PIPPI DAN DUNIA ANAK

KEBERHASILAN Pippi Langstrump hidup di imajinasi anak-anak tak lepas dari imajinasi Astrid Lindgren, sang penciptanya. Pippi, tokoh malaikat ciptaan Astrid, adalah malaikat yang nakal, lincah dan penuh akal. Selalu melakukan hal-hal yang diluar dari kewajaran. Memberontak dan menjungkirbalikkan pemahaman umum orang dewasa. Namun pada akhirnya, sang malaikat tetaplah baik, murah hati, suka menolong dan menghibur anak-anak. Itulah salah satu alasan mengapa Pippi begitu dicintai banyak anak dan orang dewasa.

Malaikat Astrid itu dikenal sebagai Pippi si Kaus Panjang[1]. Nama lengkapnya Pippilotta Viktualitas Gorden Tirai Permen Efraimputri Langstrump. Hidup di sebuah kota kecil di negara Swedia. Ia berumur Sembilan tahun dan tinggal di sebuah pondok yang diberinya nama Pondok Serbaneka. Pippi ditemani Tuan Nilson, seekor monyet kecil dan seekor kuda yang sering ditungganginya.

Pippi anak yang sehat. Wajahnya penuh dengan bintik-bintik coklat. Selalu mengenakan sepasang kaus kaki panjang yang warnanya tidak sama, satu hitam dan sebelahnya kuning garis-garis hitam. Sepatunya hitam kebesaran. Sengaja memang, supaya kaki Pippi bisa tumbuh bebas di dalamnya.

Pippi mewakili gambaran sebagai anak cerdas yang memiliki imajinasi sebagaimana layaknya seorang anak sembilan tahun. Pikirannya bebas dalam memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Aturan-aturan orang dewasa tidak berlaku baginya. Tentang sekolah, misalnya. Meskipun pada akhirnya Pippi bersedia bersekolah, alasannya bukan untuk menuntut ilmu. Melainkan karena ia ingin mendapat libur Natal, seperti Thomas dan Annika, sahabatnya. Ia berpikir, tidak adil bila anak-anak lain mendapat libur Natal, sementara ia tidak.

Dalam masalah berhitung, Pippi punya logika sendiri. Saat ibu guru bertanya, “Berapa 7 ditambah 5?”. Pippi menjawab, “Kalau ibu guru sendiri tidak tahu, janganlah ia malah bertanya pada anak yang juga tidak tahu”. Pippi juga tidak habis pikir saat ibu guru mengatakan bahwa 7 ditambah 5 hasilnya sama dengan 8 ditambah 4. Bagi Pippi aturan ini sudah keterlaluan. Biar di sekolah pun harus ada peraturan yang tetap.

Dalam pelajaran membaca pun Pippi sering berulah. Saat ibu guru menulis huruf U di papan tulis, apa yang terbayang di benak Pippi justru seekor ular. Lantas ia pun nerocos tentang pengalamannya bertarung dengan ular raksasa. Saat itu ia dibelit ular itu dan hendak ditelan. Ular itu sangat besar hingga setiap hari harus melahap lima orang dewasa dan dua anak kecil sebagai hidangan penutup. Baginya, huruf U itu sungguh aneh sekali.

Tentu ulah Pippi membuat ibu guru sedih. Dan Pippi lantas tersadar dan tak ingin ibu guru bersedih. Maka untuk menghibur ibu guru, Pippi berkata, “Kau harus mengerti, Bu Guru. Ibuku sekarang sudah menjadi malaikat. Sedang ayahku raja orang hitam. Sementara aku sendiri, seumur hidup selalu berlayar mengarungi lautan. Karena itu aku tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap di antara apel dan ikan-ikan”.

Pippi memang anak nakal, polos dan lincah. Tapi ia sangat disukai teman-temannya. Suatu saat Pippi pernah bercerita pada teman-temannya tentang sebuah sekolah di Argentina. Di sana, kata Pippi, liburan sangat panjang dan sama sekali tidak ada PR. Tidak ada pelajaran berhitung dan hanya belajar membaca pada hari Jumat saja. Sepanjang hari, anak-anak hanya makan permen. Permen itu mereka dapatkan melalui sebuah pipa panjang yang disalurkan dari pabrik permen di dekat sekolah. Jadi, anak-anak terus menerus sibuk makan permen. Guru? Apa yang dilakukannya? Tentu saja ia membuka bungkus permen untuk anak-anak. Dan bahkan anak-anak sebenarnya sama sekali tidak pergi ke sekolah. Mereka mengirim abang mereka sebagai wakil.

******

Begitulah imajinasi anak-anak yang diterjemahkan Astrid dalam kisah Pippi. Di dunia ini banyak sekali anak-anak yang seperti Pippi. Bahkan bukan tidak mungkin, anak-anak di sekitar kita adalah sosok Pippi yang sesungguhnya. Hampir semua yang dipikirkan Pippi adalah impian dan keinginan anak-anak kita. Makan sebanyak-banyaknya, bolos sekolah, tidur sepanjang hari, tidak selalu taat pada aturan, dan semua hal yang dilarang boleh terjadi.

