Ada Waria di sekolahku

DIA teman satu meja dengan saya di SMP dulu. Selepas itu kami tak pernah bertemu lagi, kecuali di satu kesempatan. Untuk ukuran laki-laki, wajahnya bisa di kata cukup “cantik”. Postur tubuhnya kurus tinggi. Gerak geriknya lemah gemulai. Mimik bicara dan polah tingkahnya betul-betul mirip ekspresi seorang perempuan. Tapi saya tahu betul bahwa dia itu laki-laki. Hampir sebagian besar teman bermainnya adalah perempuan. Dan eloknya sepucuk surat cinta pernah diterimanya dari seorang teman perempuan yang  telah lama menaruh perasaan suka padanya.

KAMI, teman-temannya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan kepribadiannya. Tidak ada rasa canggung saat berdekatan dengannya. Dan dia juga sepertinya menikmati apa yang melekat pada dirinya. Saat yang menakutkan baginya adalah saat pelajaran olah raga. Maklum dengan polah kemayu-nya, tentu menjadi semacam hiburan bagi kami saat melihatnya berolahraga. Lucu dan menjadi sebuah tontonan yang sangat menyenangkan.

Hampir sepuluh tahun setelah kelulusan sekolah kami tak saling bertemu. Kami melanjutkan studi tanpa saling komunikasi. Hingga saat tak sengaja kulihat dia berjalan di sepanjang trotoar sendirian. Dan sungguh mengejutkan, saat itu dia sudah menjelma menjadi sosok gagah dan sama sekali jauh dari sifat feminimnya dulu. Entah apa resepnya, tapi saya sangat mensyukurinya.

Masa-masa kuliah saya di Yogyakarta juga tak lepas dari sosok teman lelaki yang gemulai. Ada beberapa bahkan. Sayangnya nasibnya tak seindah teman SMP dulu. Bukannya sembuh tapi malah terperosok ke pergaulan yang tidak seharusnya. Sifat feminimnya bukan hanya pada tingkahnya saja, tapi mulai menjurus ke orientasi seksual. Wanita bukan lagi sosok yang menarik baginya. Wanita adalah dambaan sosok diri yang diinginkan. Ah, mungkin itu sudah jalan hidup yang dipilihnya.

Sosok teman lelaki setengah perempuan itu tiba-tiba tersibak dari memori saat saya mendapati seorang siswa saya juga menunjukkan gejala yang sama. Hampir siapa pun bisa langsung mengenali pembawaannya saat pertama kali bersapa ria. Suatu kejadian yang mungkin tidak akan dia lupa seumur hidup adalah tatkala seluruh teman sekelas mengolok-olok karena kondisinya. Dia sakit hati dan menangis. Mengadu ke wali kelas. Alhasil teman-temannya yang mengolok-olok dia, terpaksa harus berjemur ria di lapangan selama beberapa jam.

Di komunitas lembaga bimbingan belajar, saya juga mendapati tiga dari sekitar dua ratus anak berkecenderungan sama. Gaya bicara, berjalan, hingga berpakaian jauh lebih gemulai dari teman-teman perempuannya. Teman-teman akrabnya pernah minta tolong dan berpesan pada saya, untuk membantunya agar bisa membawakan diri lebih maskulin.

Saya menyimpulkan, ternyata meski dalam jumlah terbatas dan tertutup, sepertinya karakter setengah lelaki dan setengah perempuan memang nyata. Bukan milik orang dewasa semata. Usia remaja pun sudah mulai berkarakter berbeda. Raga yang berupa lelaki ternyata memiliki karakter dan jiwa perempuan. Orang-orang lebih sering menyebutnya waria (wanita pria). Juga sebaliknya, jiwa maskulin yang dibalut tubuh perempuan. Ada yang bermetamorfosis hingga ke orientasi seksual. Ada yang hanya sebatas rupa dan perilaku. Sebuah fenomena yang sangat beragam.

