Ada Kartini di Espero

Saat kemarin jadi pengawas Ujian Nasional (UN) di SMP N 3 Pulosari, tidak sengaja melihat poster RA Kartini di salah satu ruang kelas. Jadi ingat saat kemarin upacara dalam rangka Hari Emansipasi Wanita di Espero (SMP N 2 Pulosari) pada Sabtu, 21 April 2012. Ada yang tidak biasa pada saat upacara kemarin. Kalau biasanya di barisan depan, para guru berjejer rapi dengan kostum PSH, Keki atau batik, kemarin lain cerita.

Cerita lain itu bermula pada jumat atau sehari sebelum upacara, saat jam istirahat. Sebuah obrolan ringan terjadi diantara ibu-ibu guru yang ingin mencoba tampil beda dalam rangka menyemarakkan Hari Kartini atau Emansipasi Wanita. Mau mengadakan lomba-lomba, waktu yang kurang pas. Maklum sekolah lagi repot urusan UN. Lagipula, untuk tingkat kecamatan dan kabupaten sudah ada beberapa lomba yang masuk daftar tunggu. Akhirnya obrolan kesana-kesini itu menghasilkan suatu kesepakatan untuk para ibu guru, TU dan karyawan yang merasa bergender wanita agar besok memakai kebaya.

Lalu para bapak dimohon untuk memakai dasi. Suatu paduan yang agak aneh antara bapak dan ibu guru. Coba banyangkan, satunya memakai dasi dan satunya memakai kebaya. Satunya modern, satunya klasik. Biasanya kalau si wanita berkebaya, maka si pria akan ber-bangkon. Dan saat si pria berdasi maka si wanita akan berblezer.

Ah, biar wagu tak penting. Kesepakatan sudah ditentukan. Kekompakan lebih diutamakan sekarang. Nah, saat hari itu terjadi, maksudnya saat hari upacara berlangsung, kekompakkan itu semakin terbukti. Para ibu-ibu tampil anggun bak para gadis hendak foto pre wedding. Warna macam-macam. Ada putih, pink, orange, putih, hitam, hijau dan coklat. Warna hitam, mmm…. sementara ini tidak ada. Lihat saja foto di atas, kalau dari jauh mirip luna maya dan agnes monika semuanya. Sayang, sang fotografer ambil gambarnya dari dekat. Jadi, tampaklah wajah asli beliau-beliau.

Lalu bagaimana bapak guru, ah ternyata masih kurang kompak. Ada yang berdasi lengkap dengan setelah jas, ada yang berdasi mirip sales (hehehe sorry pak teguh kuadrat), ada yang batik biasa (nah ini karena mungkin kurang info), ada yang kemeja biasa dan ada yang tampil sangaaat biasa, alias kaos semata. Mungkin ingin menampilkan kesederhanaan yang sangat lugas. Tapi meskipun tak tampak kompak, tolerensi tetap terjaga.

Pada hari itu para bapak guru sengaja untuk low profile. Memberikan para ibu guru menunjukkan emansipasinya dan eksistensinya. Buktinya, hampir semua petugas upacara para siswi. Sedangkan untuk inspektur upacara juga diambil oleh ibu guru.

Apa artinnya kisah renungan di depan poster RA Kartini itu? Menurut saya emansipasi wanita juga merupakan toleransi pria. Sebenarnya jargon emansipasi mungkin tak perlu diagung-agungkan asalkan antara lelaki dan perempuan bisa saling menempatkan diri. Emansipasi ala RA Kartini tentu terjadi karena toleransi yang luar biasa dari suaminya. Emansipasi wanita ala Espero juga salah satunya karena toleransi dari para lelaki di Espero.

Marilah tak perlu kita terlalu menguras energi untuk mengupas emansipasi. Emansipasi sudah terjadi di semua komponen perjuangan dan pembangunan bangsa. Kesuksesan emansipasi wanita juga ditunjang karena peranan para lelaki di belakang perempuan. Begitu pula sebaliknya, keberhasilan seorang suami tak lepas dari campur tangan si istri. Marilah kita berperan sebagaimana kodrat. Karena Allah SWT menciptakan lelaki dan perempuan untuk saling melengkapi. Masing-masing memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Terima kasih RA Kartini, Engkau telah membuka mata bangsa ini. Jasamu tak akan lekang oleh waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s