Keinginan Marilyn Manroe

AKTRIS cantik Marilyn Monroe tahu bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Dia sudah merancang skenario bunuh diri yang sensasional meski baru berusia 36 tahun. Siapa peduli! Hidup sudah sangat membosankan baginya. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Dia belum punya keturunan yang bisa mewarisi ketenaran dan tentu saja kecantikannya. Kelak jika sudah mati, dia ingin dirinya bisa kekal dikenang orang melalui keturunanya yang musti cantik seperti dirinya dan juga cerdas. Dan dia sudah menentukan pilihan, satu-satunya orang yang tepat sebagai ayah dari anaknya adalah Albert Einstein. “Dialah orang tercerdas yang pernah hidup di dunia itu”, pikir Monroe. Akhirnya Monroe dan Einstein melakukan suatu pertemuan dan kesepakatan diperoleh. Enstein tidak terlalu berminat dengan Monroe tapi idenya lumayan brilian. Jadi Einstein hanya akan menyumbangkan spermanya untuk dilakukan pembuahan dengan metode inseminasi. Operasi dijalankan dengan hati berdebar. Waktu terus berlalu. Namun apa yang terjadi! Tidak seperti apa yang mereka harapkan, ternyata anak keturunan mereka lahir dengan paras pas-pasan seperti ayahnya dan akal yang bodoh seperti sang ibu!

Ide Marilyn Monroe di atas hanyalah ilustrasi semata. Namun siapa sangka sebenarnya jauh di lubuk hati, kita semua berharap memiliki keturunan yang terbaik seperti apa yang diinginkan Monroe. Berparas menawan, bertubuh sempurna, kekayaan melimpah, kehidupan bahagia, pasangan setia, akal cerdas dan selalu beruntung. Siapa yang tak ingin?! Karena keturunan kita-lah yang akan menghiasi nama kita kelak setelah mati. Kekal tidak dalam arti yang sebenarnya. Dan nama kita akan terus diingat karena orang akan mengatakan, “Dialah sang bapak dari si cerdas, si tampan atau si cantik …”. Jadi, siapa yang tak ingin?!

Sains adalah jawabnya. Meski ragu-ragu mengatakan ini, namun beberapa ilmuwan yang telah begitu menaruh harapan terhadap sains memiliki keyakinan yang sangat begitu kuat. Singkat kata, kloning adalah harapan yang dimaksud. Meskipun saat ini kloning masih belum sempurna dalam menciptakan kembarannya. Kesalahan dan kecelakaan masih berulang kali terjadi, namun semua ini hanyalah masalah waktu. Tatkala Dolly si domba betina berhasil lahir selamat, maka para perekayasa genetika mulai mengubah arah haluan. Bukan hanya domba, kodok, anjing, tikus dan kambing yang menjadi obyek kloning para ilmuwan. Pada akhirnya manusia-pun menjadi sasaran mereka dengan berbagai alasan kesehatan, keturunan dan demi sains itu sendiri. Masyarakat bereaksi keras menolaknya atas dasar norma dan agama. Namun siapa bisa menghentikan “kegilaan” para ilmuwan yang bekerja di laboratorium tersembunyi dan tanpa jejak itu?

Masyarakat mengenal kloning ketika Dolly si domba betina itu lahir, pada 5 Juli 1996, hasil duet karya pakar rekayasa genetika Inggris, Dr. Ian Wilmut dari Roslin Institut dan Dr. Campbell dari PPL Therapeutics Scotlandia. Dolly lahir sebagai makhluk sehat pertama dari hasil kloning setelah melewati kegagalan lebih dari 277 percobaan. Sebagai mamalia pertama hasil kloning, Dolly cukup lama menghirup udara di dunia ini, sekitar enam tahun. Teknik yang diterapkan pada Dolly adalah dengan cara memanipulasi gen sel yang diambil dari payudara seekor domba betina dewasa yang berumur 6 tahun bernama Dorset.

