Mimpi pun Harus Seragam

KEINGINAN menjadi sama seperti orang lain ternyata hampir berlaku untuk semua orang. Beberapa hari lalu di televisi ada seorang remaja dari keluarga kaya yang rela mengamen demi memperoleh uang cukup untuk membeli baju yang sama dengan baju yang dipakai artis idolanya. Perjuangannya mendapatkan baju tersebut lengkap dengan acara mengamen tadi dibuat dramatis karena disorot dengan kamera dan ditayangkan langsung di televisi. Beberapa kejadian kecil, seperti di todong preman usai mengamen, mungkin sengaja disisipkan agar efek dramatis semakin terasa. Tayangan Reality show ala remaja ini justru lebih mirip sinetron karena sisi kehidupan masa lalu si remaja itu juga diilustrasikan macam adegan rekonstruksi lengkap dengan pemeran pengganti.

Di waktu dan tempat berbeda, seseorang bahkan rela memotong rambut dan mempermak wajahnya hanya agar mirip dengan tokoh idolanya. Sayangnya, keputusannya untuk operasi plastik berbuntut penyesalan. Pasalnya, bukannya semakin mirip, wajahnya justru semakin tidak karuan. Maklum, untuk urusan merubah wajah dari yang pas-pasan agar tampak cantik bukan perkara mudah. Apalagi hanya bermodal nekat dan kantong yang tipis. Harga memang ikut menentukan hasil.

Hasrat untuk menyerupai ternyata juga bukan milik para penggemar pada idolanya. Kematian sang The King of Pop, Michael Jackson, akhir Juni 2009 ini kembali membuka kembali ingatan kita bersama tentang tokoh idola dunia ini. Suatu ketika sebuah stasiun televisi menampilkan perubahan fisik, terutama wajahnya, tahun tahun ke tahun. Fantatastis, fisik yang sama bisa menampilkan wajah yang berbeda. Bukan sekadar berbeda, tapi juga berubah. Hidungnya, bibirnya, raut mukanya hingga kulit tubuhnya. Entah karena alasan kesehatan atau pun sekadar iseng belaka, pasti ada wujud tertentu yang diinginkannya. Intinya, agar dia tampak seperti bukan dia.

Bagi sebagian orang itu mungkin wajar, tapi tidak bagi saya. Manusia jelas diciptakan unik satu sama lain. Tidak ada satupun makhluk yang menyerupai lainnya. Mungkin hidung sama mancung, tapi bibis belum tentu sama. Bisa jadi kembar siam, tapi kelakuan bisa berbeda. Fisik dan sifat mungkin sama, tapi takdir atas keduanya pasti berbeda.

Jika ada yang mengatakan bahwa masing-masing orang memiliki kembaran berjumlah Sembilan, percayalah itu hanya mitos. Mirip pun mungkin juga dipaksakan. Artinya, dalam keadaan diciptakan berbeda, mengapa manusia masih selalu ingin menjadi sama dengan yang lain?

Kebetulan si artis yang sedang naik daun tampak cantik dengan lesung pipi, maka beramai-ramailah para pemujanya menusuk-nusuk pipinya agar tampak lesung. Kebetulan tahi lalat di dagu Rano Karno membuatnya tampak gagah, maka berlombalah pengagumnya memberi titik hitam dengan cara apapun. Dia yang tampak lebih ini dengan itu, maka kita juga harus bisa melakukan itu demi lebih ini.

Keunikan makhluk pasti karena suatu alasan tertentu. Biarlah ini menjadi urusan Tuhan semata. Sehingga ketika keunikan itu dibuat sama pasti ada tindakan melawan Tuhan secara tidak langsung. Oke lah, mungkin karena Maha Baik, maka Tuhan akan membiarkan kita melakukannya. Resiko itu jelas urutan nomor kesekian. Tapi tindakan untuk tampak sama agar terlihat sama itulah yang menjadi masalah.

Mari kita lihat betapa keinginan tak berbeda itu juga terjadi di lingkungan pendidikan kita. Seragam dikenal sebagai alat untuk menjadi mereka sama dan mengurangi kesenjangan dan identitas. Dari TK sampai SMA segala-galanya harus seragam. Pakaian, topi, sabuk, sepatu hingga kaos kaki semuanya seragam. Mungkin apa yang mereka makan pun juga harus seragam. Bahkan ada yang berseloroh, kalau bisa isi otak pun harus seragam.

Biasanya di sekolah-sekolah, untuk masalah seragam, tidak ada pengecualian untuk siapa pun karena alasan apa pun. Seragam merupakan harga mutlak. Bagi yang melanggar, meski hanya berupa variasi kecil pada pakaian, maka siap-siap mendapat hukuman.

