Menakar Iman dengan Sains

Sesuatu yang bersifat spiritual dan menjadi pandangan hidup seseorang, bisa kita sebut sebagai iman. Meskipun hanya menyangkut hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, zaman bisa mengubah iman seseorang. Apa yang seseorang inginkan, rasakan, lihat, dan dengar bisa merubah kadar keimanannya. Setiap kita membutuhkan reaksi yang tepat ketika zaman terus bergerak dengan segala bentuk perubahan. Dan itulah yang menjadikan iman seseorang bergerak seperti gelombang tali. Kadang naik kadang turun atau bisa terlepas sama sekali.

Pada posisi ideal, seharusnya iman bisa membawa pengaruh pada zaman sehingga pergerakan perubahannya menuju ke arah yang bisa dikendalikan. Sayangnya tingkat iman masing-masing orang tidak bisa disamaratakan. Sekalipun dua orang mendapat asupan akhlak dan tauhid yang sama, pada akhirnya akan menghasilkan tingkat keimanan yang berbeda. Bagaimanapun juga iman menyangkut keyakinan dan pandangan hidup seseorang. Bersifat sangat pribadi, tertutup dan abstrak.

Iman juga sesuatu yang sangat berharga. Kisah Bilal yang nyaris meregang nyawa hanya untuk mempertahankan imannya bisa menjadi sebuah permisalan betapa iman itu sangat hakiki sifatnya. Tidak bisa serta merta bisa dihapuskan apalagi jika sudah begitu kuat menancap di hati. Pada keadaan ini kita bisa pastikan bahwa keimanan Bilal betul-betul meresap dalam segala sikap, naluri, lisan dan tindakan. Kisah Qorun bisa bermakna sebaliknya. Karena hanya dengan silaunya emas, dia mampu menggadaikan keimanannya dengan keimanan dalam bentuk lain. Pada kondisi tersebut, Qorun telah menjual imannya dengan begitu murah.

Penjelasan tentang iman seperti di atas bisa jadi kurang begitu tepat. Sulit memang merangkai kata untuk menjelaskan secara tepat dan ideal, “apa itu iman?”. Namun pastinya kita bisa melihat kadar keimanan seseorang apakah dalam posisi naik atau turun dari perilakunya ketika dia menjalankan aturan Tuhan. Karena dengan iman itulah seseorang menjalani bentuk kehidupannya. Menjadi rujukan mutlak ketika dia menghadapi berkah maupun petaka. Lantas, apakah ketika seseorang tidak memiliki iman, dia tidak akan mampu menjalani hidup?

Masalah hidup bisa ditinjau dari dua sisi, secara ruhani dan fisik. Asal jantung bisa memompa darah ke seluruh organ tubuh, paru-paru masih mampu bekerja sebagai mesin siklus udara, serta organ-organ lain bisa bekerja dengan semestinya, maka hiduplah tubuh itu. Tapi menjalani kehidupan hanya dengan jasad semata, tanpa diiringi dengan kehidupan ruhani hanya seperti orang hilang ingatan. Tanpa ada makna apapun dan terasa hambar. Dalam kenyataannya memang banyak diantara kita tidak menyertakan iman dalam kehidupannya. Atau tepatnya kadar keimanannya berada pada posisi yang sangat rendah.

Iman bisa diukur kadarnya dengan bantuan sains. Sains bukan hanya apa yang kita baca dan pelajari dari buku-buku sains. Bukan pula sebatas perangkat teknologi yang supercanggih dan mengagumkan produk masyarakat modern. Sains lebih dari sekadar sekumpulan tentang fakta-fakta ilmiah belaka. Sains yang ideal meliputi nilai-nilai, perilaku, proses dan fakta-fakta ilmiah yang berangkai secara terikat sebagai satu kesatuan. Melupakan salah satu saja akan menjadikan sains kurang kompak dan berpotensi memberikan makna yang berbeda.

