Sains vs Agama

KEJADIAN ini dialami oleh Galileo Galilei. Hidupnya saat itu bagaikan telur di ujung tanduk. Ketukan palu Paus Urbanus VIII, pemimpin Gereja Katolik pada April tahun 1663, telah menjatuhkan sanksi hukuman seumur hidup bagi ilmuwan astronomi itu. Galileo beruntung karena terhindar dari hukuman mati, sebagaimana bentuk hukuman bagi siapa saja yang mengancam kewibawaan gereja katolik. Pokok permasalahannya dianggap menyangkut martabat gereja yang harus di junjung oleh siapapun, bahkan seandainya pun tidak benar. Galileo yang menyakini bahwa matahari adalah pusat semesta, telah membangkitkan amarah pimpinan gereja yang berkeyakinan bumi lah pusat semesta. Vonis tersebut tidak bisa ditawar-tawar lagi, meskipun Galileo dikenal sebagai katolik yang taat dan sama sekali bukan penganut ajaran reformasi sebagaimana yang dituduhkan.

Keputusan yang dikeluarkan di Vatikan, oleh badan inkuisisi gereja pada kakek renta itu sebenarnya bukanlah yang pertama. Tiga puluh tahun sebelumnya, seorang ahli filsafat Giordano Bruno juga dianggap sesat dan dijatuhi hukuman mati. Tragis dan menyisakan dendam yang tak berkesudahan bahkan hingga kini.

Kenangan pahit perseteruan antara kaum agama dengan para ilmuwan tersebut memang telah lama berlalu. Sayangnya tidak semua bisa melupakannya. Seperti yang mudah diduga, peristiwa itu berbuntut panjang. Saat ini, lebih dari tiga abad semenjak kejadian Galileo, Vatikan masih terbayang-bayang dengan apa yang mereka sebut sebagai “insiden yang menorehkan luka”. Pertengahan Januari 2008 kemarin, Paus Benediktus terpaksa membatalkan rencana kunjungan dan ceramah ke universitas La Sapienza.

Langkah Paus memasuki kampus paling prestisius di Roma itu langsung terhenti tatkala 67 profesor menandatangani petisi yang menyebutkan Paus kelahiran Jerman itu menempatkan agama lebih tinggi dan utama dibandingkan sains. Pangkal masalah utamanya adalah pidato dua puluh tahun lalu oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebelum menjadi Paus, yang mengatakan pengadilan Galileo adalah rasional dan adil. Ratziger dianggap mendukung putusan pengadilan gereja di abad 17 tersebut. Inilah untuk pertama kalinya aksi demostrasi memaksa dia untuk membatalkan kunjungannya sejak diangkat sebagai Paus pada 2005 lalu.

Gereja mengakui kesalahan atas keputusan terhadap Galileo di masa lalu yang berakibat pada “hubungan tragis yang tidak bisa dimengerti”. Untuk mengobati luka tersebut, gereja mendirikan obervatorium Vatikan yang terletak di Castel Gandolfo oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891. Mereka mengadakan kerjasama dengan melakukan penelitian di observatorium University of Arizona di Tucson, AS. Saat ini, gereja mengaku lebih terbuka terhadap sains. Mereka berupaya menjembatani kesenjangan antara agama dan sains melalui riset dan koleksi meteorit yang mereka klaim, terbesar dan terbaik di dunia. Isu-isu sains masa kini, seperti keberadaan alien mendapat tanggapan secara antusias. Sebuah wawancara diterbitkan oleh Koran Vatikan, L’Osservatore Romano, pada pertengahan Mei 2008 oleh Pastur Jose Gabriel Funes, Direktur Observatorium Vatikan, menyebutkan kepercayaan Kristiani tidak bertentangan dengan keberadaan makhluk asing tersebut. Funes berkata, “Mengabaikan keberadaan alien sama saja dengan menetapkan batas-batas kebebasan Tuhan dalam mencipta”.