Karena keseragaman inilah, ada yang mengatakan bahwa ciri khas dan kepribadian tidak diperkenankan berada di lingkungan sekolah. Sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan karunia Tuhan menjadi terlarang. Manusia yang tiap-tiapnya diciptakan unik dan berbeda tak digubris. Dan prinsip Bhineka Tunggal Ika pun yang oleh bangsa kita begitu dijunjung bisa dieliminir karena alasan keseragaman ini.

Konon aturan itu sudah berlaku sejak tahun 1982. SD menggunakan seragam baju putih dan bawahan merah, SMP bawahan biru baju putih, sedang SMA menggunakan bawahan abu-abu dan baju putih. Terhadap aturan itu ada yang senang. Jelas ini menjadi lahan mencari keuntungan. Dari para petani yang menanam kapas, buruh yang bekerja di pabrik kain, para penjahit yang mengemas kain menjadi baju, para panitia penerimaan siswa baru di sekolah karena pasti ada dana yang disisihkan, hingga para oknum pengambil keputusan yang “biasanya” dapat pajak tak resmi dari para pemenang order.

Siapa yang rugi dengan ketentuan ini?

Meski sebenarnya banyak, tapi suara mereka tak terdengar. Bukan para orang tua yang memiliki kemampuan berlebih, tapi mereka yang hidup dalam keadaan pas-pasan. Bagaimana dengan pihak sekolah? Tergantung. Tapi kalau bisa ya diadakan saja keseragaman ini. “Biarlah kami ikut membantu mengkoordinir”, begitu kata sekolah.

Eloknya, tak cukup hanya berseragam, tapi setiap siswa juga harus memiliki masing-masingnya sebanyak dua atau lebih buah. Untuk jaga-jaga, begitu alasan yang sering muncul.

Baik, untuk menilai perlu tidaknya kan perlu acuan. Acuan bisa muncul jika ada alasan yang mendasarinya. Dulu, maksud pemimpin kita menyeragamkan pakaian sekolah dimaksud untuk meminimalkan perbedaan status sosial antar siswa yang satu dengan yang lain. Sehingga diharapkan tidak ada kontes pamer baju mewah di sekolah. Unsur kedisiplinan juga menjadi pertimbangan lain. Karena, hukuman siap menanti bagi mereka yang melanggar kententuan baju seragam.

Lantas apa suara anda, para pendidik?

Pastinya, kebijakan seragam ini bukan suatu kebijakan mendasar. Dalam dunia pendidikan, seragam adalah atribut. Hanya sebagai unsur penunjang di dunia pendidikan. Prestasi seorang siswa jelas tidak ada hubungannya dengan seragam. Jika ada siswa yang berprestasi dan menganakan baju seragam bagus, mungkin itu hanya kebetulan saja.

Kualitas dunia pendidikan juga jauh dari urusan seragam. Jika dihubungkan dengan kekhawatiran penampilan yang berlebih jika tanpa seragam sekaligus menimbulkan rasa malu pada siswa yang tidak bisa mengenakan pakaian bagus, mungkin perlu diricek ulang. Masalahnya begini, untuk saat ini tampil mewah bukan sekadar tampilan pakaian.

Handphone, tas, buku, pulpen, sepatu, jam tangan, sepeda motor, hingga mobil sudah akrab di urusan anak-anak kita. Beberapa murid saya setingkat SMU malah lebih sering berangkat ke sekolah memakai mobil dari pada sepeda motor. Beberapa handphone yang dipakai murid-murid saya malah sama sekali tidak bisa di jamah oleh sang guru. Bukan karena penyimpanan yang rapi, tapi karena menggunakan teknologi yang lebih up to date. Jauh dari kemampuan seorang guru untuk mengoperasikannya.

Nah, marilah kembali kepada esensi tujuan pendidikan kita. Untuk mencerdaskan anak bangsa. Bukan untuk dimangsa para oknum guru yang memanfaatkannya dengan berbagai iuran dan tarikan biaya yang akhirnya juga masuk kantong pribadi. Seragam itu perlu, tapi tidak harus. Seragam juga baik tapi kebal untuk menjadi buruk. Persamaan itu baik asal tidak ada yang dirugikan. Seragam itu membuat disiplin tapi ada banyak cara lain untuk membuat anak disiplin.

Yang penting dari itu semua, jangan sampai isi otak anak-anak kita juga ikut seragam. Seragam menghafalkan konsep pengetahuan, sehingga mendaat nilai sama padahal setiap mereka akan menjalani hidup yang saling berbeda. Jadi, jika bisa berbeda mengapa harus sama. Betapa indah jika suatu taman terdapat bunga berwarna ungu, biru, merah dan warna, bentuk dan jenis yang berbeda. Dari pada semuanya sama meski indah. Karena segala sesuatu yang sama biasanya mudah membosankan. Betul??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s