Cerpen : Jejak Kaki di Tembok Gudang Sekolah

Pagi itu, SD Negeri 2 Gemah Ripah mendadak gempar. Hampir semua guru dan siswa berkumpul di gudang belakang sekolah. Suasana pagi yang biasanya sepi dan dingin, hari ini terasa lain, ramai dan tegang.

Hampir semua siswa dan guru sudah hadir di sekolah. Waktu juga sudah menunjukkan jam tujuh lewat. Bel tanda masuk pelajaran pertama pun sudah berdentang lama, tetapi kerumunan itu tak juga usai. Mereka seperti enggan beranjak dari tempat itu. Bahkan nyaris setiap kelas kosong tak berpenghuni. Semua masih saling berkumpul di luar kelas. Semakin ke area belakang sekolah, kumpulan semakin ramai.

Mereka nampak saling berdiskusi namun setengah berbisik. Raut wajah mereka semua nampak tegang dan penasaran. Semua itu karena sebuah keanehan yang muncul secara tiba-tiba di tembok gudang belakang sekolah. Bagunan tua itu saat ini menjadi pusat perhatian. Padahal kemarin siang, keanehan itu muncul.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, namun kerumunan itu tak juga bubar. Dari arah gerbang sekolah, nampak kepala sekolah jalan bergegas. Beliau didampingi oleh beberapa petugas polisi dengan seragam coklat dan senjata api yang nampak di genggaman. Di belakang mereka, bunyi sirine mobil patroli masih meraung-raung dengan kerasnya. Nampak sekali ada situasi genting yang sedang terjadi.

Dari arah belakang terlihat seseorang pria berlari membawa kamera besar. Disampingnya seorang perempuan berjalan dengan cepat sambil membawa buku kecil. Sesaat keduanya berhenti sambil melihat sekeliling lalu berjalan lagi mengikuti rombongan kepala sekolah dan polisi tadi.

Begitu sampai di kerumanan di belakang sekolah, dengan suara lantang bapak kepala sekolah berseru.

“Anak-anak!! ayo…! ayo…! semua masuk ke dalam kelas. Biar urusan yang di gudang sekolah kita ditangani oleh bapak-bapak polisi ini”, seru bapak kepala sekolah

“Bapak dan ibu guru, mohon bisa mengarahkan anak-anak kita untuk segera masuk ke kelas…” begitu pinta bapak kepala sekolah sambil berusaha membubarkan kerumunan tersebut untuk memberi jalan polisi-polisi masuk ke dalam gudang sekolah tersebut.

Anak-anak nampak enggan beranjak dari kerumunan itu. Nampaknya rasa penasaran masih membuat mereka mematung di tempat. Meski begitu, mereka segera bergeser saat rombongan polisi melewati mereka.

Akhirnya, meski masih diliputi rasa penasaran, anak-anak pun satu per satu mulai meninggalkan kerumunan dan menuju ke kelas masing-masing dengan didampingi oleh guru masing-masing. Beberapa guru masih berdiri dan membantu polisi untuk mengamankan lokasi. Sementara itu beberapa orang sudah mulai mengambil foto-foto di lokasi tersebut.

Beberapa saat kemudian, para polisi nampak mendekati benda itu sambil mengamati dengan serius. Benda itu nampak seperti lelehan yang menempel di tembok sekolah. Lelehan itu berwarna hitam pekat. Berbau menyengat. Membentuk pola-pola unik yang besar. Dan keberadaanya menyapu seluruh ruang gudang yang biasanya rapi menjadi sangat berantakan.

Lelehan-lelehan itu seperti membentuk pola kaki yang berukuran raksasa. Namun bentuknya memang aneh. Tidak seperti kaki manusia atau hewan. Masih tercium aroma asap yang semakin membuat suasana gudang semakin mencekam.

********

“Ton, menurut kamu, tadi itu apa ya…???”, bisik Udin sambil mencolek Tono yang duduk di sebelahnya.

“Aduh… aku juga tidak tahu. Tapi kayaknya sih, yang pernah ada di TV itu lo…!”, Tono menimpali pertanyaan Udin.