Sayang, malang tak bisa dihindarkan. Paus Urbanus VIII saat itu pasti tidak akan menyangka bahwa ketukan palunya masih menyisakan permasalahan hingga kini. Vonis yang dijatuhkannya menciptakan hubungan gereja dengan para ilmuwan bagai sebuah letupan api. Dan hingga kini api telah menjalar dan berpotensi membakar semua silang pendapat hingga berakhir sebagai sebuah kontroversi yang langgeng. Hubungan mesra yang kini tampak dipermukaan telah menyisakan tiga kubu yang siap meledak secara tiba-tiba. Antara kubu yang selalu mempertanyakan peranan gereja dalam masyarakat sekuler, kubu gereja sendiri, dan kubu pendukung kebebasan berpendapat yang selalu mengagungkan netralitas dalam setiap isu yang berkembang.

Dua abad pasca kematian Galileo, muncul Charles Darwin (1809-1882) untuk memulai kembali babak baru dalam perselisihan antar agama dan sains sejak On the Origin of Species-nya beredar. Konteks masalahnya jelas berbeda dengan apa yang diperdebatkan Galileo dan gereja, namun sama-sama mengusung ide yang berlawanan. Justru sebenarnya bukan Darwin yang memicu pertentangan tersebut, melainkan konsepsi orang-orang yang mencoba menerjemahkan dan menjelaskan tentang konsep evolusi ala Darwin.

Darwin sendiri tidak pernah mengatakan bahwa manusia terlahir dari seekor kera. Apa yang Darwin katakan adalah adanya seleksi alam dari setiap makhluk agar bisa mempertahankan keturunannya. Bahwa ketika dua spesies bertemu dalam satu masa, maka kedua spesies tersebut tidak bisa dihubungkan dan berasal dari makhluk yang sama. Saat ini kita masih bisa saksikan bahwa kera-kera tetap mempertahankan diri sebagai primata yang sangat berbeda dengan manusia.

Pemahaman kera yang merupakan moyang dari manusia adalah pemahaman yang menyesatkan. Sayangnya pemahaman ini sudah terlanjur beredar di masyarakat sebagai inti dari teori evolusi ala Darwin. Tentu saja keyakinan bahwa manusia merupakan hasil evolusi dari kera segera dibantah oleh kaum spiritual, termasuk pihak gereja. Gereja sendiri berpendapat manusia pertama lahir di dunia ini sudah dalam bentuk manusia. Tidak ada cerita evolusi atau semacamnya yang jelas-jelas merendahkan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna. Manusia sebagai hasil dari “desain cerdas” Tuhan tidak memberikan ruang sedikitpun untuk teori Evolusi ala Darwin dan para pendukungnya.

Sebenarnya pandangan gereja juga sama dengan pandangan sebagian besar ajaran agama lain, termasuk Islam. Kita tidak tahu akhir dari perbedaan pandangan ini. Yang pasti Darwin tidak mengalami apa yang dialami Galileo akibat dari pandangannya tersebut. Perdebatan masih terus berlangsung dengan sengit dan masing-masing mengkalim idenya tersebut merupakan suatu kebenarannya yang harus diakui oleh sains maupun agama.

*****

Beralih ke sejarah peradaban Islam tempo dulu, sepertinya letupan perselisihan ala Galileo sempat muncul. Namun pangkal masalahnya yang sangat berbeda dengan kasus Galileo. Sejarah mencatat, Agama yang masih serumpun dengan Kristen dari keturunan Nabi Ibrahim ini, sempat memimpin peradaban dunia pada saat Barat masih dilanda kepercayaan terhadap takhayul dan jalanan yang masih gelap dan becek. Sains berkembang dengan pesat dan menjadi pusat rujukan para sarjana di seluruh dunia. Sayang, kebanggaan tersebut tidak berlangsung lama. Terdepaknya para ilmuwan Islam dari lingkungan kerajaan dan berbagai tuduhan, pengucilan hingga pemusnahan para ilmuwan menjadi salah satu faktor meredupnya peradaban Islam saat itu.