Kita tidak perlu membela sains dengan begitu sengit. Apalagi jika sains yang kita ketahui ternyata kurang akurat. Sains sangat rentan akan perubahan. Sains saat ini boleh jadi sebagai simbol keagungan suatu peradaban, namun dimasa lain bisa menjelma tak lebih dari sekadar cemoohan karena munculnya konsep lain yang lebih akurat. Atau, mungkin karena sains yang dihasilkan ternyata tidak diperlukan. Di dunia sains, asal bisa memunculkan konsep yang lebih tepat, apalagi lengkap dengan pembuktiannya, maka dengan sukarela serta senang hati saingan bisa menjadi sekutu. Hal ini bukan berarti kita akan membiarkan sains terus digerogoti oleh tinjauan lain di luar sains. Urusan sains adalah selama berada dalam logika, maka diluar logika bukan urusan sains. Tidak perlu saling bersentuhan karena memang tidak berguna. Kecuali karena suatu hal, yaitu persamaan yang mengikat.

Sains berkembang melalui otak. Sedangkan iman, berkembang lebih malalui hati. Bukan berarti karena berbeda sumber, maka sains dan iman akan terpisah selamanya. Karena beberapa persamaan inilah, maka sains bisa berguna untuk menakar kadar iman seseorang. Sains dan iman, masing-masing memiliki akibat atau produk. Sikap seseorang yang memiliki pengetahuan sains dan meresapi iman, akan dia wujudkan dalam suatu tindakan yang identik, yaitu menghasilkan suatu produk.  Produk sains dalam bentuk teknologi dan postulat atau konsep. Sedangkan produk iman adalah masjid, zakat, qurban, kaligrafi, kitab suci dan semua benda yang bernuansa religi.

Selain itu sains dan iman ternyata bisa dikembangkan dan memiliki posisi sama, yakni sebagai ilmu. Para pencari ilmu memiliki cara yang berbeda-beda dalam menggalinya, namun sama-sama bisa diusahakan. Tentu saja sebagai ilmu, sains dan iman tidak akan berkurang meskipun telah ditularkan pada sekian banyak orang. Bahkan sebaliknya, akan senantiasa bertambah semakin mendalam.

Iman memang semata urusan dengan Sang Pencipta, sehingga jika dikehendaki, maka seseorang bisa mendapat anugerah berapa keimanan meskipun hanya melalui sebuah peristiwa kecil namun dramatis. Para muallaf kebanyakan mendapatkan keimanan karena anugerah Tuhan melalui perantaraan sesuatu. Logika hanyalah sebagai perantara. Demikian juga ilmu yang muncul selain karena usaha pencarian, juga karena semacam anugerah. Mungkin ini sulit diterima dalam dunia ilmiah, namun bagaimana kita bisa menjelaskan ketika dalam kesempatan kita mudah dalam berpikir dan mengalami keadaan sebaliknya pada keadaan yang berbeda.

Tuhan ternyata juga memberikan petunjuk kepada manusia dalam menggunakan kemampuan akalnya mencari kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan nasibnya di dunia melalui mempelajari Al-Qur’an dan sunnatullah (QS. 28: 77). Seorang penuntut ilmu (ulil albab) adalah orang-orang yang diberi kebajikan karena dapat mengambil pelajaran. Pada saat itu artinya orang tersebut mendapat hikmah dari Tuhan sebagai orang pilihan dan dikehendaki (QS. 02: 269). Dan karena pada dasarnya segala seisi semesta ini tidak diciptakan tanpa kesia-siaan. Sehingga mekanisme kerja alam, seperti pergantian siang dan malam, merupakan tanda-tanda bagi mereka yang memahami ilmu (sains) (QS. 3: 190-191).

Seorang ulama besar bernama Imam Alghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulum Al-din, mengatakan bahwa “jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya ia merenungkan kitab suci (Al-Qur’an)”. Kita mungkin bisa tambahkan penjelasan lagi, bahwa dengan mempelajari kitab suci setidaknya dua hal yang akan kita dapatkan, yaitu sains (ilmu pengetahuan) dan iman.