“Maksud kamu apa Ton?! Di TV yang mana? Kapan?”, Udin semakin penasaran

“Itu lo, kayak yang ada di film-film. Aku sih tak paham maksudnya. Tapi kayaknya ya itu…”,Tono berkata-kata sambil memandang langit-langit ruangan, seolah-olah sedang berpikir keras.

“Ah, itu-itu apaan sih! Udah lah. Sok tahu kamu!!”, Udin berkata demikian sambil menggeser posisi duduknya.

Sebenarnya Udin, Tono dan hampir semua teman-temannya saat itu sama sekali tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru mereka yang sedang menerangkan di depan kelas. Apa yang ada di pikiran mereka masih tertuju pada benda hitam aneh yang terdapat di tembok gudang sekolah itu.

Pak Hasibuan, guru matematika yang sedang mengajar Udin dan Tono pagi itu juga nampak tak konsentrasi. Sesekali pak guru keluar kelas sambil meninggalkan tugas untuk dikerjakan siswa. Namun sesaat kemudian kembali lagi ke kelas. Begitu seterusnya sampai bel pelajaran selesai berbunyi.

Di ruang guru, meski hanya terdiri dari beberapa orang guru saja, namun obrolan mereka tak kalah ramai. Mereka nampak saling menduga-duga tentang keanehan yang terjadi di gudang sekolah. Beberapa spekulasi dan teori mereka sampaikan demi mendapatkan penjelasan yang logis atas keanehan itu.

Sedangkan suasana di belakang gudang sekolah tak kalah seriusnya. Beberapa polisi dan guru masih sibuk saling berdiskusi sambil memandangi obyek hitam aneh itu. Rasa heran dan ngeri bisa terpancar dari wajah tegang mereka. Mereka saling menduga-duga dan menyampaikan argumennya.

“Dalam hal ini, kami hanya mendokumentasikan dulu benda ini. Kami belum bisa menyimpulkan apakah benda ini berbahaya atau tidak. Kami juga sedang memanggil tim forensik untuk meneliti lebih jauh. Selama ini, jujur saya memang belum pernah menangani peristiwa ini”, begitu kata salah seorang polisi yang mencoba menyampaikan kesimpulannya. Sepertinya, polisi ini adalah pimpinan diantara para polisi yang ada di situ.

“Untuk sementara lokasi ini kami beri garis pembatas dulu. Mohon nanti bisa disampaikan ke semua penghuni sekolah ini agar tidak menerobos masuk ke dalam sini dulu. Kami akan kerahkan tim forensik kami untuk mengolah tempat ini lebih dalam. Dan kemungkinan, beberapa jam lagi mereka sampai”, begitu pesan polisi tersebut kepada bapak kepala sekolah.

Bapak kepala sekolah hanya bisa mengangguk. Meskipun rasa khawatir masih belum sirna, beliau mencoba untuk lebih tenang. Lantas beliau dan beberapa polisi akhirnya meninggalkan lokasi itu menuju ke ruang lobi sekolah. Hanya ada dua orang polisi yang masih berjaga-jaga di tempat tersebut.

********

Sementara suasana di sekolah masih tegang, Pak Sardi salah seorang penjaga malam sekolah masih terbaring di ranjangnya berselimutkan kain sarung. Tak seperti biasanya, Pak Sardi bergegas pulang pagi itu sebelum siswa dan guru hadir di sekolah. Badan Pak Sardi menggigil kedinginan dan batuk-batuk. Biasanya kalau sudah begini, biasanya Pak Sardi sedang masuk angin.

Sambil memejamkan mata, Pak Sardi membayangkan kembali apa yang terjadi semalam di gudang belakang sekolah. Semalaman pak Sardi yang bertugas jaga malam di sekolah malam itu tidak bisa tidur. Lantas iseng-iseng pak Sardi mencoba menyalurkan kembali bakatnya semasa kecil dulu, yaitu melukis.

Hanya memang saat itu Pak Sardi tidak membawa kuas dan cat warna, maka beliau menggunakan arang dicampur air dan beberapa bahan lain untuk melukis. Dengan penerangan lampu yang remang-remang itu, Pak Sardi dengan lihainya menggambar beberapa jejak kaki di tembok gudang sekolah. Jejak kaki itu sengaja dibuatnya hampir lima kali lipat ukuran manusia normal.