Sebuah pembelaan terhadap eksistensi mereka saya dapatkan dari seorang waria dari Yogyakarta. Menurutnya, sifat dan pembawaan seseorang sudah dibentuk saat di kandungan. Ketika kromosom sudah menunjukkan perbedaan, ketika itulah kehidupan waria dimulai. Proses perkembangan jiwa dan fisik dengan bantuan kontruksi sosial seolah tidak berpengaruh. Sehingga tidak ada yang disebut “proses menjadi waria”. Waria juga tidak identik dengan fisik, meski juga sedikit banyak mempengaruhi. Dia menolak digolongkan ke dalam jenis kelamin ketiga. Apalagi jika dianggap kelompok hermafrodit. Tapi setuju saja jika dianggap berjenis kelamin perempuan. Jadi intinya, seseorang disebut waria karena ia berfisik laki-laki tetapi mempunyai mind sebagai perempuan.

Pendapat lain menyoal proses yang lebih berperan. Seorang laki-laki yang karena lebih sering bergaul dengan perempuan sehingga terjadi perilaku menyimpang yang dianggap tidak normal. Tidak normal karena tidak lazim dalam kehidupan masyarakat dan bermasalah dengan norma masyarakat serta “agama”. Pergaulan membawanya pada kebiasaan kelompok. Kemana dominasi kelompok itu mengarah, ke arah itulah ia akan bergerak. Solidaritas yang dilanjutkan kebiasaan dan berbuah karakteristik.

Lingkungan menjadi faktor utama, meski faktor genetika juga diakui berperan. Jenis pergaulan, berbagai kebiasaan dari cara berbicara, berpakaian dan berdandan ternyata bisa membawa perubahan perilaku. Karir dan ekonomi juga menjadi salah satu jalan ampuh yang menggiring para lelaki tulen itu merubah diri ke jiwa dan wujud perempuan. Sudah banyak pengakuan dan penelitian yang mengkutub ke pendapat ini.

Meski begitu tentu akan lebih bijak jika perbedaan ini diberlakukan lebih hati-hati. Karena menyangkut kehidupan seorang manusia yang notabenenya sebagai ciptaan Tuhan yang pasti tak akan hadir tanpa sebab. Juga karena ilmu yang masih sangat terbatas mengingat betapa kompleksnya pembicaraan ini.

Tapi untuk saat ini, saya terus terang tidak berminat membawa tema ini untuk lebih mendalam. Saya lebih ingin mengajak anda untuk mencoba merasakan dan berbagi cerita seandainya salah satu pelajar kita ada yang berlaku waria. Baik sebatas polesan semata atau sudah begitu mendalam. Seperti apa yang saya alami sekarang ini.

Memanusiakan waria, mungkin itu jalan tengahnya. Jangan sampai sentimen waria sebagai penyakit sosial sempat mampir di ruang kelas. Sebagai manusia, waria juga berhak atas kebebasan, beragama, memperoleh pendidikan, keadilan hukum, berpolitik, mendapat penghargaan hingga keleluasaan dalam ruang sosial.

Memanusiakan waria pasti berjuta cara. Di Thailand, Sekolah Kampang, sebuah sekolah menengah atas melakukannya dengan menyediakan sebuah toilet khusus untuk kelompok transgender ini. Transvestite Toilet, namanya. Disediakan untuk 200 siswa dari 2600 seluruh siswa. Jumlah yang cukup fantastis.

Akademi Teknik di Provinsi Chiang Mai, pada tahun 2003 membangun toilet “Pink Lotus Bathroom” untuk 15 waria dari 1500 mahasiswa yang menuntut ilmu di sekolah tersebut. Konon langkah ini disetujui Deputi Menteri Pendidikan, Boonlue Prasertopar, yang berencana membangun sejumlah toilet bagi kalangan trangender di sejumlah universitas.

Saat berkomunikasi, respon yang wajar menjadi sesuatu yang berharga bagi kaum marjinal ini. Seorang pendidik tentu lebih memahaminya. Bagaimana mengelola kelas dengan beragam karakter makhluk lugu yang menghuninya. Wajar atau tidak tentu bisa dilatih melalui kebiasaan.