Tentunya masih banyak lagi firman-firman Tuhan yang menguatkan pernyataan bahwa iman dan sains merupakan satu kelompok dalam rumpun ilmu. Hanya saja tempat inkubasinya berada pada tempat yang berbeda. Tapi toh itu tidak berarti kedua entitas ini berlawanan. Beriman dengan ilmu lebih baik dari mereka yang beriman secara membabi buta. Sains dengan ilmu lebih menjanjian daripada sains yang muncul secara tidak sengaja alias kebetulan. Senada dengan apa yang dikatakan Einstein, bahwa Tuhan dalam menciptakan semesta ini bukanlah seperti permainan dadu. Tidak secara main-main, mengandung maksud dan tujuan tertentu serta tidak secara kebetulan.

Ternyata sains dan iman berbanding lurus. Semakin tinggi kemampuan sains seseorang, maka kadar keimanannya akan meningkat jika tidak ada hambatan apapun yang mencampuri keduanya. Meminjam konsep dari ilmuwan George Simon Ohm, melalui hukum Ohm, bahwa tegangan listrik berbanding lurus dengan kuat arus pada suhu atau hambatan tetap. Selama suhu tetap, maka nilai hambatan yang menghalangi arus litrik juga tetap. Sehingga jumlah arus yang mengalir sebanding dengan besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh sumber tegangan. Pada saat tegangan meningkat, maka jumlah arus yang bergerak juga meningkat. Dan akan berlaku sebaliknya pada kondisi lain.

Iman sebagai sumber tegangan akan berbanding lurus dengan sains sebagai kuat arus, selama tidak ada besaran lain yang terlibat dalam hubungan antara iman dan sains. Asalkan tidak ada pengaruh maksiat dan nafsu, maka sains yang dipelajari akan mempengaruhi iman seseorang. Ketika semakin banyak sains yang dipelajari, maka semakin meningkat rasa iman dalam dirinya. Jika sebuah kurva disusun dari sumbu iman dan sains, mungkin bisa kita lihat garis lurus yang menjulang ke atas secara diagonal dari posisi nol. Maka kita bisa menjada dan memelihara iman dengan mempelajari semesta ini. Dan mungkin itulah maksud sebenarnya Tuhan menciptakan ala mini, agar kita senantiasa berpikir.

Sesuatu yang bersifat spiritual dan menjadi pandangan hidup seseorang, bisa kita sebut sebagai iman. Meskipun hanya menyangkut hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, zaman bisa mengubah iman seseorang. Apa yang seseorang inginkan, rasakan, lihat, dan dengar bisa merubah kadar keimanannya. Setiap kita membutuhkan reaksi yang tepat ketika zaman terus bergerak dengan segala bentuk perubahan. Dan itulah yang menjadikan iman seseorang bergerak seperti gelombang tali. Kadang naik kadang turun atau bisa terlepas sama sekali.

Pada posisi ideal, seharusnya iman bisa membawa pengaruh pada zaman sehingga pergerakan perubahannya menuju ke arah yang bisa dikendalikan. Sayangnya tingkat iman masing-masing orang tidak bisa disamaratakan. Sekalipun dua orang mendapat asupan akhlak dan tauhid yang sama, pada akhirnya akan menghasilkan tingkat keimanan yang berbeda. Bagaimanapun juga iman menyangkut keyakinan dan pandangan hidup seseorang. Bersifat sangat pribadi, tertutup dan abstrak.

Iman juga sesuatu yang sangat berharga. Kisah Bilal yang nyaris meregang nyawa hanya untuk mempertahankan imannya bisa menjadi sebuah permisalan betapa iman itu sangat hakiki sifatnya. Tidak bisa serta merta bisa dihapuskan apalagi jika sudah begitu kuat menancap di hati. Pada keadaan ini kita bisa pastikan bahwa keimanan Bilal betul-betul meresap dalam segala sikap, naluri, lisan dan tindakan. Kisah Qorun bisa bermakna sebaliknya. Karena hanya dengan silaunya emas, dia mampu menggadaikan keimanannya dengan keimanan dalam bentuk lain. Pada kondisi tersebut, Qorun telah menjual imannya dengan begitu murah.