Siksaan fisik yang pernah dialami Al Kindi merupakan buntut dari tuduhan para ulama pada saat itu yang menuduh ilmuwan tersebut menyebarkan pemikiran-pemikiran yang berbahaya. Al Kindi dan para filsuf lain dianggap sebagai otak di belakang masa liberalisme Islam yang sudah berlangsung lama. Al Kindi tidak sendirian, ilmuwan lain Al Razi juga mendapat perlakuan serupa meski tidak separah Al Kindi. Pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa menjadikan dirinya tidak disenangi oleh kebanyakan kaum muslim. Banyak pernyataannya yang menimbulkan kontroversi dan dianggap telah keluar dari akidah Islam. Menurutnya wahyu Tuhan bukan menjadi perkara yang sulit jika ditelaah melalui akal atau sains. Ibnu Rusyd mengalami nasib yang tak jauh beda. Kali ini bukan hanya dimusuhi kaum muslim, namun juga oleh gereja. Ilmuwan yang juga hakim pada masa pemerintahan khalifah Abu Ya’qub ini mengalami pemboikotan atas seluruh karya ilmiahnya hingga akhir hayat. Kecaman dan julukan sebagai Berber jahil hingga anjuran atas kematian juga dialami oleh Ibnu Khaldun. Ilmuwan asal Yaman ini bahkan pernah dituduh sebagai seorang ambisius yang menyamar sebagai muslim.

Sedikit berbeda dengan perseteruan antara gereja dengan Galileo, sebagian besar konflik yang terjadi di atas merupakan klimaks dari pergolakan politik dan kekuasaan. Selain melibatkan para penguasa, isu tersebut juga santer berkembang di masyarakat dan para pelajar. Para ulama akhirnya terpancing dan timbullah perseteruan yang seharusnya tidak terjadi. Tanpa bermaksud melibatkan diri dalam konflik tersebut, menurut saya sebenarnya inti perseteruan itu bisa kita pahami karena menyangkut akidah. Pada saat itu khalifah lebih berperan sebagai penguasa dari seorang pemimpin spiritual. Keputusan-keputusan yang diambil dalam penanganan kasus tersebut lebih sebagai keputusan politis. Isu yang berkembang mungkin tidak murni pertentangan antara sains dan Islam karena campur tangan pihak militer dan tentara lebih dominan dari para ulama. Dan permasalahan muncul secara spontan tatkala terjadi pergantian pemimpin di kerajaan. Analisa terakhir, ternyata konflik tersebut usai dengan sendirinya dan tidak berlarut-larut ketika terjadi suksesi pada tahta kerajaan.

Anda dan saya mungkin tidak perlu melibatkan diri. Toh, kejadian tersebut sudah lama berlalu. Cukup menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Terutama karena kita tahu, konflik-konflik yang terjadi pada saat itu diakui atau tidak telah memperparah krisis yang berakhirnya dengan runtuhnya peradaban Islam. Saat itu Barat mulai mencoba bangkit dari abad kegelapan mereka dan mencoba meraih emas yang selama ini menjadi milik peradaban Islam. Saat ini, karya-karya Al Kindi, Al Razi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan ilmuwan muslim lain di masa peradaban Islam, menjadi tonggak peranan Islam dalam sains. Menjadi bahan referensi bagi para pelajar baik di Barat maupun Timur. Dan kabar baik lain, pertikaian di masa lalu itu tidak melebar dan seolah telah usai saat itu juga. Kini hampir tidak pernah dijumpai perdebatan sengit yang berlatar belakang peristiwa-peristiwa tersebut.

Dan mengenai reaksi terhadap ide Evolusi ala Darwin, kebanyakan para ahli Islam berdiri di samping pihak gereja, yakni menolaknya. Saat ini dan untuk sementara, mungkin kita bisa menyebut sosok Harun Yahya sebagai muslim yang cukup agresif menentang teori Darwin menyusupi pola pikir para pemeluk Islam. Berbagai buku, situs, hingga film dia produksi untuk mempertahankan ide kreasionisme atau penciptaan. Sekaligus juga melenyapkan konsep evolusi dalam khasanah ilmu pengetahuan.

*****

Saya rasa, Anda memiliki pertanyaan seperti apa yang ada dibenak saya. Apakah sains perlu bersitegang dengan agama? Terus terang, sulit kita menjawabnya. Sangat tergantung dari konsteks-nya. Sains seperti apa yang dimaksud? Atau agama mana yang menjadi acuan?

Nampaknya kita harus menyelesaikan dua pertanyaan terakhir sebelum beralih ke pertanyaan pertama. Dan agar tidak terjebak pada perselisihan yang luas, perlu kita mengambil langkah praktis. Yang dimaksud dengan sains yakni lebih dari segala apa yang telah diperoleh secara tuntas oleh penyelidikan ilmiah. Sains meliputi sikap ilmiah hingga fakta-fakta ilmiah yang diwujudkan melalui sebuah teori. Teori atau konsep yang masih kontroversial tidak berarti bukan bagian dari sains. Maka kita hanya perlu memilahnya. Dan agama yang dimaksud, adalah Islam.

