maksud saya.

Minggu berikutnya, gantian celana putih yang dia sulap menjadi model pensil. Padahal itu celana seragam untuk hari rabu dan kamis. Saya ingatkan lagi, dengan lebih keras. Jawabannya sama. Hanya saja, anggukan kepalanya kali ini lebih pelan.

Minggu berikutnya lagi, bukan model celana yang dia desain ulang, tetapi model rambutnya. Potongan rambutnya sebenarnya biasa saja, bahkan cenderung rapi. Tetapi warnanya itu. Berubah menjadi merah.

Kali ini saya tegur dengan lebih keras. Jawabannya bukan anggukan kepala lagi. Tetapi ada kata-kata keluar dari mulutnya.

“Bukan disemir pak. Tetapi memang begitu warna rambut saya”, jawabnya mencoba berkilah

Bulan berikutnya bukan teguran lagi, namun sudah tindakan. Terpaksa saya menjelma menjadi tukang cukur dadakan. Tanpa gunting yang memadai dan sisir, saya babat habis rambut merah yang menghiasi kepalanya itu.

Dia pulang tanpa ekspresi. Seperti tidak ada kejadian apa-apa. Besoknya anak ini absen tanpa ada keterangan. Dan ketidakhadirannya berulang hingga seminggu.

Bagi saya, ketidakhadirannya tidak menjadi begitu penting. Masih banyak anak-anak lain yang harus saya bina dan didik. Dan lambat laun peristiwa itu berlalu tanpa ada kesan. Terlupakan begitu saja. Karena ada peristiwa lain yang jauh lebih gaduh.

Kisahnya terjadi saat jam pertama awal pelajaran. Di saat semangat masih memuncak, energi masih penuh dan kicauan burung masih mewarnai suasana kelas.

Namun semua kenyamanan itu langsung sirna, saat mendapati kenyataan bahwa tugas rumah yang saya berikan kepada mereka minggu lalu, ternyata tidak ada satu pun satu siswa yang mengerjakan. Sama sekali tidak disentuh. Meski hanya tugas sederhana saja, mengerjakan beberapa soal yang terdapat di buku lembar kegiatan siswa (LKS).

Saat ditanya mengapa, jawabannya ringan saja, lupa dan tidak bisa. Saat diperiksa buku tugas mereka, coretan-coretan itu sama sekali tidak menyiratkan ada usaha sama sekali untuk mencoba mengerjakannya. Dan yang semakin membuat darah ini mendidih, adalah senyuman tanpa bersalah itu!

Keceriaan pagi yang biasanya saya dapatkan di kelas itu sirna sudah. Permasalahan “kecil” tersebut benar-benar membuat saya tersinggung. Apa yang terlintas dalam benak saya saat itu adalah betapa buruknya sikap mereka. Rasa-rasanya saya sangat berhak untuk marah pagi itu.

Dan sebagai pelampiasannya, saya meninggalkan kelas itu dengan perasaan tak menentu. Meninggalkan hak mereka untuk saya dampingi sekaligus mengingkari kewajiban profesi saya. Apa boleh buat, guru juga manusia.

Hari berganti hari. Waktu akhirnya memaksa saya melupakan peristiwa itu. Semua kembali berjalan normal. Hingga suatu hari, wajah iba itu seolah menengur hati saya. Mengingatkan kembali amarah-amarah saya kepadanya. Karena celana model pensil, rambut disemir, tugas yang tak dikerjakan dan seribu alasan lain untuk amarah saya.

Pemilik wajah iba itu semua mengenalnya. Bagi saya, dia lah biang kerok dari semua kekesalan saya selama ini.

Menatap wajahnya saja, mungkin sungkan. Apalagi mendampinginya, mengajarinya dan mendidiknya.

Namun, hari pengumuman kelulusan ini membuat semuanya tampak berbeda. Terutama si biang kerok itu. Saya lama menatapnya. Kedua matanya sayu dan perlahan mengeluarkan tetesan air. Ya, dia menangis.

Biang kerok itu begitu kerdil saat itu. Badannya yang kekar, nampak tidak seimbang dengan pancaran wajahnya yang lesu.

Tanpa banyak kata-kata, dia segera beringsut meninggalkan kelas. Di kursi yang dia duduki, terselip selembar kertas. Mungkin tertinggal atau sengaja ditinggalkan. Tertulis dengan sangat jelas kata-kata TIDAK LULUS. Dua buah kata yang sederhana namun sangat menyeramkan. Yang bisa membuat si biang kerok langsung terisak di kelas.

Sontak saya kembali teringat berbagai amarah dan hukuman yang pernah saya lakukan terhadapnya. Hari pengumuman kelulusan itu membuat cara pandang saya langsung berubah. Amarah itu menjadi empati. Bahkan muncul rasa penyesalan.

Sejak hari itu, saya jadi sering merenung. Ketidaklulusannya memang tidak merugikan saya secara pribadi, namun mengusik hati kecil saya. Saya mencoba keras untuk mengingat kembali seperti apa amarah saya waktu itu. Kata-kata apa yang terucap. Dan doa spontan apa yang terlintas di pikiran saya.

Jangan-jangan, justru sayalah penyumbang atas ketidaklulusan dia. Amarah saya waktu itu bisa jadi membuat saya buta. Mendoakan yang tidak baik terhadapnya.

Mungkin saat itu saya mengeluh dan mengumpat karena kesal. Dan amarah itu telah menjelma menjadi doa buruk bagi dia. Bisa jadi, itulah cara Tuhan menjawab doa “tidak sengaja” yang saya panjatkan tatkala emosi memuncak karena kenakalan mereka. Jika benar demikian, berarti si biang kerok itu sesungguhnya mungkin justru saya.

Hari kelulusan itu memberi pelajaran berarti untuk saya. Untuk bisa mengendalikan amarah dan kata-kata. Jangan sampai ketika saya sibuk menanamkan karakter baik pada anak-anak, justru saya sendiri lupa untuk juga berkarakter baik.

Suatu saat, ketika amarah ini kembali memuncak karena ulah anak-anak, saya akan mencoba memahami karena bagaimana pun mereka hanyalah anak-anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s