Dengan teknik yang sangat rapi, nampak jejak kaki itu sangat mirip dengan jejak kaki sungguhan. Tampak seolah-olah jejak kaki itu sedang menapak tembok menuju ke langit-langit ruangan. Untuk menambah kesan pada lukisannya, beberapa genggam abu dia taburkan di sekitar lukisan.

Arang dan abu Pak Sardi dapatkan dari sisa pembakaran api unggu kegiatan pramuka tempo hari. Persis menjelang adzan subuh, lukisan jejak kaki karya Pak Sardi selesai sudah. Setelah itu, Pak Sardi bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh di masjid kampung belakang sekolah. Pak Sardi lupa membereskan gudang yang nampak acak-acakan dan meninggalkan begitu saja.

Pak Sardi hanya tersenyum-senyum saja mengingat apa yang dilakukannya semalam. Dalam benaknya, beliau berpikir bahwa ternyata kelihaiannya dalam melukis masih belum sirna meski usia sudah tua. Sempat terpikir olehnya untuk kembali ke sekolah dan menghapus lukisannya itu. Tapi niat itu urung dilaksanakan, karena beliau yakin tak ada orang yang akan masuk ruangan gudang hari itu. Padahal Pak Sardi lupa, bahwa kunci gudang sekolah masih menggantung di lubang kunci dengan pintu yang masih terbuka.

 

*****

 

Sementara itu, tim forensik dari kepolisian sudah tiba di sekolah. Mereka nampak membawa berbagai peralatan yang ada di dalam koper. Mereka juga mengenakan pakaian khusus termasuk helm dan sarung tangan pengaman.

Beberapa orang dengan setelan jas lengkap nampak berjalan bergegas di belakang tim forensik dari kepolisian. Nampak mereka bukan orang biasa-biasa saja. Dari penampilannya, nampak sekali mereka adalah pejabat atau anggota dewan. Mereka juga seperti dikawal oleh beberapa orang berbadan tegap dengan setelah hitam dan berkacamata hitam.

Tak hanya itu, banyak warga di sekitar sekolah yang sudah mendengar desas-desus itu sudah mulai berkerumunan di depan sekolah. Mereka tidak bisa masuk ke sekolah karena pintu gerbang telah ditutup dan dijaga oleh beberapa personil polisi. Beberapa warga nampak saling berkerumun sambil melihat handphone salah satu diantara mereka. Mungkin itu adalah beberapa foto gudang sekolah yang sudah beredar di media sosial.

Beberapa orang tua dan wali murid terlihat berdiskusi dengan polisi yang berjaga di pintu gerbang. Para orang tua itu mendesak untuk masuk dan ingin menjemput anak-anak mereka. Mungkin para orang tua khawatir dengan keselamatan anak-anak mereka demi melihat keramaian yang semakin tak terkendali di depan sekolah.

Namun para personil polisi itu nampak tak bergeming. Mereka tetap tidak mengizinkan para orang tua itu masuk ke arena sekolah. Termasuk ayah dan ibu Tono yang sudah berkali-kali melobi namun tidak juga diizinkan masuk menjemput Tono di kelas.

Beberapa wartawan dari media lokal hingga nasional sudah mulai mengambil gambar di dalam ruangan gudang. Selain itu, semakin banyak pejabat daerah dengan mobil-mobil mewah yang mulai merapat di ruas-ruas jalan menuju ke sekolah. Mobil-mobil mereka tidak bisa memasuki halaman sekolah karena padatnya kerumunan. Melihat banyaknya massa yang berkerumun, tak ayal membuat para pedagang makanan, mainan, hingga pedagang pakaian mulai menggelar dagangannya. Mereka mengira ada tontonan di sekolah itu. Sementara situasi sekolah yang semakin ramai, Pak Sardi semakin pulas tertidur di kursi malasnya lengkap dengan dengkuran khasnya yang serasa saling bersahut-sahutan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s