Maka, selanjutnya kita mulai dengan menginventarisir berbagai perbedaan dan persamaan antara sains dan agama (Islam). Pertama, sains dan agama jelas-jelas adalah dua hal berbeda meski masih memungkinkan memiliki persamaan. Dari uraian ini nanti mungkin bisa Anda nilai sendiri, seberapa banyak perbedaan diantara persamaan yang ada.

Keduanya berasal dari motivasi yang berbeda namun diharapkan memiliki persamaan dalam tujuan hingga bisa bertemu dalam satu titik. Sains berusaha untuk menyibak rahasia alam sehingga kita lebih mengenalnya. Bermula dari pengenalan ini, lantas kita berharap bisa memanfaatkan alam untuk kepentingan dan hidup manusia. Sedangkan agama, muncul karena spirit pengabdian kepada Tuhan. Melalui pengabdian itulah manusia melakukan berbagai ritual, perintah dan larangan sesuai dengan firman Tuhan melalui kitab suci-Nya. Perintah dan larangan Tuhan, tentu saja mencakup segala hal yang berhubungan manusia itu sendiri. Baik dengan Tuhan maupun semua makhluk ciptaan-Nya, termasuk alam semesta ini. Jadi pada dasarnya, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk ber-sains. Al Qur’an sendiri sebagai kitab suci agama Islam mencantumkan setidaknya 750 ayat yang berdimensikan sains.

Jadi, benang merah dari penjelasan di atas adalah menyangkut si pembuat aturan atau rambu-rambunya. Jelas sekali, sains yang diakui adalah sesuatu yang sudah terbukti dan terdeteksi oleh panca indera manusia. Jadi, kebenaran sains adalah versi manusia. Ini sekaligus sebagai penjelas mengapa sains rentan perubahan dan sangat labil. Karena manusia dan percobaanlah hakim yang memutuskan semua perkara dalam sains. Sedangkan manusia sendiri juga makhluk yang juga relatif.

Lantas kebenaran yang terdapat di dalam agama murni versi Tuhan yang disampaikannya melalui kitab suci. Kecuali, jika sudah disusupi ajaran-ajaran yang muncul karena selera manusia. Melalui pemaknaan yang berbeda karena berbeda aliran/ mazhab. Namun semua tentu sepakat, kebenaran yang dibawa oleh agama mutlak dan tetap sampai akhir zaman. Kecuali, Anda para atheis. Jadi siapa hakim tertinggi dalam semua keputusan agama, tentu saja Tuhan Yang Maha Esa.

Dibalik perbedaan tersebut ternyata terdapat hubungan yang selaras. Pengembangan pemahaman seseorang dalam beragama, nampaknya bisa pula dibantu melalui sains. Pada kondisi ideal hubungan ini seperti garis lurus linier ke atas pada sebuah kurva. Artinya, semakin tinggi tingkat keilmuwan sains seseorang, selayaknya semakin tinggi pula semangat spiritnya dalam beragama.

Fuat Sezgin, seorang profesor kelahiran Istambul, telah mengabadikan 30 tahun hidupnya untuk menyelidiki sains Arab-Islam. Beliau bersama Intitut Sejarah Sains Arab-Islam di Universitas Johann Wolfgang, Goethe, Frangkfurt, Jerman, bekerja keras untuk menghimpun kembali inovasi-inovasi ilmuwan muslim silam. Hasil risetnya menunjukkan kekaguman dan kebergantungan ilmuwan pada Al-Qur’an dalam melakukan proses inovasinya.

Kedua, obyek kajian sains adalah semua yang berwujud atau menempati ruang. Segala hal yang tidak bisa dilihat, dirasa, diraba, dicium dan didengar tentu bukan bagian sains untuk menanganinya. Sedangkan obyek kajian agama mencakup semua sisi kehidupan manusia, termasuk sains. Agama sebenarnya sudah mengatur etika manusia dalam bertindak melalui alam. Namun yang perlu diingat, kitab suci juga bukan kitab sains.

