Menjadi Penjilat

SEMESTA ini hadir secara berpasangan. Hawa tercipta untuk Adam. Siang selalu mengiringi malam. Jika ada matahari, maka bulan pun siap mendampingi. Ada baik ada buruk. Susah senang selalu bersama. Dan… seorang penjilat pun pasti memiliki pasangan. Tentu akan aneh jika menjilat sesuatu yang tak ada. “Jadi, seorang bawahan yang berwatak penjilat, pasti ada karena seorang atasan yang suka dijilat”, begitu kata sang bijak.

Untuk menjadi seorang penjilat, sebenarnya tidaklah sulit. Sama mudahnya menjadi orang yang dijilat. Keduanya muncul secara alami dan terlahir dengan cita rasa yang menyenangkan. Bakat tak diharapkan ini sudah terlatih dan terbiasa sejak usia masih kecil. Siapa yang melatih? Ya, tentu diri sendiri. Lingkungan hanya memberikan kesempatan saja. Kenapa terbiasa? Karena pasangan ini mudah kita jumpai di mana saja. Dalam lingkup teman sepermainan, lingkungan kerja atau bahkan dalam keluarga.

Bakat ini bukan hanya terlatih dan terbiasa, tapi juga bisa ditingkatkan mutunya. Teknik-tekniknya, variasinya, atau mungkin kadar dosanya bisa disesuaikan. Sangat fleksibel dan relatif. Saat kondisi memungkinkan, maka muncullah kemampuan menjilat ini secara efektif. Begitu teknik menjilat semakin berkualitas, maka rasa nyaman dijilat pun akan lebih terasa. Akhirnya keduanya, bak kumbang dan bunga, tak bisa terpisahkan. Cuma mereka, para korban jilat menjilat ini, yang termangu menatap pasangan ini dengan sinis dan prihatin.

Saat kecil, bakat menjilat saya sudah begitu terasah. Asal ada tamu penting berkunjung, segera muncul inisiatif membuatkan teh hangat. Dan di saat tamu sedang memuji hidangan saya, padahal mungkin hanya sebatas basa basi, maka keluarlah semua permintaan dan keinginan saya kepada orang tua. Momen ini harus berlangsung di depan tamu sesaat setelah teh hangat di sajikan. Tak lupa wajah memelas ikut menyumbang hangatnya suasana “kekeluargaan” itu. Tentu, mana ada orang tua yang tidak meng-iya-kan permintaan buah hatinya yang sudah begitu rajin menyiapkan hidangan tanpa diminta. Apalagi disampaikan di depan tamu lagi.

Untungnya, akhir cerita tidak selalu menyenangkan. Karena strategi ayah ibu ternyata lebih cerdik. Kata-kata “iya” tadi hanya formalitas semata. Mirip pengumuman hasil ujian sekolah, jawaban akhirnya sering kali tidak memuaskan. Nasehat agar bisa memahami keadaan orang tua hingga tatapan marah ayah selalu menjadi akhir pahit bagi saya. Meski sekarang saya memahami keadaan itu, tapi apalah artinya kesusahan orang tua bagi seorang anak kecil? Meski sering gagal, tapi setidaknya memunculkan sebuah kesimpulan baru buat saya, bahwa ternyata teknik menjilat model begini, tidak begitu manjur untuk orang tua saya. Akal ini jadi terlatih untuk semakin kreatif.

Dan eloknya, bakat menjilat itu tak pula lekang oleh waktu. Saat hidup bertetangga, kemahiran ini lebih sering muncul dari pada bakat lain yang lebih berguna. Betapa saya bisa mendadak berakrab ria dengan tetangga yang sedang menggelar hajatan. Tak tanggung-tanggung, mata ini yang biasanya sudah rindu kasur sesaat setelah jam makan malam, bisa bertahan melek sampai subuh demi obrolan santai dengan tetangga tadi.

Padahal dalam keseharian kami jauh bukan main. Bukah hanya jarak rumah saja, tapi juga hati kami. Jangankan bercanda, bertegur sapa saja mungkin tak sekalipun. Prinsip tidak mencampuri urusan orang lain begitu lugu saya terapkan dalam bertetangga. “Jauh di mata jauh pula di hati”, begitu kata pujangga. Terpenting bisa hidup rukun dan damai. Syukur-syukur hati bisa diajak bicara tentang mewujudkan toleransi antar tetangga. “Ya, sesekali menyenangkan tetangga kan wajar-wajar saja to?” begitu kata saya membela diri.

