Keinginan Marilyn Manroe

AKTRIS cantik Marilyn Monroe tahu bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Dia sudah merancang skenario bunuh diri yang sensasional meski baru berusia 36 tahun. Siapa peduli! Hidup sudah sangat membosankan baginya. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Dia belum punya keturunan yang bisa mewarisi ketenaran dan tentu saja kecantikannya. Kelak jika sudah mati, dia ingin dirinya bisa kekal dikenang orang melalui keturunanya yang musti cantik seperti dirinya dan juga cerdas. Dan dia sudah menentukan pilihan, satu-satunya orang yang tepat sebagai ayah dari anaknya adalah Albert Einstein. “Dialah orang tercerdas yang pernah hidup di dunia itu”, pikir Monroe. Akhirnya Monroe dan Einstein melakukan suatu pertemuan dan kesepakatan diperoleh. Enstein tidak terlalu berminat dengan Monroe tapi idenya lumayan brilian. Jadi Einstein hanya akan menyumbangkan spermanya untuk dilakukan pembuahan dengan metode inseminasi. Operasi dijalankan dengan hati berdebar. Waktu terus berlalu. Namun apa yang terjadi! Tidak seperti apa yang mereka harapkan, ternyata anak keturunan mereka lahir dengan paras pas-pasan seperti ayahnya dan akal yang bodoh seperti sang ibu!

Ide Marilyn Monroe di atas Baca lebih lanjut

Iklan

Bagaimana Einstein Membangun Teori Relativitas

Pada tanggal 14 Desember 1922 Albert Einstein menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University tentang ide-ide yang melatarbelakangi lahirnya teori relativitas khusus dan umum. Ini adalah bagian lawatan Einstein ke Jepang selama 43 hari bersama istrinya, Elsa. Selama itu ia harus memberikan kuliah untuk para fisikawan dan publik umum.

Catatan kuliah ini di terbitkan tahun berikutnya oleh majalah bulanan Jepang, Kaizo. April 2005, Prof. Masahiro Morikawa dari Ochanomizu University menerjemahkannya ke bahasa Inggris dalam bulletin Asosiasi Himpunan Fisikawan Asia Pasifik. Selanjutnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh seorang fisikawan bernama Terry Mart.

Ide Einstein dalam membangun teori relativitas muncul tahun 1905, karena permasalahan optik pada benda-benda yang bergerak. Cahaya merambat dalam lautan eter dan Bumi bergerak dalam eter  yang sama. Oleh karena itu, gerakan eter haruslah dapat diamati dari Bumi. Namun Einstein tidak menemukan bukti pengamatan aliran eter dalam literature fisika. Einstein sangat terdorong untuk membuktikan aliran eter relatif terhadap bumi atau dengan kata lain gerakan bumi di dalam eter. Saat itu Einstein sama sekali tidak meragukan eksistensi eter serta gerakan eter tersebur. Baca lebih lanjut

Menyibak Kekal Akhirat Tinjauan Ilmu Fisika

Kemunculan teori relativitas menyimpulkan fakta baru yang cukup mengejutkan, bahwa ruang dan waktu adalah relatif. Menurut teori relativitas, bahwa ruang dan waktu akan berlaku relatif sesuai dengan kerangka acuan tertentu yang digunakan. Meskipun teori ini menggunakan perhitungan matematis yang cukup sederhana, namun mengandung konsep fisis yang cukup fenomenal karena mengubah secara drastis pemahaman kebanyakan orang tentang ruang dan waktu. Dengan teori ini, Albert Einstein, seorang fisikawan kelahiran Jerman, mendobrak pemahaman ke-mutlak-an ruang dan waktu, setelah hampir selama dua abad bertahan. Tentunya kita semua tahu, tidaklah mudah mengubah pemahaman banyak orang, apalagi jika pemahaman itu dicetuskan oleh tokoh sekaliber Newton.

Kita semua pasti mengetahui, bahwa sains sangatlah rentan akan perubahan. Kemunculan teori baru yang masih lolos uji, secara otomatis akan menggugurkan teori-teori sebelumnya yang bertentangan. Dalam fisika, terkadang hari ini dirumuskan teori, besok muncul teknologi terapan, dan lusa muncul lagi teori baru. Fisika memang tidak boleh mengenal kata selesai.

