PMR Buat Aku Lebih Keren Lo

Namaku Obi. Aku sekolah di SMP N 3 Mrebet. Sekolahku bukan sekolah kota. Namun berada persis di tengah-tengah sawah. Tepatnya berada di desa Cipaku. Sebuah desa yang subur, tenang dan nyaman. Sumber air di desaku sangat melimpah. Mungkin karena itulah, sawah-sawah di desaku tak pernah kering meski di musim kemarau seperti saat ini.

Saat ini aku berada di kelas delapan. Sebenarnya teman-teman kelasku tidak ada yang nakal, namun entah mengapa, aku tidak mudah akrab dengan mereka. Satu-satunya teman akrabku adalah Mela. Kebetulan selain satu kelas, Mela juga masih tetangga rumah. Jadi, kalau ada tugas kelompok biasanya aku selalu bersama Mela.

Mela adalah teman yang asyik. Orangnya selalu ceria dan pintar. Hampir setiap aku ada permasalahan, biasanya Mela bisa memberi solusi yang tepat. Mela beda dengan aku, temannya banyak. Hampir satu sekolah ini mengenal Mela. Mungkin seperti aku, teman-teman juga suka curhat ke Mela kalau ada masalah.

Bila dibandingkan dengan Mela, aku seperti belum ada apa-apanya. Aku sering kesulitan jika berkenalan dengan teman baru. Biasanya kalau waktu istirahat, aku sering di kelas. Aku hanya keluar kelas kalau diajak sama Mela. Kata Mela aku itu orangnya minder. Aku harus banyak bergaul bila mau punya teman banyak. Kata-kata Mela ada banyak benarnya. Namun rasanya susah sekali untuk seperti Mela.

Suatu hari, sekolah seperti biasa mengadakan upacara bendera rutin tiap hari senin. Pagi itu aku berangkat tergesa-gesa dengan Mela. Waktu yang tinggal lima menit lagi bel sekolah berbunyi, sementara aku dan Mela masih baru berangkat. Sekilas aku perhatikan wajah Mela tampak tidak ceria seperti biasa. Wajahnya kelihatan pucat dan tidak ceria. Namun semua itu aku abaikan. Maklum aku harus segera sampai di sekolah agar tidak terkena hukuman karena terlambat mengikuti upacara.

Dengan setengah berlari, akhirnya aku dan Mela sampai juga di sekolah dan bertepatan dengan bel upacara bendera berbunyi. Dan seperti biasa aku dan Mela masuk ikut barisan di kelas kami. Upacara berjalan lancar dan penuh hikmat, hingga dengan mata kepala sendiri aku melihat tubuh Mela bergerak-gerak lemah lalu perlahan jatuh. Aku dan teman-teman kaget menyadari ternyata Mela jatuh pingsan. Untung saja tubuh Mela sempat ditahan oleh teman di belakang barisannya sehingga tidak jatuh ke lantai.

Upacara yang awalnya hikmat, mendadak berubah heboh. Beberapa guru tampak berlari menuju barisan kelasku. Teman-temanku juga tampak sigap segera mengangkat tubuh Mela dan segera melarikannya ke ruang UKS. Suasana upacara yang mendadak heboh, perlahan mulai kembali normal. Protokol mulai melanjutkan rangkaian kegiatan upacara yang sempat terhenti sesaat tadi.

Sedangkan aku, masih tegang dan tak bergerak. Aku sama sekali tak berdaya saat melihat tubuh sahabatku pingsan dan butuh pertolongan. Padahal aku berdiri tidak jauh dari posisi berdiri Mela. Mela juga sahabat terbaikku. Seharusnya aku ikut membantu Mela. Bukankah membantu sahabat dikala membutuhkan merupakan suatu keharusan. Sesuatu yang selalu Mela lakukan saat aku membutuhkan bantuannya.

Kejadian pada saat upacara hari itu begitu membekas di benakku. Aku mulai merenung dan berpikir, bagaimana bisa merubah sikapku? Bagaimana caranya agar aku tidak minder lagi? Dan bagaimana caranya supaya aku memiliki banyak teman?