Penyelidikan tentang kloning sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1952 oleh Bricks dan Young yang telah berhasil mengkloning kodok dengan cara memasukkan nukleus yang sedang mengalami proses perpisahan ke dalam sel normal. Sampai saat ini selain domba, beberapa ilmuwan juga berhasil melakukan kloning. Tahun 2005, Korea selatan juga mengumumkan keberhasilannya mengkloning dua serigala langka dan dilanjutkan dengan anjing jenis Afgan dan pudel pada Januari 2007. Tercatat tikus, sapi dan kambing merupakan hewan lain yang telah berhasil dikloning.

Soal keberhasilan domba Dolly biarlah menjadi urusan masa lalu. Siapapun akan setuju kloning terhadap hewan bermanfaat dan sah-sah saja. Kita pusatkan perhatian sebagaimana keinginan Marilyn Monroe untuk melestarikan keturunannya dengan sifat-sifat pesanan. Tepat pukul 11.55 hari Kamis, 26 Desember 2002, melalui operasi Caesar, Direktur Ilmu Pengetahuan Clonaid, Brigitte Boisselier di Hollywood, Florida mengejutkan dunia dengan klaimnya yang menyatakan berhasil menciptakan kloning terhadap manusia. Bayi hasil kloning tersebut lahir dengan berat 3.500 gram, bernama Eve dan berjenis kelamin perempuan. Dilahirkan dari seorang wanita Amerika Serikat berusia 31 tahun yang pasangannya infertil. Identitas wanita tersebut masih dirahasiakan demi alasan hukum dan pribadi.

Jelas berita tersebut sanggup membuat seisi planet bundar ini berdiri. Arthur Caplan, pakar etika kedokteran Universitas Pennsylvania berkerut dahi. Ia ragu Clonaid berhasil melampaui kejeniusan para pakar kloning sebelumnya. Apalagi hanya dengan sepuluh kali percobaan saja. Untuk memperkuat bantahannya, Caplan mengajak kita untuk melihat kembali percobaan Dolly dan hewan lain pada 12 tahun silam. Rata-rata dipelukan lebih dari 400 kali percobaan untuk mendapatkan hasil kloning yang hidup. Hampir setengah dari hewan hasil kloning juga akhirnya menemui ajal kurang dari setahun. Sisanya hidup dengan berbagai gangguan kesehatan.

Pendapat Caplan diamini oleh rekan sesama ilmuwan, Dr. Robert Lanza dari Pengembangan Medis dan Ilmu Pengetahuan Advanced Cell Technologies. Pimpinan perusahaan riset genetic yang tahun 2001 lalu mengumumkan keberhasilannya melakukan kloning terapeutik itu mencibir Clonaid karena selama tidak memiliki track record sama sekali mengenai kloning. Berada pada barisan ini adalah saingan Clonaid, seorang ahli fertilitas dari Italia bernama Dr. Servino Antinori. Ilmuwan yang bersama-sama Clonaid dan Dr. Panos Zavos telah membulatkan tekad untuk melakukan kloning pada sebuah simposium yang diselenggarakan oleh National Academy of Sciences di Washington, AS, pada bulan Januari 2003. Secara pedas Zavos mengatakan, “Boisselier (Clonaid) gagal membuktikan klaimnya. Tidak ada kejadian, tidak ada bukti maupun pertanda, yang ada hanya omongan”. Direktur Lembaga Andrologi AS di Kentucky ini juga mengaku telah berhasil membuat embrio pertama dari bahan genetika sel dewasa. Jika hasil tes menunjukan embrio tersebut sehat, maka tahap selanjutnya akan segera memasukkannya ke dalam kandungan seorang wanita.