Tidak ada dalam sejarah agama-agama besar di dunia ini memiliki kitab suci yang di dalamnya tertulis berbagai macam rumus-rumus sains sebagai petunjuk bagi manusia. Bukan itu cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Bukan berarti karena sains juga diberitakan dalam kitab suci, lantas bisa diartikan secara mentah bahwa untuk bisa mengerjakan ujian sains, seorang siswa cukup membuka kitab suci. Kitab suci berdimensikan sains itu artinya adanya anjuran dan spirit untuk menjadi seorang yang ahli ilmu pengetahuan dan beberapa fakta sains yang muncul secara tersirat.

Akhirnya kita kembali pada judul topik ini di baris paling atas, sains versus agama. Apakah kita harus bersains ala agama atau menentangnya? Lalu apakah jika sains sudah mengikuti ajaran agama, maka hasilnya bisa betul-betul terjamin kebenarannya? Apakah kejadian Galileo belum cukup bukti bahwa perseteruan gereja dan ilmuwan telah terjadi dan eloknya, justru dimenangkan oleh sains? Yang artinya gereja salah dan ilmuwan benar. Semua jawaban ini dikembalikan pada diri masing-masing. Sejauh mana mengenal sains dan agama yang dianut.

MASA KRISIS

Nampaknya kita perlu berbesar hati dengan analisa dari Hendrik Kraemer yang mengklaim agama-agama di dunia ini sedang mengalami krisis. Menurut Kraemer rumusan-rumusan agama dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan hidup. Gairah dalam beragama kalah populer oleh hiburan. Boleh jadi posisi Nabi sekarang digantikan oleh seniman-seniman dunia hiburan. Sebab gaya hidup mereka lah yang menjadi panutan kita sekarang. Sepaham dengan Kraemer, Malachi Martin dalam The Encounter, beranggapan bahwa periode keberhasilan agama telah berakhir. Menurutnya, kecuali terjadi perkembangan yang tidak berarti, gambaran agama saat ini adalah diguncang oleh kesulitan-kesulitan internal dan keterbatasan-keterbatasan eksternal.

Kesimpulan tersebut juga disampaikan oleh Kathleen Bliss dengan analisa bahwa krisis ini akibat perubahan-perubahan drastis yang terjadi. Revolusi industri disusul perkembangan ilmu dan teknologi yang begitu pesat mengikis kepercayaan terhadap agama. Lihatlah perkembangan teknologi komunikasi abad ini, lalu bandingkan dengan keadaan ribuan tahun sebelum Masehi. Diperlukan waktu kira-kira 12.000 tahun bagi manusia untuk menemukan cara melukis pada dinding gua. Hingga tahun 1900 masehi tidak ada perkembangan berarti dalam teknologi informasi. Revolusi teknologi mulai penunjukan percepatannya sejak abad XX. Jika kebenaran rasional berlawanan dengan ajaran agama, maka bisa dipastikan mereka lebih mengutamakan rasio.

Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000, meski tidak menyerang posisi agama secara langsung, namun setidaknya menyiratkan kesimpulan yang sama. Peran agama telah terpinggirkan sudah. Beralih pada 3F,  food, fashion dan fun. Agama boleh-boleh saja tetap memperoleh pengikut, tapi ajarannya telah dikendalikan oleh 3F tersebut. Cara mereka menjalankan ritual agama, bagaimana mereka memutuskan persoalan agama, hingga bagaimana cendekiawan Islam dan Kristen menyebarkan pesan-pesan ajaran agamanya, semua tidak terlepas dari trend-trend yang sedang melanda dunia.

Analisa tersebut memang bukan lagi cerita baru. Selanjutnya kita akan dipaksa berpikir, katakanlah apa yang dikatakan Kraemer dkk adalah benar. Lantas, bukankah itu artinya sains bukan lagi patner agama yang seiring sejalan? Atau telah menjelma menjadi dua kubu yang saling melindas?

Selalu ada dua versi dalam setiap cerita. Begitu pula kisah antara sains dan agama. Semua orang mungkin sepakat, terdapat hubungan antara sains dan agama. Tema perbedaan adalah, “Apakah hubungan tersebut harus saling mendukung atau menjegal?”