Para pelajar kita, tentu sedang mengalami masa adaptasi terhadap lingkungan secara terus-menerus. Cara mereka bersikap kadang sering berubah. Sulit memegang komitmen pada usia pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa. Jadi dalam fase ini, tentu lingkungan dan pergaulan memiliki pengaruh luar biasa merubah jati diri seseorang. Lantas mengapa tidak di arahkan ke jalur yang sesungguhnya.

Banyak kisah yang melatarbelakangi perubahan orientasi perilaku menjadi waria dari laki-laki karena kurangnya perhatian dari orang tua. Di saat para orang tua menyadari ada perbedaan pada anaknya, segalanya terasa sudah terlambat. Tekanan atas aturan keluarga, intervensi ketat dalam pergaulan, hingga pengisolasian dari interaksi sosial, lebih banyak hanya akan membuat anak kita menjadi pemurung, stress, dan menjadi pemberontak. Sebuah keadaan yang jauh dari kata berhasil. Mungkin terapi ke psikiater perlu di coba. Menyerahkan masalah pada ahlinya selalu lebih baik dari pada mencoba-coba oleh mereka yang awam.

Konon anjuran seorang pakar mengatakan bahwa pendekatan yang baik saat berhadapan dengan anak remaja berpotensi membentuk karakter yang baik pula. Mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih. Termasuk juga memahami bahasa-bahasa yang digemari anak. Untuk itu, bukan hanya remaja yang perlu mendapat edukasi, juga para orang tua. Tentunya agar orang tua mempunyai kapasitas untuk mendidik remaja.

Lantas kenapa guru juga harus terlibat? Seorang guru yang juga bisa berperan sebagai orang tua siswa di sekolah. Memberikan perhatian terhadap perubahan sekecil apa pun yang terjadi pada siswanya. Memberikan pengertian-pengertian positif terhadap perkembangan kejiwaan anak agar bisa melalui dengan sehat.

Mungkin pengalaman M. Yahya, seorang waria bernama Sasa Aprilia di Malang, patut dijadikan tauladan. Mungkin karena doa sang ibu dan kerasnya kehidupan waria, Yahya akhirnya memantapkan diri “kembali” menjadi lelaki tulen. Semua koleksi busana wanita dia masukkan ke dalam peti yang tak ingin lagi dibukanya. Teman dan komunitas waria tempat dia bergabung, ditinggalkannya. Baju koko plus kopiah kembali dia kenakan saat beribadah. Yahya sadar, bahwa sangat terbuka pintu peluang untuk hidup nyaman sebagai lelaki tulen. Hanya satu hal yang memberikan kekuatan bagi dirinya, “Yakin, Tuhan Maha Adil. Dia juga akan menyediakan jodoh untuk saya,” katanya.

Jadi, saya kira tak perlu banyak berdebat ketika sebuah sekolah milik aktivis LGBTiQ di Surabaya mulai mengenalkan diri sebagai lembaga pendidikan untuk kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks dan Queer. Sekolah yang diklaim sebagai sekolah kaum marjinal pertama di Indonesia. Tentu saja saya akan sangat mendukung jika tidak untuk melestarikan atau mengembangkan kuantitas kaum ini yang menjadi tujuan utamanya. Menjadikan kaum minoritas ini lebih baik melalui peningkatan kualitas diri. Ketrampilan, pengetahuan dan komunikasi dengan masyarakat umum. Syukur-syukur, bisa mengajak mereka kembali menjadi lelaki atau perempuan tulen yang memiliki orientasi seksual yang normal.

Kiranya jangan hanya kita menerima manisnya saja, lantas getahnya kita singkirkan karena jijik. Jangan lupa, entah berapa kali senyum mengembang dari bibir saat menyaksikan polah tingkah waria (asli atau tuntutan peran) di media hiburan ala televisi. Namun begitu, ruang toleransi yang diberikan bukan berarti menyingkirkan sebuah harapan. Agar mereka kelak bisa menemukan jati diri sesuai dengan fisiknya. Menjadi lelaki sesungguhnya seperti apa yang terjadi pada teman SMP saya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s