Anak-anak adalah makhluk yang penuh dengan imajinasi. Kadang imajinasi mereka berkembang begitu liar. Lebih liar dan berani dari orang-orang dewasa. Dari mana Pippi mendapatkan imajinasinya? Semuanya ia dapatkan secara natural. Karena begitulah fase seorang anak saat mengalami perkembangan kejiwaan dan pikiran.

Pippi memprotes pelajaran matematika, bukan karena ia tidak suka. Melainkan karena disiplin kepastian tidak memberikan ruang gerak sama sekali. Imajinasinya membolehkannya menjawab 7×7 bukan 49. Di negeri Tuka-Tuka, hasilnya boleh lebih banyak. Jadi 7×7=102 pun boleh. Karena di negeri Tuka-Tuka, ayahnya adalah seorang raja. Dan di sana juga lebih subur dari Swedia.

Mungkin saja apa yang diimajinasikan Pippi, itu pula lah yang diimajinasikan Astrid Lindgren[2] dulu. Memang tidak semua setuju menyukai Pippi. Profesor John Landquist, pakar pedagogi, dalam suatu artikel panjang di harian Altonbladet mengecam Pippi habis-habisan. Carin Stenstrom, melalui harian Svenska Dagledet ikut-ikutan mengkritik Pippi. Pippi menurutnya, telah menjungkirbalikkan apa-apa saja, di sekolah, keluarga, tingkah laku dan sopan santun.

Orang dewasa boleh memperdebatkan apa pun tentang Pippi. Tapi kenyataan mengatakan, bahwa Pippi telah mendapat hati di antara anak. Pippi menjadi simbol anak-anak dalam beremansipasi. Juga wakil dari dunia anak-anak. Cobalah anda sesekali ceritakan tentang Pippi pada si buah hati saat menjelang tidur. Perhatikan antusias yang terpancar di wajahnya saat anda bercerita. Emosi itu pasti muncul karena seolah mereka mendengarkan cerita tentang diri mereka sendiri.

Mungkin perlu, sesekali kita menganggap serius atas apa yang anak-anak pikirkan dan rasakan. Jangan sampai kita mencapnya sebagai anak nakal yang tidak baik karena mereka berkata jujur. Sesekali juga orang dewasa perlu belajar bagaimana seharusnya bersikap terhadap anak-anak. Kisah Pippi bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Untuk mengingatkan pada orang dewasa, yang mungkin telah lupa, bahwa mereka pun pernah menjadi anak-anak.

Kebenaran versi anak tidak selalu sama dengan apa yang disepakati para orang dewasa. Sering kali orang dewasa merasa sok lebih tahu dunia anak dari si anak sendiri. Padahal mereka juga tahu, bahwa seringkali mereka salah. Orang dewasa juga tidak selalu harus lebih benar dari anak-anak atas apa yang dipikirkan anak-anak mereka. Akan terus muncul pertentangan-pertentangan yang kadang memang tak perlu diselesaikan. Dibiarkan saja justru lebih baik dari pada memaksakan diri untuk diselesaikan. Dunia anak biarlah menjadi dunianya. Karena itulah mereka fase yang harus mereka lalui.

Jadi jika pemahaman ini kita bawa ke ruang kelas, anda tentu tidak akan berkerut dahi saat anak-anak mulai nganeh-anehi. Sedikit memahami cukup bisa menjelaskan semuanya. Tak perlu ada amarah apalagi hukuman. Meski memang tidak harus selalu seperti itu. Ada saat dimana harus dibiarkan dan perlu dicegah di saat yang lain. Anda, seorang guru, tentu jauh lebih memahami situasi tersebut.

Itulah fase yang harus setiap anak lalui. Dan itu bukan pilihan, namun memang harus terjadi. Jadi tunggu dan lihat saja. Kalau mampu arahkan ke imajinasi yang positif, terkendali dan dapat dipertanggungjawabkan. Akhirnya saya bisa tersenyum simpul saat mengingat kembali berbagai ke-jail-an yang saya dan teman-teman lakukan dahulu. Ternyata saya pun pernah menjadi sosok Pippi di masa lalu. Bagaimana dengan Anda?


[1] Tiga buku karangan Astrid tentang Pippi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Masing-masing adalah: Pippi si Kaus Panjang (2000), Pippi Hendak Berlayar (2001), dan Pippi di Negeri Taka-Tuka (2001).

[2] Astrid “Anna Emilia Erricson” Lindgren telah wafat Januari 2002, pada usia 94 tahun. Lahir 14 November 1907, di Nas, sebuah perkampungan petani di Vimmerby, Propinsi Smaland, Swedia Selatan. Ia telah menulis 82 buku anak-anak yang telah diterjemahkan ke dalam 76 bahasa dan 43 film dan serial televisi. Khusus Pippi si Kaus Panjang, buku ini telah diterjemahkan ke dalam 51 bahasa dan telah di cetak lebih dari 20 juta eksemplar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s