Penjelasan tentang iman seperti di atas bisa jadi kurang begitu tepat. Sulit memang merangkai kata untuk menjelaskan secara tepat dan ideal, “apa itu iman?”. Namun pastinya kita bisa melihat kadar keimanan seseorang apakah dalam posisi naik atau turun dari perilakunya ketika dia menjalankan aturan Tuhan. Karena dengan iman itulah seseorang menjalani bentuk kehidupannya. Menjadi rujukan mutlak ketika dia menghadapi berkah maupun petaka. Lantas, apakah ketika seseorang tidak memiliki iman, dia tidak akan mampu menjalani hidup?

Masalah hidup bisa ditinjau dari dua sisi, secara ruhani dan fisik. Asal jantung bisa memompa darah ke seluruh organ tubuh, paru-paru masih mampu bekerja sebagai mesin siklus udara, serta organ-organ lain bisa bekerja dengan semestinya, maka hiduplah tubuh itu. Tapi menjalani kehidupan hanya dengan jasad semata, tanpa diiringi dengan kehidupan ruhani hanya seperti orang hilang ingatan. Tanpa ada makna apapun dan terasa hambar. Dalam kenyataannya memang banyak diantara kita tidak menyertakan iman dalam kehidupannya. Atau tepatnya kadar keimanannya berada pada posisi yang sangat rendah.

Iman bisa diukur kadarnya dengan bantuan sains. Sains bukan hanya apa yang kita baca dan pelajari dari buku-buku sains. Bukan pula sebatas perangkat teknologi yang supercanggih dan mengagumkan produk masyarakat modern. Sains lebih dari sekadar sekumpulan tentang fakta-fakta ilmiah belaka. Sains yang ideal meliputi nilai-nilai, perilaku, proses dan fakta-fakta ilmiah yang berangkai secara terikat sebagai satu kesatuan. Melupakan salah satu saja akan menjadikan sains kurang kompak dan berpotensi memberikan makna yang berbeda.

Kita tidak perlu membela sains dengan begitu sengit. Apalagi jika sains yang kita ketahui ternyata kurang akurat. Sains sangat rentan akan perubahan. Sains saat ini boleh jadi sebagai simbol keagungan suatu peradaban, namun dimasa lain bisa menjelma tak lebih dari sekadar cemoohan karena munculnya konsep lain yang lebih akurat. Atau, mungkin karena sains yang dihasilkan ternyata tidak diperlukan. Di dunia sains, asal bisa memunculkan konsep yang lebih tepat, apalagi lengkap dengan pembuktiannya, maka dengan sukarela serta senang hati saingan bisa menjadi sekutu. Hal ini bukan berarti kita akan membiarkan sains terus digerogoti oleh tinjauan lain di luar sains. Urusan sains adalah selama berada dalam logika, maka diluar logika bukan urusan sains. Tidak perlu saling bersentuhan karena memang tidak berguna. Kecuali karena suatu hal, yaitu persamaan yang mengikat.

Sains berkembang melalui otak. Sedangkan iman, berkembang lebih malalui hati. Bukan berarti karena berbeda sumber, maka sains dan iman akan terpisah selamanya. Karena beberapa persamaan inilah, maka sains bisa berguna untuk menakar kadar iman seseorang. Sains dan iman, masing-masing memiliki akibat atau produk. Sikap seseorang yang memiliki pengetahuan sains dan meresapi iman, akan dia wujudkan dalam suatu tindakan yang identik, yaitu menghasilkan suatu produk.  Produk sains dalam bentuk teknologi dan postulat atau konsep. Sedangkan produk iman adalah masjid, zakat, qurban, kaligrafi, kitab suci dan semua benda yang bernuansa religi.

Selain itu sains dan iman ternyata bisa dikembangkan dan memiliki posisi sama, yakni sebagai ilmu. Para pencari ilmu memiliki cara yang berbeda-beda dalam menggalinya, namun sama-sama bisa diusahakan. Tentu saja sebagai ilmu, sains dan iman tidak akan berkurang meskipun telah ditularkan pada sekian banyak orang. Bahkan sebaliknya, akan senantiasa bertambah semakin mendalam.