Dan keraguan ini semakin menguat setelah melihat latar belakang Clonaid sebagai sekte agama yang mempercayai kehidupan di Bumi ini merupakan ciptaan dari kehidupan di luar angkasa. Kelompok yang dikenal dengan nama sekte Raelian ini mengklaim memiliki 55 ribu anggota yang tersebar diseluruh penjuru di dunia ini pada tahun tersebut. Claude Vorilhon, sang pimpinan sekte, dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi CBB membanggakan perusahaan Clonaid sebagai yang pertama menciptakan manusia melalui metode kloning. Menurutnya kloning adalah jalan menuju keabadian. Kelak, kloning hasil ciptaannya terus mengalami kemajuan sampai pada taraf duplikasi fisik hingga mental. Lengkap dengan kemampuan dan kepribadian makhluk aslinya. Terlepas dari ketidakpercayaan publik, gosipnya kini Eve kini sudah berusia lima tahun. Sehat dan sudah bersekolah di taman kanak-kanak yang berada di pinggiran kota Bahama.

Usaha memulai kloning pada manusia dengan cara lebih halus dilakukan oleh ilmuwan yang dipimpin oleh Christopher Navara dari Obstetrik dan Gynecology, Universitas Pittsburgh. Mereka melakukan percobaan awal dengan mengkloning monyet Rhesus yang dianggap memiliki struktur gen yang mirip dengan manusia. Dilakukan dengan cara mendorong sel telur binatang tersebut untuk membuat duplikatnya sendiri tanpa menggunaan embrio. Pengalaman mereka, penggunaan embrio justru dapat menimbulkan pertentangan. DNA atau gen yang diambil dari sel dewasa akan membuahi sel telur yang telah disiapkan. Dan hasilnya, ternyata masih mengecewakan. Nampaknya metode kloning yang sanggup di terapkan pada tikus dan hewan lain, kurang sesuai untuk Rhesus. Sel telur Rhesus yang diklone tidak bisa menjadi sel stem. Disampaikan lebih lanjut oleh para peneliti, bahan genetika penting dalam sel telur telah hilang dari 724 sel yang di klone.

CERCAAN TAK BERARTI

Anda tidak perlu mengunjungi lagi makam Einstein untuk mengenal lebih dekat lagi dengannya. Karena ketika kekhawatiran kloning pada manusia sudah berani dilanggar, maka tak salah lagi, mereka para penggiat kloning pasti segera membangkitkan lagi tokoh-tokoh besar dengan kemampuan merubah peradaban. Dan kita mungkin harus bersiap-siap untuk melihat kebangkitan lagi Nazi jika pada akhirnya kloning disalahgunakan untuk membangkitkan lagi tokoh perusak itu melalui kembarannya. Pada akhirnya tentu saja kekhawatiran ini perlu muncul. Karena ternyata kloning terhadap hewan tak juga memuaskan para ilmuwan-ilmuwan dibelakang meja operasi kloning terhadap manusia ini.

Sesaat setelah Domba Dolly dilahirkan, Dr. Wilmut dari Roslin Institut dan Dr. Campbell dari PPL Therapeutics Scotlandia, segera mengingatkan untuk tidak melanjutkan usaha kloning untuk manusia dengan alasan apapun. Hampir seluruh negara telah memutuskan untuk melarang kloning terhadap manusia, termasuk Indonesia. Masalah kesehatan yang menjadi rujukan para ilmuwan kloning masih kurang berkenan. Kanker, diabetes, TBC, lepra, alzheimer, leukemia dan AIDS adalah permasalahan kesehatan yang lebih perlu untuk dituntaskan dan tidak mengundang kotroversi.

Pandangan terhadap nilai-nilai umum atau tradisional dan martabat manusia akan hancur karena identitas bisa dibuat-buat. Masalah moral juga dikhawatirkan terabaikan karena manusia hasil kloningpun jelas memiliki moral. Kemampuan yang belum memadai hingga beratus-ratus percobaan yang dilakukan namun hanya menghasilkan satu spesies yang juga cacat. Hukum-hukum agama yang akan terbantahkan karena hidup bisa dimanipulasi. Dan pastinya sains akan merasa dikhianati, karena essensi kloning dipelajari dan diterapkan hanyalah untuk kesejahteraan umat manusia. Sains menjadi alat semata agar tujuan hidup manusia sebagai bentuk komitmen terhadap Tuhan bisa tetap terjaga. Dan semuanya akan diporak-porandakan oleh sains yang ngawur dan kebablasan seperti kloning pada manusia ini.