Saya rasa tidak perlu ada reaksi yang berlebihan. Anggap saja sebagai teguran bahwa para ahli agama memang sudah saatnya berbenah. Teknologi dan sains bukan musuh yang harus diwaspadai. Namun pergunakanlah layaknya sebuah alat untuk bekerja. Tanpa itu mungkin dakwah agama kurang diminati. Dan di sisi lain, nampaknya para ilmuwan mulai memperhatikan kehidupan spiritual mereka. Tidak perlu lagi ada Galileo-Galileo baru yang menjadi korban perselisihan. Juga tidak perlu lagi muncul Darwin-Darwin baru yang membawa kisah-kisah baru dan memicu perselisihan. Ilmuwan dan para tokoh agama perlu sering duduk di satu meja untuk saling menyapa dengan ide-ide yang cerdas dan hati yang bersih.

Kita semua perlu berguru pada sosok ilmuwan asal Pakistan, Abdus Salam (1925-1995). Peraih hadiah Nobel untuk fisika di tahun 1979 dan pendiri ICTP (International Cetre for Theoretical Physics) di Trieste, Italia, ini yang seolah berdiri di tiga dunia: dunia fisika teori, dunia Islam dan dunia kerjasama internasional. Beliau bisa jadi sebagai satu-satunya tokoh ilmuwan fisika handal dan seorang muslim taat serta tokoh internasional yang selalu berjuang mengembangkan sains di dunia ketiga. New Scientis, sebuah majalah bereputasi tinggi dengan mengusung tema sains dan teknologi, mengatakan, “Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali”, pada terbitannya edisi 26 Agustus 1976. Tentu kalimat itu muncul bukan sekadar basa basi belaka. Kekaguman tersebut muncul karena prestasi luar biasa yang dikemas dengan kepribadian Islam serta kecintaan yang mendalam terhadap tanah air. Seandainya saja spirit Abdus Salam juga menular ke para pelaku sains, maka Galileo baru di masa mendatang akan lebih banyak lagi memberikan sumbangsih kecerdasannya dalam bidang sains demi kebaikan umat manusia. Tanpa perlu was-was untuk bertaruh nyawa hanya untuk menyaksikan keindahan alam dengan lebih dekat. Semoga. Amin.

Iklan

2 comments on “Sains vs Agama

  1. Problem hubungan agama dengan ilmu (membantu siapa pun untuk memahami hubungan antara agama dengan ilmu secara benar sehingga tidak terjerumus oleh fitnah besar yang menyesatkan)

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia, artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit, analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.dimana akal bila digunakan secara maksimal (tanpa dibatasi oleh prinsip materialistik) akan bisa menangkap konstruksi realitas yang bersifat menyeluruh (konstruksi yang menyatu padukan yang abstrak dan yang konkrit),dan hati berfungsi untuk menangkap essensi dari segala suatu yang ada dalam realitas ke satu titik pengertian.
    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya adalah dua aspek yang saling mengisi satu sama lain yang mustahil berbenturan,sebab ada saling ketergantungan yang mutlak antara keduanya.benturan itu terjadi lebih karena faktor kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu.
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatas namakan sains padahal hanya teori belaka yang bersifat spekulatif,kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dengan pemahaman terhadap konsep ilmu seperti itu manusia akan bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara mentah,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta versus deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo vs gereja itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tidak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu konsep ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ‘ilmu’ dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah hanya yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah konsep atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila dibatasi dengan batasan materialistik seperti itu maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu’.
    Sebab itu bila ilmu diibaratkan sebuah bangunan besar yang memiliki banyak ruang maka ‘sains’ (termasuk teknologi) didalamnya adalah salah satu kamarnya.inilah gambaran tentang konsep ‘ilmu’ yang tidak difahami kaum materialist,yang gambarannya tentang konsep ‘ilmu’ hanya hidup diseputar ruang ‘sains’.ia lupa atau tidak tahu bahwa teramat banyak ruang ‘ilmu’ lain yang untuk memasukinya memiliki metode yang berbeda dengan sains.