Dan perlahan dan pasti ketiga pertanyaan itu mulai terjawab. Ya, mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolahku merupakan jawaban terbaik. Sudah lama aku perhatikan teman-temanku yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di sekolah tampak lebih percaya diri. Mereka mudah bergaul dan suka menolong. Termasuk menolong Mela saat pingsan saat upacara kemarin.

Seminggu setelah kejadian Mela pingsan, aku mulai bergabung di dalam kegiatan PMR di sekolahku. Kegiatannya berlangsung rutin sekali selama seminggu. Terkadang bisa dua kali atau tiga kali seminggu kalau ada kegiatan tertentu. Awal-awal aku ikut kegiatan latihan PMR sebenarnya masih bingung. Namun lama-lama aku mulai memahami kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di kegiatan ini.

Aku juga mulai memahami dan belajar mempraktekkan tentang tribakti PMR, yaitu berbakti kepada masyarakat, mempertinggi ketrampilan serta memelihara kebersihan dan kesehatan serta mempererat persahabatan nasional dan internasional.

Melalui kegiatan-kegiatan di PMR, aku belajar untuk percaya diri dalam berkomunikasi dengan teman dan bahkan dengan guru. Saat ini, aku sudah tidak canggung lagi untuk memulai berkenalan dengan teman yang baru pertama kali bertemu. Teman-temanku semakin banyak dan bahkan bukan hanya berasal dari SMP N 3 Mrebet saja.

Salah satu pengalaman yang mengesankan selama mengikuti kegiatan PMR di sekolahku adalah saat hari pertama aku bergabung. Saat itu aku diberi tugas untuk berkenalan dengan beberapa teman yang sebelumnya belum aku kenal. Setelah berkenalan aku juga diharuskan untuk membantu kenalan baruku itu. Kata kakak seniorku, tujuannya adalah untuk melatih mental dan menerapkan salah satu tribakti PMR yang berkaitan dengan mempererat persahabatan nasional dan internasional.

Awalnya aku sangat bingung. Bagaimana cara memulai perkenalan dengan teman yang sebelumnya belum pernah bertegur sapa? Apalagi diminta untuk membantu apa yang sedang mereka kerjakan saat itu. Namun akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan beberapa anak yang sedang menghias tempat pajangan buku.

Saat itu hari jumat, bertepatan dengan kegiatan bersih-bersih kelas. Dengan disaksikan kakak senior PMR aku mencoba untuk berkenalan dengan anak-anak kelas sembilan atau satu tingkat di atasku. Setelah menyapa mereka dan menawarkan bantuan, ternyata mereka sangat antusias dan sangat menerimaku. Akhirnya, dengan semangat aku membantu mereka sampai kegiatan mereka usai. Awalnya aku yang tegang saat berkenalan, lambat laun mulai tenang dan bahkan senang. Bahkan hingga saat ini, aku masih berteman dekat dengan mereka.

Ternyata memiliki teman baru itu sangat menyenangkan. Selain itu, menjadi suatu tantangan sendiri saat mengajak orang lain untuk berkenalan. Sejak pengalaman yang mengesankan itu, aku mulai semakin percaya diri. Saat jam istirahat yang biasanya aku habiskan hanya di kelas, sekarang beda lagi acaranya. Kantin, perpustakaan, lapangan dan bahkan ruang guru menjadi tempat singgahku saat jam istirahat.

Dengan mengikuti kegiatan esktrakurikuler PMR aku merasa lebih baik karena bisa menolong orang lain. Seperti senin kemarin, aku bukan hanya berbaris sebagai peserta upacara, namun juga sebagai petugas upacara. Tugasku adalah mengamankan dan merawat peserta upacara yang kurang sehat atau bahkan pingsan. Dan bersama teman-teman PMR lain yang bertugas, aku membantu beberapa teman yang hampir pingsan karena kurang sehat.

Sampai saat ini, aku sangat bangga bisa berdiri di belakang barisan dan siap membantu teman-teman yang membutuhkan bantuan saat upacara berlangsung. Dan semua itu atas nasihat dari Mela saat aku mengungjunginya di ruang UKS setelah siuman dari pingsan waktu itu. Kata Mela, aku tambah keren sejak bergabung di kegiatan PMR. Aku hanya tersenyum bangga saat Mela memujiku. Memang PMR buat aku keren lo… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s