Bang Maman dari Kali Pasir

Bang Maman bukan seleb, bukan pula pejabat. Bang Maman hanyalah seorang pedagang buah dari Kali Pasir. Namun siapa sangka, dalam beberapa hari ini Bang Maman menjadi sangat populer. Bahkan bagi anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) Bang Maman luar biasa populer.Di televisi hangat dibicarakan tentang Bang Maman, baik itu pada acara talkshow maupun pada siaran berita. So, apa sebab Bang Maman populer? Jawabannya karena istri simpanan. Ceritanya begini :

Bang Maman adalah pedagang buah dari Kali Pasir. Bang Maman punya anak perempuan bernama Ijah. Suatu hari Bang Maman memanggil Ijah dan berkata ingin menjodohkannya dengan Salim, anak Pak Darip orang kaya di Kali Pasir. Tak lama setelah Salim dan Ijah menikah, Pak Darip meninggal dunia. Pak Darip meninggalkan harta warisan berupa kebun yang sangat luas kepada Salim.

Salim tidak bisa mengurus kebun peninggalan ayahnya dan meminta Kusen mengurusnya. Istri Kusen mempunyai rencana jahat dan meminta suaminya menjual kebun Salim. Setelah kebun dijual mereka melarikan diri. Salim menjadi miskin, harta warisan ayahnya sudah habis. Akhirnya Salim berjualan buah di pasar.

Bang Maman mengetahui Salim telah jatuh miskin. Bang Maman ingin Ijah bercerai dengan Salim, karena Salim telah jatuh miskin. Ijah tidak mau, biar miskin Ijah tetap setia pada Salim.

Akhirnya Bang Maman meminta bantuan kepada Patme supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim. Patme setuju atas permintaan Bang Maman. Kemudian Patme datang ke rumah Salim dan berbicara dengan Ijah. Patme mengaku sebagai istri Salim. Patme dan Ijah bertengkar. Ijah merasa kecewa dan marah kepada Salim.

Kemudian Salim memberikan penjelasan kepada Ijah, namun Ijah tidak percaya. Kemudian Salim pergi meninggalkan Ijah.

Suatu hari Ijah berkenalan dengan Ujang. Ujang adalah seorang perampok yang sudah lama dicari polisi. Dengan menyamar seperti orang kaya Ujang datang melamar Ijah. Lamaran Ujang diterima dan akhirnya Ujang dan Ijah menikah.

Pada saat pernikahan berlangsung datanglah polisi menangkap Ujang dan Gentong. Mereka sudah lama dicari polisi karena sebagai perampok. Mereka akhirnya dibawa ke kantor polisi dan Bang Maman sebagai saksi.

Polisi minta agar semuanya tenang. Dijelaskan oleh polisi bahwa yang ditangkap adalah buronan. Mereka ditangkap karena sering berbuat jahat. Mereka suka merampok dan menipu. Akhirnya pesta perkawinan berangsur-angsur bubar.

Begitu ceritanya sobat. Apa? Tidak paham? hehehe… anda saja tidak paham, apalagi anak-anak kelas 2 SD. Bang Maman adalah tokoh rekaan yang muncul dalam LKS Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta terbitan oleh CV. Media Kreasi yang diperuntukkan untuk kelas 2 SD.

La… ko bisa Bang Maman muncul di buku pelajaran SD? Jawabannya bisa bermacam macam. Pertama, si pembuat cerita adalah salah satu dari ribuan korban sinetron yang sering mengumbar cerita aneh, wagu, dan superlebay. Isinya tak jauh dari perebutan harta dan balas dendam tapi dengan teknik yang norak. Stasiun TV-pun tak kalah norak dengan memutarnya di saat jam-jam efektif anak berlajar atau bersantai dengan keluarga. Setali dua uang, si ibu yang seharusnya menemani si anak belajar, malah sibuk mematung di depan TV. Jadilah si korban sinetron yakin pasti bahwa cerita ala sinetron Indonesia sudah familier bagi anak-anak selevel SD sekalipun.

Kedua, yang agak serius ini. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang seharusnya bisa menjadi media sensor buku-buku teks pelajaran yang sesuai dengan perkembangan usia, kurang lurus kerjanya. Atau bisa jadi karena pada sibuk nonton sinetron juga, jadi tak ada waktu untuk menyeleksi buku. Langsung percaya saja pada penerbit.  Ketiga, pihak penerbit dan handai taulan (penulis, pengedit, pengedar, pencetak dll) yang kayak ndak punya kreatifitas saja. Masa cerita begitu bisa dimasukkan ke dalam buku. Penerbit tak bisa lepas tangan begitu saja dengan melempar tanggung jawab ini ke penulis semata. Keempat, pihak sekolah yang semata-mata mempercayakan bahan ajar pada pihak lain. Bapak ibu guru, kenapa dikau tak buat saja cerita-cerita yang pantas. Atau kau download saja kisah-kisah apik di internet lalu kau pilih mana yang bagus. Atau biar hemat, kau ceritakan saja pengalamanmu. Itu lebih bisa dipertanggungjawakan. Kelima, seluruh bangsa Indonesia. Kita terlalu sibuk mengurusi diri sendiri dan urusan yang seharusnya bukan urusan kita. Anak-anak kita percayakan sepenuhnya pada pihak sekolah, padahal hanya beberapa jam saja mereka di sekolah. Indonesia… Indonesia… aku bingun. Aku punya anak kecil, tapi aku juga suka mematung di depan TV, juga suka tak sepenuhnya punya waktu buat anak dan aku juga bangsa Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s