Iman memang semata urusan dengan Sang Pencipta, sehingga jika dikehendaki, maka seseorang bisa mendapat anugerah berapa keimanan meskipun hanya melalui sebuah peristiwa kecil namun dramatis. Para muallaf kebanyakan mendapatkan keimanan karena anugerah Tuhan melalui perantaraan sesuatu. Logika hanyalah sebagai perantara. Demikian juga ilmu yang muncul selain karena usaha pencarian, juga karena semacam anugerah. Mungkin ini sulit diterima dalam dunia ilmiah, namun bagaimana kita bisa menjelaskan ketika dalam kesempatan kita mudah dalam berpikir dan mengalami keadaan sebaliknya pada keadaan yang berbeda.

Tuhan ternyata juga memberikan petunjuk kepada manusia dalam menggunakan kemampuan akalnya mencari kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan nasibnya di dunia melalui mempelajari Al-Qur’an dan sunnatullah (QS. 28: 77). Seorang penuntut ilmu (ulil albab) adalah orang-orang yang diberi kebajikan karena dapat mengambil pelajaran. Pada saat itu artinya orang tersebut mendapat hikmah dari Tuhan sebagai orang pilihan dan dikehendaki (QS. 02: 269). Dan karena pada dasarnya segala seisi semesta ini tidak diciptakan tanpa kesia-siaan. Sehingga mekanisme kerja alam, seperti pergantian siang dan malam, merupakan tanda-tanda bagi mereka yang memahami ilmu (sains) (QS. 3: 190-191).

Seorang ulama besar bernama Imam Alghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulum Al-din, mengatakan bahwa “jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya ia merenungkan kitab suci (Al-Qur’an)”. Kita mungkin bisa tambahkan penjelasan lagi, bahwa dengan mempelajari kitab suci setidaknya dua hal yang akan kita dapatkan, yaitu sains (ilmu pengetahuan) dan iman.

Tentunya masih banyak lagi firman-firman Tuhan yang menguatkan pernyataan bahwa iman dan sains merupakan satu kelompok dalam rumpun ilmu. Hanya saja tempat inkubasinya berada pada tempat yang berbeda. Tapi toh itu tidak berarti kedua entitas ini berlawanan. Beriman dengan ilmu lebih baik dari mereka yang beriman secara membabi buta. Sains dengan ilmu lebih menjanjian daripada sains yang muncul secara tidak sengaja alias kebetulan. Senada dengan apa yang dikatakan Einstein, bahwa Tuhan dalam menciptakan semesta ini bukanlah seperti permainan dadu. Tidak secara main-main, mengandung maksud dan tujuan tertentu serta tidak secara kebetulan.

Ternyata sains dan iman berbanding lurus. Semakin tinggi kemampuan sains seseorang, maka kadar keimanannya akan meningkat jika tidak ada hambatan apapun yang mencampuri keduanya. Meminjam konsep dari ilmuwan George Simon Ohm, melalui hukum Ohm, bahwa tegangan listrik berbanding lurus dengan kuat arus pada suhu atau hambatan tetap. Selama suhu tetap, maka nilai hambatan yang menghalangi arus litrik juga tetap. Sehingga jumlah arus yang mengalir sebanding dengan besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh sumber tegangan. Pada saat tegangan meningkat, maka jumlah arus yang bergerak juga meningkat. Dan akan berlaku sebaliknya pada kondisi lain.

Iman sebagai sumber tegangan akan berbanding lurus dengan sains sebagai kuat arus, selama tidak ada besaran lain yang terlibat dalam hubungan antara iman dan sains. Asalkan tidak ada pengaruh maksiat dan nafsu, maka sains yang dipelajari akan mempengaruhi iman seseorang. Ketika semakin banyak sains yang dipelajari, maka semakin meningkat rasa iman dalam dirinya. Jika sebuah kurva disusun dari sumbu iman dan sains, mungkin bisa kita lihat garis lurus yang menjulang ke atas secara diagonal dari posisi nol. Maka kita bisa menjada dan memelihara iman dengan mempelajari semesta ini. Dan mungkin itulah maksud sebenarnya Tuhan menciptakan ala mini, agar kita senantiasa berpikir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s