Seninya Kuliah di Jogja

Sebagai seorang alumni SMA yang sedang mencari cita-cita, Jogja saya datangi sendirian meski untuk yang pertama kali. Mau ajak teman, tak ada yang berkenan. Mau ajak orang tua, malu rasanya. Akhirnya meski deg-degan, akhirnya sampai juga langkah kaki ini ke Jogja. Peristiwa ini terjadi dulu pas setahun menjelang reformasi.

Bekal ke Jogja tak banyak. Pengalaman tak ada. Maklum ini kota pertama terjauh yang saya datangi sendirian. Bekal duit juga seadanya. Maklum pula, saat itu dana musti berhemat demi bisa membayar uang masuk kuliah. Satu-satunya bekal yang cukup ampuh saat itu adalah catatan no bus yang harus dinaiki begitu sampai terminal Jogja. Bus itu menuju ke suatu daerah dimana kakak saya sudah setahun menempatinya.

Kesan pertama begitu sampai Jogja adalah dinamis. Maksudnya ramai, sibuk, terus bergerak dan muda. Ya, banyak sekali anak muda di sekitar saya dengan segala macam penampilan. Dan yang membuat saya terkezut-kezut adalah ternyata hampir sebagian besar pemuda itu adalah MAHASISWA. Tentu saja itu saya ketahui setelah agak lama tinggal di Jogja dan sedikit mengenal suasana Jogja.

Seorang tutor matematika dulu, pas saya “terseret” arus bimbel (bimbingan belajar) menjelang SPBM, pernah bercerita tentang masa kuliahnya dulu di Jogja. Waktu itu beliau bekerja sambil kuliah. Pagi sampai siang kuliah, sore sampai malam bekerja. Pekerjaannya cukup keren, yaitu mencuci piring kotor di salah satu pedagang Pecel Lele di jalan Malioboro. Faktor keuangan karena dari keluarga kurang mampu, menjadikan beliau terampil mengemas keterbatasan. Konon menurut beliau, kalau pas lagi duit cekak, beliau memilah-milah sisa ayam goreng pembeli di warungnya untuk kemudian dibawa pulang. Sampai kos ayam-ayam goreng yang masih agak pantas diolah kembali itu, disuwir-suwir (di potong-potong ukuran kecil) lalu dimasak lagi. Nikmatnya ayam goreng olahan ulang itu akan lebih terasa kalau teman-teman kosnya juga ikutan makan bareng.

Awalnya ngeri juga mendengar sepak terjang beliau itu. Coba saja bayangkan, seandainya sang pembeli yang ayam goreng sisanya diambil sang tutor itu ternyata memiliki riwayat penyakit. Flu, hepatitis atau mungkin aids misalnya. Wah ngeri lah. Bisa-bisa kenyang sesaat, sengsara selamanya. Tetapi setelah merasakan jadi mahasiswa Jogja, kok jadi biasa. Memang unik, berebeda tapi tak lagi aneh. Hal yang biasa memang untuk bisa bertahan hidup.Itulah seninya bertahan hidup di Jogja.

Saya juga punya teman seorang seniman hidup. Usia sudah dibilang tak lagi muda. Merantau jauh-jauh dari sumatera hanya berbekal punya saudara di Jogja yang sama-sama sedang membangun hidup. Demi bisa kuliah dan makan seadanya, beliau bekerja sebagai loper koran di perempatan jalan besar. Saya yakin sedikit orang yang bisa menebak bahwa teman saya itu adalah seorang mahasiswa.

Cerita agak lain tentang seorang teman juga. Suatu saat pernah kepergok memakai baju compang-camping di pinggir jalan sambil teriak-teriak seperti orang gila. Dan setelah saya telusuri sebabnya, ternyata teman saya itu memang sedang menjadi seperti orang gila. Maksudnya memang sedang dalam seleksi untuk ikutan kelompok teater di kampus. Salah satu sesi seleksinya adalah dengan berlagak jadi orang gila yang sedang berjalan-jalan di sekitar Jogja. Untung saja tidak ketahuan petugas satpol. Bisa-bisa dirazia trus masuk ke panti jiwa.

Ternyata sobat, banyak sekali penampakan-penampakan di Jogja yang ternyata mereka adalah mahasiswa. Petugas kebersihan, loper koran, sopir, kenet bus, pengantar surat, penjual es, penjual angkringan, pelayan warung kaki lima, pelayan SPBU dan seribu profesi lain yang ternyata mereka adalah mahasiswa. Itulah cara mereka bisa mempertahankan hidup di Jogja dan kuliah. Itulah seni untuk bisa menggapai cita-cita dengan kemampuan seadanya.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah untuk menunjukkan bahwa Jogja bisa menerima siapa saja untuk melanjutkan kuliah. Entah anda dari keluarga kaya atau miskin semiskin-miskinnya. Anda bisa tetap kuliah dan menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa Jogja. Asalkan, anda memiliki salah satu seni dan menjalaninya tanpa perlu rasa malu. Sering saya sampaikan pada adik-adik yang baru saja lulus SMA. Bahwa asalkan mau kreatif, tak malu, mau bekerja apa saja meski tak ada biaya, kuliah bisa tetap jalan di Jogja. Hal itu sangat biasa bagi mahasiswa Jogja. Tak perlu surut keinginan kuliah kalau tak ada biaya dari orang tua. Carilah beasiswa. Bisa beasiswa dari pihak lain (kampus, pemda, yayasan tertentu) juga bisa dapat beasiswa dari sendiri. Caranya ya itu, bekerja sambil kuliah.

Satu hal yang selalu saya tekankan pada adik-adik calon mahasiswa saat sedang mengunjungo Jogja, jangan pernah memandang rendah siapapun karena profesi mereka. Karena bisa jadi mereka adalah orang-orang hebat di masa depan yang memang sedang dilatih oleh Tuhan untuk bisa kreatif mandiri dalam pembiayaan kuliah. Dan tak ada biaya bukan soal serius untuk bisa kuliah di Jogja. Semoga bisa membantu. Amin

 

Iklan

One comment on “Seninya Kuliah di Jogja

  1. bagi rekan-rekan yg pengen kuliah di jogja, memang dekianlah realitas di jogja. mohon ketika berkreasi diri upayakan berkreasi yang positif. karna sudah banyak pula yang berkreasi yang negatif, yang malah akan membuat masa depan semakin tidak menentu. Ingat selalu bahwa hidup ini ada aturan-aturan yang berkonsekuensi, aturan yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s