Di saat derasnya penolakan akan program kloning manusia ini, ternyata penyelidikan ini menyimpan nilai investasi bisnis yang menggiurkan. Layaknya harta karun yang belum dipoles, kita cukup lengah hingga awal Februari 2008 ini, perusahaan RNL Bio di Korea Selatan mulai mengkomersilkan kloning pada anjing. Klien pertama mereka adalah seorang perempuan Amerika asal California dengan nilai US $ 150 ribu atau sekitar Rp. 1,4 miliar. Ia menginginkan RNL Bio bisa mengkloning Booger, anjing jenis Pitbull miliknya, yang telah meninggal. Ekstra sel yang digunakan adalah jaringan telinganya yang diambil sebelum anjing itu meninggal. Tim yang akan bekerja dipercayakan pada tim dari Universitas Nasional Seoul yang tahun 2005 lalu sukses mengkloning anjing pertama di dunia. Untuk saat ini pesanan memang masih sangat sedikit mengingat harganya yang begitu mahal. Namun beberapa tahun lagi ketika peralatan dan penelitian sudah semakin canggih tak pelak lagi harga akan semakin murah. Lagipula di dunia ini cukup banyak orang kaya yang menginginkan kloning terhadap hewan peliharaan mereka meski tahu besar biaya yang harus dikeluarkan.

Dana sebesar US $ 3,7 juta juga pernah dikucurkan untuk tim ilmuwan A&M University di Texas guna proyek Missyplicity. Proyek ini bertujuan untuk mengkloning seekor anjing bernama Missy. Missy adalah paduan dari ketangguhan anjing Siberia dan kecerdasan anjing Skotlandia yang kebetulan beruntung dimiliki oleh seorang miliuner. Tim penggaran proyek ini adalah ilmuwan sama yang menjalankan proyek Genetik Savings & Clone, sebuah perusahaan bioteknologi di Texas yang pada saat itu juga sedang membekukan sel anjing, kucing, kuda, kambing, sapi, singa dan binatang lain dalam upaya untuk mengkloning mereka.

Jadi, pantas saja penolakan dan cercaan yang terus datang, tak sedikitpun menyurutkan keinginan para ilmuwan keblinger ini untuk melakukan kloning pada manusia. Bisa dibayangkan berapa nilai keuntungan yang bisa dihasilkan dari hasil penelitian ini dan apalagi jika kloning terhadap manusia juga dikomersilkan. Ternyata uang juga berada di balik semua ini.

MEREKA YANG BERDEBAT

Ketika saya menuliskan kata “kloning” melalui sebuah situs mesin pencari, dengan mudah saya menemukan ratusan artikel yang mengupas topik ini. Dari sekadar komentar, bantahan, optimisme, hingga cercaan karena dianggap tindakan yang menjijikan dan kejam. Tidak perlu harus seorang ahli sains untuk ikut mengomentari kontroversi kloning terhadap manusia ini. Karena kloning pada manusia bisa dicerna dalam berbagai sudut. Agama, sosial, moral, hingga politik. Maka ketika kita sampai pada sebuah pertanyaan, “Apakah kloning terhadap manusia menjadi tindakan terlarang?”, muncul beragam tanggapan.

Sebelum kita menerima penjelasan yang serius, mungkin kita dengarkan dahulu dari mereka yang notabenenya bukan seorang ahli. Sebuah pendapat cerdas yang mendukung program kloning dan perlu untuk ditindaklanjuti secara optimis, seperti komentar di bawah ini :

Pencurian, pada dasarnya bersifat buruk. Walau motivasinya baik, tetap saja sifat dasarnya adalah buruk. Karena mengambil barang orang tanpa izin jelas merugikan yang bersangkutan. Sementara kloning, pada dasarnya bersifat netral. Kloning itu seperti pisau, baik buruknya tergantung siapa yang memegang, atau siapa yang menggunakan dan apa motivasinya.