Sebagaimana teori evolusi Darwin, keberadaan teori relativitas pada awalnya dianggap betul-betul murni urusan sains dan tidak akan pernah berpengaruh terhadap kehidupan spiritual seseorang. Namun toh kenyataannya, betapa kita bisa saksikan perdebatan seru antara ilmuwan dan ahli agama tentang teori evolusi Darwin yang berlangsung sepanjang masa, bahkan hingga kini. Karena ternyata, teori evolusi Darwin memiliki dampak besar terhadap pemahaman keyakinan seseorang. Para tokoh Islam pun tak kalah gencar “memprotes” teori Darwin yang berpotensi membawa ajaran tertentu. Lalu, seberapa hebat pengaruh teori relativitas terhadap agama, khususnya Islam? Baca lebih lanjut

Memahami Sains

SAINS, oleh kebanyakan orang di sekitar kita, dipahami melulu sebagai segala hal yang dapat dipelajari dari buku-buku sains. Demikian halnya dalam pandangan sebagian besar cendekiawan atau akademisi kita -meskipun dengan sedikit varian. Sains dalam pemahaman mereka adalah berbagai hal yang dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, jurnal-jurnal ilmiah atau majalah-majalah ilmiah. Dalam persepsi ini, sains dimengerti sebagai kumpulan informasi dan penjelasan tentang fakta-fakta ilmiah dan hipotesa-hipotesa ilmiah yang berkaitan dengan gejala alamiah. Dalam pandangan ini, misalnya, berbagai informasi dan penjelasan tentang perilaku makhluk hidup (menyangkut reproduksi, metabolisme, perkembangan, rantai makanan, dll) dapat diperoleh dari buku-buku atau jurnal-jurnal imiah biologi. Oleh karena itu segala informasi dan penjelasan tentang makhluk hidup mereka tampung dalam cabang sains yang disebut biologi atau ilmu hayat. Informasi tentang perilaku hidup tumbuhan khususnya ditampung dalam cabang biologi yang disebut botani. Sementara informasi tentang perilaku hidup hewan ditampung dalam cabang biologi yang disebut zoologi. Informasi-informasi dan penjelasan tentang tubuh manusia ditampung dalam suatu cabang biologi yang disebut anatomi.
Marilah menengok sebentar ke belakang untuk melihat perkembangan pemahaman manusia akan hakekat cahaya. Jejak kajian tentang cahaya secara mendalam bisa kita lacak sejak peradaban Yunani kuno, atau bahkan jauh sebelumnya. Ilmuwan kunci dalam kajian ini ialah Euclid yang amat masyhur dengan pendapatnya, “manusia dapat melihat karena mata mengirimkan cahaya kepada benda“. Pendapat Euclid bertahan cukup lama sampai kemudian muncul Ibnu al-Haitham (965-1038) atau yang lebih dikenal sebagai Alhazen. Alhazen berhasil membuktikan kekeliruan pendapat Euclid. Menurutnya, yang benar adalah justru sebaliknya. Kita dapat melihat karena ada cahaya dari benda yang sampai ke mata kita.
Bukti untuk menyanggah pendapat Euclid sangatlah sederhana. Baca lebih lanjut

Albert Einstein (1879-1955)

Einstein dan teori relativitas hadir pada saat yang tepat, jika dikaitkan dengan perkembangan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Ibaratnya pucuk di cinta, ulam pun tiba. Perkembangan yang dimaksud yaitu bangkitnya Jerman modern, kelahiran senjata-senjata nuklir, dan lahirnya Zionisme. Peristiwa tersebut memang lebih menjelaskan tentang perkembangan Jerman modern. Namun posisi Jerman pada saat itu sangat berperan dan turut mempengaruhi peradaban dunia yang tengah dilanda perang dunia kedua. Fakta ini penting untuk diketahui, karena kemunculan Einstein dan teori relativitasnya terasa begitu fenomenal. Jika saja teori relativitas muncul pada abad 20 ini, mungkin akan terjadi perbedaan yang begitu mendasar dan respon masyarakat akan menunjukan reaksi yang berbeda pula.

Beberapa hal yang menyinggung kehidupan pribadi Einstein juga perlu penulis ungkit. Sebagai sosok ilmuwan fenomenal, kehidupan dan kepribadian Einstein menjadi bagian yang menarik untuk diperbincangkan. Mungkin sampai saat ini hanya sosok seorang Einstein saja yang mampu menggangkat profil ilmuwan bak seorang selebritis dan publik figur. Baca lebih lanjut