    Jadi mesti diingat bahwa ‘sains’ pengertiannya kini harus difahami sebagai ‘ilmu seputar dunia materi’ (yang bisa terbukti secara empirik) agar dalam pandangan manusia pengertiannya tidak tumpang tindih dengan definisi pengertian ‘ilmu’ yang sebenarnya. jadi ‘sains’ bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera, (sebab itu sungguh janggal bila parameter sains digunakan sebagai alat untuk menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam).
    Artinya bila dilihat dari kacamata sudut pandang Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah konsep saintisme / yang memparalelkan pengertian ‘ilmu’ dengan ‘sains’ seolah hanya sains = ilmu,dan ilmu = hanya sains,dimana selain ‘sains’ yang lain hanya dianggap sebagai ‘pengetahuan’ (sebagaimana telah tertera dalam buku buku teks filsafat ilmu).
    Kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi ‘barat’ (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/ bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.
    Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya, banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’, itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
    Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda itu padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan dan mengkristal kepada suatu kesatuan konsep-makna-pengertian).
    Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
    Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori secara negative terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.ironisnya tidak sedikit ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu menjadi nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara agama dengan ilmu.
    ‘Sains murni’ seperti hukum fisika mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu biology dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pada dasarnya pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru kelak akan menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.
    Saat ini dengan eksistnya ideology materialisme ilmiah di dunia sains nampak fitnah itu seperti dijaga ketat supaya terus ada hingga kini dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,seperti contoh : kengototan luar biasa dalam mempertahankan teori Darwin saat teori itu makin terbukti tidak memiliki validitas ilmiah-kemudian penafsiran teori relativitas dan lalu fisika kuantum ke arah yang sudah bukan sains lagi yaitu ke tafsir tafsir materialistik,harus diwaspadai dibalik semua itu ada fihak yang tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu sudah pasti akan menghancurkan ‘kredibilitas ilmiah’ ideology atheistik materialistik yang bersembunyi dibalik wacana wacana filsafat-sains.
    Pemikiran-pandangan-opini-pernyataan sudut pandang materialist itulah yang membuat filsafat-sains nampak selalu berbenturan langsung dengan agama,dan mereka (materialist) berusaha memonopoli tafsir tafsir seputar sains sehingga penafsir sains yang menafsirkan segala suatu seputar sains diluar cara pandang mereka akan langsung distigma kan sebagai pernyataan yang ‘apologistik’ (dibuat buat agar nampak ‘ilmiah’).
    Kesimpulannya : adanya dua konsep ‘ilmu’ melahirkan adanya dua konsep kebenaran yang jauh berbeda : kebenaran versi sudut pandang manusia dan kebenaran versi sudut pandang Tuhan. (karena ilmu adalah konstruksi dari konsep kebenaran).dimana ’kebenaran’ versi sudut pandang manusia yang terkonsep dalam ‘saintisme’ adalah bentuk kebenaran yang wilayah cakupan nya terbatas pada segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman indera dan atau bisa dibuktikan secara empirik,berbeda jauh dengan konsep ‘kebenaran’ versi Tuhan yang wilayah cakupan nya meliputi serta merangkum keseluruhan realitas (yang abstrak dan yang konkrit).
    Dengan mengenal konstruksi dari dua bentuk konsep kebenaran yang jauh berbeda akan mempermudah kita dalam mengurai problem agama dengan ilmu termasuk juga problem benturan yang paling mendasar antara kacamata sudut pandang ‘Barat’ dengan Islam.dan harus disadari kita harus memiliki kerangka dasar ilmiah yang konstruktif dalam melawan dominasi konsep – pengertian ‘ilmu’ versi barat.
    Dengan membaca tulisan ini mudah mudahan orang orang mulai bisa melepaskan diri dari kacamata sudut pandang ‘saintisme’ dalam cara melihat dan memahami definsi ‘ilmu’,sebab bila definisi pengertian’ilmu’ sudah dilepas dari kacamata saintisme maka posisi agama otomatis akan menjadi kuat sebab kunci kekuatan agama diakhir zaman memang bila agama telah difahami secara menyatu padu dengan ilmu serta direkonstruksi secara ilmiah melalui jalan ilmu.(sebab tanpa argumentasi ilmiah yang kuat agama sering dianggap ‘hanya ajaran moral’ atau ‘hanya dogma’).

