Pelajar dan Film Pendek

Dalam awal kemunculan film pendek, kota Jakarta memang bisa dikatakan sebagai gudangnya film pendek. Jakarta seolah-olah menjadi pusat perkembangan dan produksi film pendek di Indonesia. Tetapi saat ini keadaan sudah mulai berubah. Saat ini, Jakarta tidak bisa lagi memonopoli perkembangan film pendek di Indonesia. Banyak kota-kota kecil hingga daerah pedalaman yang mampu menghasilkan film-film pendek berkualitas. Bahkan beberapa film pendek yang menang dalam beberapa festival tingkat nasional bukanlah produksi sineas-sineas kota besar.

Perkembangan film pendek di daerah ternyata lebih banyak didominasi oleh kalangan pelajar. Terutama pelajar dari tingkat SMA sederajat hingga perguruan tinggi. Ratusan buah film pendek diproduksi setiap tahunnya oleh para generasi muda. Tiap-tiap dari mereka membawa semangat, minat dan warna tersendiri melalui film pendek yang dibuat.

Bagaimana dengan pelajar tingkat SMP? Ya, mereka juga sudah mulai bergerak dan menunjukkan kualitasnya. Kegiatan-kegiatan tentang pembelajaran produksi film melalui workshop, festival dan kompetisi khusus untuk anak-anak usia SMP sudah bukan menjadi hal baru lagi. Bahkan komunitas-komunitas film pendek di sekolah menengah pertama, dalam wadah ekstrakurikuler, mulai banyak dijumpai di SMP pinggiran. Dan dari situlah bakat dan minat anak-anak pelajar SMP mulai diasah dan terangkat.

Jika ada pertanyaan, “Mengapa saat ini para pelajar sangat berminat dalam produksi film pendek?” Jawabannya sebenarnya mudah saja, karena film pendek itu murah dan mudah. Durasi waktu yang relatif pendek, ide cerita yang sederhana, naskah skenario yang simpel, hingga peralatan yang mudah didapat nan murah meriah, dan juga sarat kompetisi adalah beberapa alasan yang membuat para pelajar kita jatuh cinta dengan film pendek.

Terkadang hanya bermodal kamera handphone saja sudah cukup untuk menghasilkan film pendek. Ide cerita juga bisa dibuat sesederhana mungkin, mengingat waktu yang juga terbatas. Namun bukan berarti kesederhanaan film pendek itu lantas menjadikannya tidak berkualitas. Nilai kualitas suatu film pendek tentu tidak semata diukur dari cerita dan peralatan yang digunakan saja. Banyak sisi dan cara yang digunakan untuk mengukur kualitas suatu film pendek.

Beberapa merk-merk produk tertentu saat ini sudah mulai melirik film pendek sebagai bagian dari media promosi produk mereka kepada masyarakat. Mereka mengadakan kompetisi film pendek pelajar dengan iming-iming hadiah besar dan karya pemenang menjadi salah satu iklan komersial mereka yang ditayangkan di televisi.

Selain itu pelatihan-pelatihan singkat membuat film pendek bagi pemula, anak-anak usia SMP, juga sudah mulai marak digalakkan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Selain berharap munculnya sinema-sinema berkualitas yang dihasilkan para pelajar, juga memberikan ruang gerak yang lebih luas dan sesuai bagi pelajar untuk mengembangkan bakat dan minat mereka dalam menghasilkan suatu karya kreativitas yang positif.

Di sisi lain, terkadang film pendek menjadi ajang batu loncatan untuk menuju ke film panjang. Banyak produser, sutradara hingga pemain terkenal yang memulai karirnya di bidang film dengan terlebih dahulu terjun dalam dunia film pendek. Tengok saja beberapa produser dan sutradara kondang Indonesia seperti Slamet Raharjo, Gatot Prakosa, Garin Nugroho hingga generasi Riri Reza dan Anang Setiabudi yang menjadikan film pendek sebagai batu loncatan atas kecemerlangan karir mereka di industri film komersial.

Nah anak-anak pelajar, apakah kalian semakin bersemangat membuat film pendek?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s