Sejarah Film Pendek

Sebelum kita mempelajari dan membuat film pendek, ada baiknya kita mengenal sejarah film pendek itu sendiri. Dengan mengetahui sejarah, kita akan bisa menghargai film pendek sebagai suatu karya yang memiliki latar belakang sehingga kita semakin termotivasi untuk menghasilkan karya film pendek yang berkualitas.

Sejarah telah mencatat istilah film pendek mulai populer sejak tahun 1950-an. Saat itu di kota Oberhausen, Jerman muncul festival film pendek tertua di dunia yang dikenal dengan nama Oberhausen Kurzfilmtage. Saingannya adalah Festival du Court Mentrage de Clermont-Ferrand di kota Paris, Perancis. Sejak saat itu film-film pendek mulai dikenal di pemirsa film Eropa.

Di Indonesia sendiri sinema film pendek baru mulai populer di tahun 1970-an ditandai dengan munculnya Pendidikan Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dewan Kesenian Jakarta mulai mengadakan Festival Film Mini sejak tahun 1974. Akan tetapi sangat disayangkan, festival ini berhenti di tahun 1981 karena kekurangan dana.

Tahun 1975, muncul kelompok Sinema Delapan yang dimotori Johan Teranggi dan Norman Benny. Lagi-lagi karena kekurangan dana, kelompok ini hanya berjalan selama setahun. Baca lebih lanjut

Mengajar dengan Hati

MANUSIA adalah makhluk berakal. Akal menuntun manusia untuk berpikir logis. Akal sebagai kelebihan manusia ternyata tidak sendiri. Akal didampingi oleh rasa agar bisa tetap seimbang. Karena rasa, kita bisa menitikkan air mata saat merasakan kesedihan dan tertawa saat ada kelucuan. Mana yang lebih hebat antara akal dan rasa? Jawabnya tentu relatif. Bagi saya, tak penting mana yang lebih hebat. Akal dan rasa mestinya harus ditempatkan secara seimbang dan tepat. Banyak ketimpangan yang terjadi saat akal dan rasa tumbuh tak selaras.

Para guru, sang pendidik anak bangsa, juga sering terlena pada ketidakseimbangan ini. Mengunggulkan rasa secara berlebihan bisa membutakan akal mereka. Kadang para guru lebih menghargai siswa yang penurut dan keras kepada siswa yang menentangnya. Karena rasa kewibawaan yang terusik, guru juga sering mengabaikan anak-anak yang berani menyatakan haknya. Akal anak didik boleh cerdas, tapi sebagai guru Anda merasa tetap unggul. Rasa belum ditempatkan pada posisi yang semestinya, sehingga akal sering kalah.

Baca lebih lanjut