  2. Sains (ilmu materi) adalah elements atau semacam ‘mesin pencari’ yang menelusuri obyek obyek yang bersifat material atau penjelajah realitas dunia alam lahiriah-material sebab itu ‘wilayah kekuasaan sains’ berada di wilayah realitas dunia alam lahiriah-material’.
    Bila realitas itu adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit-material maka berarti wilayah kekuasaan sains itu terbatas hanya meliputi dunia material sehingga ia tak bisa menjelajah mencari obyek di wilayah realitas dunia abstrak.sebab itu metodologi ilmiah sains dibatasi hanya sebatas segala suatu yang bisa ditangkap pengalaman dunia inderawi dan bisa dibuktikan secara empirik dan yang memenuhi syarat itu memang hanya dunia materi,sebab dunia abstrak adalah dunia yang tidak bisa masuk ke wilayah pengalaman dunia indera dank arena itu tidak bisa dibuktikan secara empirik.( kecuali melalui mukjizat dunia abstrak itu bisa masuk ke pengalaman dunia inderawi).
    Sedang agama adalah element semacam ‘mesin pencari’ yang menelusuri obyek obyek yang ada dalam realitas secara keseluruhan baik itu realitas yang bersifat abstrak maupun realitas yang bersifat lahiriah. sebab tugas agama adalah menyatu padukan atau menghubungkan secara mekanistik seluruh obyek yang ada di alam lahiriah dengan obyek obyek yang ada didunia abstrak sehingga kedua obyek yang berada pada dua realitas yang berbeda itu bisa difahami sebagai sebuah kesatu paduan yang mekanistis-konseptual.sebagai contoh : agama yang memberitahukan realitas adanya sorga dan neraka dan dengan logika akal kita bisa menghubungkannya secara mekanistis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia dan selanjutnya dengan prinsip sebab-akibat sebagai konsep hukum kehidupan (yang bersifat abstrak),jadi lingkaran kausalitas antara obyek didunia alam lahiriah dengan obyek atau konsep didunia abstrak bisa kita temukan dalam agama.
    Sebab itu metodologi agama berbeda dengan sains,’kebenaran’ dalam agama tidak mesti sesuatu yang harus terbukti secara empirik sebab tugas agama adalah mendeskripsikan keseluruhan realitas yang didalamnya termasuk realitas yang bersifat abstrak yang tidak bisa masuk kedalam pengalaman dunia indera dan tidak bisa dibuktikan secara empirik.
    Agama tidak bisa dilepaskan dengan sains sebab yang abstrak itu berhubungan secara sistematik-mekanistik dengan dunia alam lahhiriah – material,dan sebab dunia abstrak itu tak akan pernah bisa difahami bila kita tidak memahami dunia alam lahiriah-material analoginya kurang lebih sama dengan kita tidak bisa mengenal hal hal yang bersifat abstrak dari diri manusia seperti : kebencian,cinta,kasih sayang,pemikiran dlsb. tanpa manusia mengenal dan memahami tubuh manusia sebab semua yang abstrak itu tercermin atau bisa dibaca melalui gerak fisik atau raut muka.jadi sangat keliru besar bila beranggapan agama hanya beredar atau berputar diseputar wilayah abstrak.
    Jadi agama dan sains bertemu pada realitas yang sama : dunia alam lahiriah – material,dimana agama lebih banyak mengambil makna nya dan sains lebih banyak mengambil fakta nya (untuk diambil menjadi manfaat yang pragmatis seperti teknologi).itulah sebab bila kita memahami agama serta sains secara konseptual-tertata sebenarnya tidak akan terjadi benturan antara agama dengan sains,benturan itu terjadi diantaranya,pertama : datang dari orang orang yang ingin menempatkan sains diatas agama dengan jalan menghakimi agama,padahal (dengan keterangan diatas) bisakah serta valid kah parameter sains digunakan untuk mengukur dan menghakimi agama (?) dan kedua : (seolah) benturan agama-sains itu terjadi bila ada saintis yang membuat teori khayali dengan berdasar pada suatu yang tidak ada dalam kenyataan lahiriah nya,sebagai contoh : teori Darwin (‘manusia kera’ pernahkah ada dalam kenyataan di dunia lahiriah ?)(sebab itu bersihkan sains dari ‘benalu’ atau ‘virus’ atau ‘karat’ yaitu teori teori khayali maka mudah bagi kita untuk melihat keterpaduan agama-sains)
    Nah sekarang kita telah bisa mengenal dan membuat definisi agama dan sains secara tepat,sehingga kita bisa mengukur bila ada pernyataan pernyataan yang datang dari saintis yang melanggar metodologi sains-keluar dari wilayah kekuasaannya dan sekaligus melanggar wilayah perbatasannya dengan agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s