Sekolah Favorit Sesungguhnya

LOGIKANYA sederhana saja. Gelar sekolah favorit muncul karena sekolah tersebut memiliki kualitas lebih dari kuantitasnya. Keunggulan kualitasnya tidak sebanding dengan jumlahnya sehingga keberadaanya terbatas.

Konsepnya mirip dengan sebuah produk laris namun terbatas jumlah produksinya. Semua orang menginginkannya, namun terbatas kesediaannya. Sehingga jika perlu, harus indent terlebih dahulu sebelum barang jadi. Yang pasti, keberadaannya jauh lebih terbatas dibandingkan permintaannya.

Namun dalam pemahaman umum, parameter sebuah sekolah favorit bisa sangat beragam. Bisa karena satu acuan parameter atau kombinasi. Mungkin karena fasilitasnya yang super mewah, sejarah dan nama besar sang pendirinya, prestasi siswa-siswanya dalam ajang-ajang kompetisi, program-program pembelajarannya yang bermutu, hingga bangunan megah nan menawan. Atau mungkin, bisa pula karena semata gosip yang beredar!

Gelar favorit kadang lebih penting dari status sekolah itu sendiri. Biar swasta asal favorit, maka tak masalah. Biar mahal dan berlokasi di pinggiran tapi kalau itu sekolah favorit, maka pasti diburu. Kalau perlu jual ternak, jual perhiasan atau bahkan jual tanah akan dilakukan asal si anak tersayang bisa bersekolah tempat yang bisa memberikan prestise bagi diri dan keluarga.

Nah, bicara tentang prestise, nampaknya kita sering salah duga. Kadang kita masih belum bisa membedakan antara status favorit dengan unggulan. Kedua gelar itu bisa bersanding bersama, namun bisa pula tidak. Biasanya yang kita tahu, sekolah favorit itu harus unggulan. Ternyata yang terjadi tidak selalu seperti itu. Sebuah sekolah menjadi unggulan pasti karena mutu dan kualitas. Sedangkan sekolah menjadi favorit karena batasan kuantitas semata.

Sebenarnya memang wajar saja, jika sekolah favorit lantas menjadi unggulan. Lihat saja dari subyek pelajarnya. Karena menjadi pilihan pertama, sudah sewajarnya terkumpul anak-anak berprestasi dalam jumlah lebih. Dalam hal ini, sekolah sudah diuntungkan dengan hadirnya input siswa yang sudah terseleksi dengan sendirinya. Selanjutnya, sekolah akan leluasa menggaet bibit-bibit unggul dan berbakat.

Sebenarnya sekolah macam apa yang dibutuhkan anak-anak kita. Apakah yang favorit? Unggulan? Atau mungkin status negeri? Swasta?

Idealnya sebuah sekolah bisa membantu anak agar lebih baik dari sebelumnya. Yang awalnya bodoh menjadi pintar. Sembrono menjadi sopan. Dan mendampingi anak-anak melewati masa perkembangannya dengan dibekali ilmu yang diharapkan bisa bermanfaat kelak untuk kehidupannya.

Mari kita lihat era kini?

Bagi si miskin, asal anaknya bisa masuk sekolah dengan biaya ringan atau kalau perlu gratis, maka itulah sekolah yang tepat buatnya. Bagi si anak yang terbatas dalam penyediaan sarana transportasi, tentu lebih baik jika pilih sekolah yang terdekat. Bagi mereka yang ber-duit sah-sah saja mengeluarkan biaya banyak untuk pendidikan asal anaknya nyaman, aman dan terjamin. Intinya, pilihan sebuah lembaga sekolah, sangat tergantung dari keberadaan dan kemampuan si anak maupun orang tua.

Jangan pula memaksakan diri di sekolah tertentu, padahal sebanarnya tidak memiliki kemampuan yang tepat. Saya kenal beberapa siswa yang kelihatan tertekan bahkan di lingkungan teman-temannya sendiri. Karena kemampuan otak yang pas-pasan, tapi berada di komunitas anak-anak lebih cerdas, sehingga seringkali dia ketinggalan materi pelajaran. Ujung-ujungnya, jalan pintas selalu diambil jika berhadapan dengan tugas yang rumit dan mendesak. Hingga muncul sebutan-sebutan khas oneng menjadi panggilannya sehari-hari. Padahal sebenarnya dia tidak bodoh-bodoh amat. Hanya saja, dia berada di komunitas yang kurang tepat.

Lain cerita dengan anak yang satu ini. Sekolahnya bukan sekolah unggulan. Dari kemampuan otaknya, dia memang lebih menonjol dari teman-temannya. Maka praktis dia selalu menjadi rujukan hampir di setiap tugas rumah. Dia semakin termotivasi dan berusaha mempertahankan prestise-nya di depan teman-teman.

Idealnya memang, pertimbangan para orang tua memilih sebuah sekolah untuk anak-anaknya juga mempertimbangkan kemampuan si anak. Selain itu, harus pula logis alasannya. Bukan semata demi prestise. Mitos yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Membantu anak untuk lebih memungkinkan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yang tepat. Hingga akhirnya memperoleh atau merintis pekerjaan mapan demi keberlangsungan hidup.

Dan satu lagi, jangan terjebak dengan indahnya brosur dan spanduk. Sudah sering kita dengar banyak calon siswa yang terjebak karena tertipu dengan megahnya bagunan dan hebatnya program yang teracantum di brosur. Padahal tidaklah begitu kenyataannya.

Seorang teman pernah berseloroh. Baginya anak-anak tidak perlu sekolah di SD atau SMP favorit. Tapi jika jenjang pendidikan setara SMA atau perguruan tinggi, maka harus betul-betul tempat pilihan. Sesuai dengan kemampuan ekonomi, otak serta bakat dan kemauan si anak.

Jadi, mari kita siapkan sekolah yang tepat untuk anak-anak kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s