Komentar tersebut ditanggapi oleh seorang pengunjung yang menolak terhadap kloning, dengan jawaban :

PADA DASARNYA BURUK, BAIK, atau NETRAL itu masalah waktu. Sampeyan segera mengatakan mencuri itu buruk karena sudah tertera dalam masyarakat bahwa mencuri itu buruk dengan alasan seperti yang sampeyan sebutkan. Sementara kloning adalah sesuatu yang baru dalam masyarakat. Belum banyak pengalaman yang diterima masyarakat dari kloning ini, apalagi kloning manusia. Untuk sementara memang bisa dibilang netral.

PISAU bersifat netral? Coba sampeyan telah lebih jauh dengan rangkaian sehat neuron sampeyan itu. Gw bilang, PISAU PADA DASARNYA BERSIFAT BAIK karena ia memudahkan pekerjaan manusia. Hayoo… Coba sampeyan bandingin dengan logika sampeyan ketika mengatakan MENCURI PADA DASARNYA BURUK. Ketika seseorang membunuh menggunakan pisau maka ia dengan mudah melukai korban hingga segera tewas, bukankah pisau menjadi bersifat baik, karena telah membantu seseorang dalam kemudahan untuk membunuh?

Saya mendapat kesulitan untuk mengenali si empu dari kedua pendapat di atas. Namun saya berharap kedua pemilik asli komentar ini akan tersenyum simpul karena sebuah pujian dari saya. Sekejam apapun program kloning -jika Anda berpendapat demikian- tetap saja memberikan suatu kebaikan bagi kita. Setidaknya mampu merangsang isi tempurung kepala kita untuk terus berpikir dan melampiaskannya dengan kalimat-kalimat yang cerdas serta mencerahkan. Dan tanggapan anda terhadap komentar tersebut, silahkan anda pikir dengan sebaik-baiknya.

Tingginya resiko kematian dan gangguan paska kelahiran pada bayi-bayi hasil rekayasa ini, menjadi persoalan yang serius bagi kebayakan ilmuwan. Bagi Rudolf Jaenisch, seorang ahli kloning dari Massachusetts Institute of Technology, upaya kloning pada manusia adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab, menjijikan serta mengabaikan banyaknya bukti ilmiah dari tujuh spesies mamalia yang sejauh ini sudah dikloning. Maksud Jaenisch, tentu saja pada rumitnya kloning terhadap hewan dengan rata-rata resiko kegagalan 400 banding satu keberhasilan. Ian Wilmut, ilmuwan Inggris dibalik kelahiran Domba Dolly berada di jajaran kelompok ini.

Kemajuan medis di masa depan melalui pemahaman proses-proses biologi seperti pada kasus Dolly memang diperlukan. Namun seperti apa yang dikemukakan National Bioethics Advisory Commission, tidak ada pembenaran sama sekali untuk riset kloning terhadap manusia denga tujuan menghasilkan anak sekalipun. Richard Gardner, ahli perkembangan embrio pada manusia, menambahkan bahwa wanita yang mengandung bayi kloning lebih beresiko terkena satu jenis kanker yang tidak biasa dan unik yang menyerang rahim, yaitu chiriocarcinoma.

Para tokoh agama jelas bisa kita tebak, dimana mereka berdiri. Hukum keluarga, pewarisan, melemahnya institusi perkawinan karena bisa melahirkan anak tanpa hubungan seksual dan keyakinan terhadap Tuhan akan tercerai-berai seandainya program ini tetap dikembangkan. Merendahkan martabat manusia, bertentangan dengan kaidah alam, tidak aman dan anak hasil kloning akan mengalami masalah identitas tentang siapa orang tua genetiknya nanti.

