IPA TERPADU atau GURU TERPADU

Konsep IPA Terpadu masih banyak di salah artikan oleh sebagian besar orang, bahkan guru yang sudah (merasa) menjalaninya. Para guru SMP mapel Fisika yang juga mengajar Biologi atau sebaliknya, merasa bahwa itulah yang dimaksud dengan pengajaran IPA TERPADU. Meski sebenarnya itu lebih pas jika dikatakan sebagai pengajaran GURU TERPADU.

Saya mencoba untuk membandingkan antara konsep IPA TERPADU dengan apa yang selama ini diterapkan, dan (maaf) saya katakan sebagai GURU TERPADU.

Tinjuan Aspek Guru
Selama ini obyek pelaksana adalah guru. Maksudnya si guru mapel Fisika sekaligus mengajar mapel Biologi atau sebaliknya. Bukankah itu yang dimaksud dengan GURU TERPADU. Satu orang guru mengajar beberapa mapel.

Proses pembelajaran di bagi berdasarkan jam. Misalnya jam 1,2 pelajaran biologi, lalu jam 3,4 tentang fisika. Atau berdasarkan hari, misanya, hari senin 2 jam digunakan untuk membahas fisika. Lalu pertemuan hari berikutnya 2 jam untuk membahas biologi. Sisanya 1 jam untuk kimia.

Kalau untuk yang model begini, saya kira bukan yang dimaksud dengan keterpaduan IPA. Model yang begini Baca lebih lanjut

Iklan

Relativitas Ruang dan Waktu

Menurut teori relativitas, ruang dan waktu adalah suatu sistem yang terpadu dan mengubah gagasan ruang dan waktu sebagai suatu entitas yang berbeda. Ruang dan waktu dapat berubah dari sistem inertial yang satu ke sistem inestial yang lain. Sehingga ruang dan waktu akan bersifat relatif terhadap seorang pengamat yang melakukan pengamatan.

Sifat relatif ruang dan waktu dipengaruhi oleh gerak yang relatif. Waktu tidak dapat dipisahkan dengan gerak, sebagaimana halnya juga dengan ruang. Suatu gerak relatif yang mendekati kecepatan cahaya akan mempengaruhi observasi bagi seorang pengamat di mana mereka akan mencatat waktu yang berbeda. Implikasinya adalah semakin cepat suatu obyek bergerak, maka akan dicatat waktu yang pendek, atau waktu akan bergerak lebih lambat dibandingkan dengan obyek diam relatif. Suatu arloji yang jarumnya bergerak tampaknya berjalan lambat, bila dibandingkan dengan arloji yang sama dalam keadaan diam relatif. Perlambatan arloji itu akan semakin besar jika obyek bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Baca lebih lanjut

Sains vs Agama

KEJADIAN ini dialami oleh Galileo Galilei. Hidupnya saat itu bagaikan telur di ujung tanduk. Ketukan palu Paus Urbanus VIII, pemimpin Gereja Katolik pada April tahun 1663, telah menjatuhkan sanksi hukuman seumur hidup bagi ilmuwan astronomi itu. Galileo beruntung karena terhindar dari hukuman mati, sebagaimana bentuk hukuman bagi siapa saja yang mengancam kewibawaan gereja katolik. Pokok permasalahannya dianggap menyangkut martabat gereja yang harus di junjung oleh siapapun, bahkan seandainya pun tidak benar. Galileo yang menyakini bahwa matahari adalah pusat semesta, telah membangkitkan amarah pimpinan gereja yang berkeyakinan bumi lah pusat semesta. Vonis tersebut tidak bisa ditawar-tawar lagi, meskipun Galileo dikenal sebagai katolik yang taat dan sama sekali bukan penganut ajaran reformasi sebagaimana yang dituduhkan.

Keputusan yang dikeluarkan di Vatikan, oleh badan inkuisisi gereja pada kakek renta itu sebenarnya bukanlah yang pertama. Tiga puluh tahun sebelumnya, seorang ahli filsafat Giordano Bruno juga dianggap sesat dan dijatuhi hukuman mati. Tragis dan menyisakan dendam yang tak berkesudahan bahkan hingga kini. Baca lebih lanjut

Galileo Galilei (1564-1642)

Perjalanan nasib Galileo pada saat itu tergantung hasil keputusan pengadilan yang berlangsung di ruang sidang Vatikan, sebuah kawasan khusus di kota Roma. Sidang yang diketuai oleh Paus Urbanus VIII, pemimpin Gereja Katolik, pada 22 Juni 1633, akan memutuskan hukuman yang dijatuhkan kepada seorang ilmuwan berusia enam puluh sembilan tahun bernama Galileo Galilei. Jika saja pada saat itu orang-orang sudah menyadari bahwa yang menjadi pesakitan pada persidangan kali itu adalah seorang astronom besar yang meletakkan dasar untuk pandangan fisika modern tentang sistem tata surya, mungkin bukan hukuman penjara seumur hidup yang diputuskan.

Keputusan tersebut diambil karena Galileo dianggap membawa aliran sesat yang dianggap berbahaya bagi Gereja Katolik. Walaupun para uskup itu mengenal Galileo secara pribadi adalah seorang Katolik yang taat dan sama sekali bukan penganut ajaran reformasi. Astronom, filsuf dan fisikawan Italia itu meyakini bahwa bukan Bumi, melainkan matahari yang menjadi pusat tata surya. Keyakinannnya senada dengan apa yang diungkapkan oleh Baca lebih lanjut