MUTASI PEGAWAI PNS

IMG00881-20150513-1140Tahun 2009 adalah tahun perubahan dalam hidup saya. Selain berubah status diri dari lajang menjadi kawin, juga status pekerjaan dari guru tidak tetap (GTT) menjadi guru tetap (PNS). Hampir selama 2,5 tahun saya mengabdi di sebuah sekolah negeri. Dan Alhamdulillah kesempatan seleksi CPNS tahun 2009 melalui jalur umum menjadi jalan rejeki bagi saya untuk lebih mantap dalam menata profesi.

Namun apa yang terlintas dalam benak saya, saat pertama kali membaca nama saya muncul di daftar peserta lolos seleksi CPNS adalah mutasi. Maklum, saya bukanlah putra daerah tempat dimana saya lolos CPNS. Bagi saya saat itu, yang penting diterima dulu, nanti pada saatnya pasti ada kesempatan untuk mutasi kembali ke daerah asal. Pekerjaan memang utama, namun keluarga jelas lebih dari itu.

Mungkin itu pula yang dialami oleh ratusan atau bahkan ribuan pegawai negeri sipil di negeri tercinta ini. Naiknya pendapatan (gaji) PNS sejak era reformasi lalu, menjadikan PNS sebagai salah satu idola pekerjaan para pencari kerja. Adanya perbedaan kebutuhan dan tingkat pesaingan, membuat para pemburu kerja mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi di luar daerah. Harapannya, jika lolos kelak bisa mengajukan mutasi kembali ke daerah asal. Atau kalau ternyata betah, maka bisa menjadi penduduk tetap sekalian.

Bagi saya, mendapat tugas sebagai guru PNS di sekolah yang berjarak 50 km dari rumah, menjadi sedikit dilema. Mau pindah sekalian, banyak sekali yang akan ditinggalkan. Rumah, keluarga besar, lingkungan dll. Mau dilaju setiap hari, khawatir fisik tidak sanggup menerjang angin dingin setiap hari. Tentu pekerjaan menjadi tidak maksimal, karena tenaga sudah terkuras untuk mengukur jalan. Akhirnya, mutasi adalah salah satu jalan terbaik. Lagi pula, kalau kita berpikir secara luas dalam bingkai NKRI, mutasi tentu bukalah suatu persoalan. Mutasi hanyalah pindah tugas, namun tetap bekerja sebagai abdi negara.

Melalui tulisan ini saya bukan bermaksud untuk mengajak sesama PNS untuk mengajukan mutasi. Maksud utama tulisan ini adalah sekadar berbagi cerita dan kisah. Baca lebih lanjut

Iklan

Teori Ketertarikan

ketertarikanDALAM teori ketertarikan ada dua angka penting yang harus diingat, yakni: 8,2 detik dan 4,5 detik. Konon, jika kawan pria atau seseorang lain bertahan memandang anda lebih dari 8,2 detik, maka itu artinya dia sudah jatuh hati dengan anda. Namun jika hanya dalam 4,5 detik saja mereka sudah berpaling, maka anda tak perlu berharap banyak perhatian darinya. Praktik ini bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Jadi, anda boleh waspada. Karena hal ini bisa terjadi di sekolah, di saat mengajar dan dengan rekan guru atau bahkan murid anda!

FAKTANYA, memang semakin lama pria memandang wanita, maka semakin besar rasa ketertarikan yang muncul (Times of India, 26/03/09). Tapi durasi waktu itu tidak berlaku bagi wanita terhadap pria. Wanita cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga pandangan dan mengekspresikan ketertarikannya.

Pandangan antar lawan jenis, jelas jangan dianggap remeh. Seberapa pun jauh perbedaan usia antar keduanya. Karena ketertarikan tidak ada hubungannya dengan usia. Ini masalah rasa. Maka berlaku sangat subjektif. Jauh dari jangkauan akal. Meski demikian pertimbangan rasio pun boleh sedikit berlaku. Baca lebih lanjut