Umat Islam di Indonesia, melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) sepakat menolak dan menganggap kloning terhadap manusia adalah haram. Sikap ini disampaikan melalui Munas VI MUI yang berakhir pada 29 Juli 2000 lalu. Beberapa dampak negatif (mafsadat) yang dianggap merusak nilai-nilai agama diantaranya dapat menghilangkan nasab anak hasil kloning yang berakibat hilangnya banyak hak anak dan terabaikan-nya sejumlah hukum yang timbul dari nasab. Selain itu institusi perkawinan yang telah disyari’atkan sebagai media berketurunan secara sah menjadi tidak diperlukan lagi, karena proses reproduksi dapat dilakukan tanpa melakukan hubungan seksual. Sehingga lembaga keluarga (yang dibangun melalui perkawinan) akan menjadi hancur, dan pada gilirannya akan terjadi pula kehancuran moral (akhlak), budaya, hukum, dan syari’ah Islam lainnya. Dampak lainnya juga akan menimbulkan tidak akan ada lagi rasa saling mencintai dan saling memerlukan antara laki-laki dan perempuan. Dan pada akhirnya maqashid syari’ah dari perkawinan, balk maqashid awwaliyah (utama) maupun maqashid tabi’ah (sekunder) akan hilang. Sedangkan kloning terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewan hukumnya boleh (mubah) sepanjang dilakukan demi kebaikan dan/atau untuk menghindarkan kemudaratan  atau hal-hal yang bersifat negatif.

Pusat gereja Katolik di Vatikan menggambarkan program kloning untuk manusia ini sebagai hasil dari “mentalitas yang brutal”. Melalui almarhum Paus Johannes Paulus, Vatikan menentang semua eksperimen ilmiah yang mengancam apa yang disebutnya sebagai “kemuliaan hidup manusia”. Konon, mantan Presiden AS Bill Clinton dan George W. Buss juga menentang penggunaan dana federal untuk membiayai penelitian kloning pada manusia ini. Mereka menyebutnya sebagai praktek yang berbahaya bagi calon bayi yang akan dilahirkan.

Satu kata yang menjadi sejata para pendukung kelompok kloning terhadap manusia ini adalah kata “netral”. Sains itu netral tergantung untuk apa nantinya sains itu digunakan. Dan kita bisa membantah dengan meminjam kalimat di atas. Alasan kedua adalah demi kemajuan ilmu pengetahuan. Selalu harus ada resiko ketika semuanya belum begitu sempurna. Kematian dan kegagalan 95 persen dari hasil kloning mereka sebelum akhirnya menghasilkan Dolly, Millie dan binatang kloning lain adalah pertanyaan yang bisa dijawab dengan alasan kedua tadi.

Jalan lain untuk mendapatkan anak biologis bagi pasangan yang tidak bisa memilikinya dengan cara biasa, menjadi alasan lain bagi mereka yang memang serasa manusiawi. Adopsi, bayi tabung (inseminasi) dan mungkin ada cara lain lagi yang tidak beresiko sebagai jalan penengah bagi pewarisan dalam sebuah keluarga masih belum cukup. Infertilitas, eugenies dan suku cadang organ manusia menjadi alasan yang membuat para ilmuwan ngotot bereksperimen dengan kloning manusia. Dan terakhir tentu saja keserakahan untuk meraup dolar dalam jumlah besar menjadi pemicu yang menarik sulit bagi mereka untuk melupakan kloning manusia. Kerakusan industri kerapkali mengatasnamakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan kemanusiaan.

Jadi meskipun secara fisik manusia kloning sama dengan aslinya, tingkah laku dan cara berpikirnya pasti akan tergantung dari tingkat pendidikan dan pengalaman yang dia dapatkan ketika mengalami masa pertumbuhan. Kehadiran kloning membuat umat manusia harus memikirkan kembali konsep-konsep hukum, etika, penerapan hukum agama dan sebagainya. Atau, menghapus secara tegas kemungkinan kloning diterapkan kepada manusia semenjak dini. Lengkap dengan segala aturan dan konsekuensi bagi para ilmuwan yang masih ngotot.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s