Kelihatannya sebuah perilaku yang baik dan wajar. Tapi sebenarnya hanya beda-beda tipis dengan menjilat. Melakukan sesuatu saat ada kemauan tersembunyi di baliknya, apalagi kalau bukan sedang menjilat. Bukankah bermanis-manis saat ada kepentingan dan bermasam-masam saat tak berkepentingan bisa dikatakan menjilat? Dan biasanya, kemauan itu pasti demi kepentingan dan keuntungan pribadi. Masa bodoh dengan tetangga saat hajatan usai. Ya, begitulah akibat dari kedangkalan akal saya karena kebodohan.

Dan akhirnya, kemahiran menjilat saya semakin canggih ketika raga ini berada di lingkungan kerja. Persaingan yang keras, kebutuhan hidup yang menggerus akal sehat, sedikit kemahiran bersilat lidah dengan dukungan “kecerdikan” yang sederhana menjadikan diri ini pandai mengambil hati atasan. Jika kemudian saya menyadari ternyata harus mengorbankan teman, ya, sekali-kali kenapa tidak? Bukankah jer basuki mawa bea memang berlaku untuk semua urusan? Termasuk urusan dosa seperti menjilat ini?

Repotnya, habitat kerja saya adalah sebuah sekolah. Di sana saya berinteraksi dengan anak-anak yang masih labil dalam menata hati dan jiwa. Ada juga rekan-rekan seprofesi yang memiliki karakter beragam karena tempaan lingkungan dan keluarga yang berbeda. Sehingga wajar-wajar saja jika ternyata kemahiran ini menjadi semacam virus berbahaya yang mudah sekali menular. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Namun begitulah manusia, begitu sesuatu itu terjadi di mana-mana, maka pantaslah naik peringkat menjadi wajar-wajar saja.

Dan benar dugaan saya, suatu saat ada dua orang siswa yang pernah hampir saja bersitegang karena saling menuduh. Maklum dua yang melakukan kesalahan, tapi satu yang kena hukuman. Tentu saja si terhukum protes. Menuduh si teman menjilat sang guru BK dengan membuka kedok sehingga bisa selamat dari hukuman. Sang guru BK karena keenakan dijilat, tak merasa bahwa pengakuan itu lebih pada memojokkan. Hukuman berlangsung tak adil. Yah, itulah salah satu kelemahan manusia. Perseteruan dua siswa ini asal muasalnya memang karena kesalahan keduanya. Tapi pertengkaran diantara keduanya, lebih karena praktik jilat menjilat ini.

Wabah ini juga menular pada rekan sesama guru. Gaya permainannya memang lebih gesik, tapi tetap saja masih gegabah. Dengan segera gelagat keanehan ini dicium. Semua berbuah kebencian dari teman lain dengan tuduhan menjilat atasan. Tuduhan itu memang belum terbukti, tetapi konon gelagat sudah dianggap cukup jelas. Gosip yang beredar pun selalu menuduh sosok itu menjadi biang jika ada rekan lain yang kena teguran atasan. “Itu pasti anu yang mengadu!”, begitu kata teman lain sambil emosi.

Menjilat itu memang mudah tapi bukan berarti tanpa resiko. Asal tahu cita rasa atasan dan tahu ke arah mana atasan menuju, menyepakati setiap ide dan keputusannya dengan sedikit menyanjung, maka cukuplah modal menjadi penjilat. Tak perlu kemampuan khusus, cukup standar saja lah.

Bicara masalah resiko, apa sih sesuatu di dunia ini yang muncul tanpa resiko? Dibenci kawan, itu resiko terendah yang bisa di terima si penjilat. Tak punya inisiatif dan kemandirian serta selalu tergantung pada kemauan dan keberadaan atasan adalah resiko lain. Tapi resiko lain yang lebih berat adalah rejeki yang tak halal untuk mengisi perut keluarga. Sanggupkah kita? Tampaknya saya harus segera bertobat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s