Surat Terbuka untuk Peserta UN

Purbalingga, 05 April 2012 pukul 23.23

Kepada : Anak-anak bangsa yang sebentar lagi menghadapi UN

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Anakku…. Sebentar lagi perjuangan kalian akan mencapai titik puncaknya. UN sudah didepan mata. UN memang bukanlah segalanya, tetapi saat ini mungkin segalanya akan kurang lengkap tanpa kesuksesan UN. Karena itu berambisi-lah kalian untuk bisa lolos dari UN. Tapi tak perlu pula kalian menjadi ambisius yang bisa melakukan segala cara untuk kelulusan UN.

Satu hal menjadi musuh utama kalian saat UN sebenarnya bukanlah ketidakbisaanmu mengerjakan soal-soal Un, tetapi lebih pada nasfu menyontek.

Menyontek itu ibarat candu. Meski kau sebrilian Einstein, tetapi karena kau terbiasa menyontek, maka saat kesempatan itu ada, pasti kau akan menyontek. Kalau kau memiliki kesempatan menyontek, tetapi kau tidak melakukannya, maka ketahuilah dan bersyukurlah karena kau termasuk manusia langka saat ini.

Menyontek sebenarnya butuh kecerdasan. Karena untuk menyontek, kau harus harus mampu menciptakan bahasa-bahasa khusus yang hanya dipahami oleh kau dan teman menyontekmu. Saat kau menyontek, kau juga harus pintar-pintar melihat dan memanfaatkan situasi serta kelengahan gurumu. Karena kemampuanmu mengambil kesempatan sesaat untuk menyontek, ketahuilah bahwa sesungguhnya kau cerdas. Lantas, mengapa kecerdasanmu tak kau gunakan untuk mengerjakan sendiri saja?!

Menyontek adalah perbuatan bodoh. Saat kau menyontek temanmu, pada saat itu kau sedang menggantungkan nasibmu pada orang yang sama-sama sedang berjuang senasib denganmu. Seperti yang ada dipikiranmu, dia juga sedang memikirkan nasibnya sendiri. Lagipula, belum tentu jawaban temanmu benar. Mungkin sebenarnya kau lebih cerdas darinya. Mungkin jawabanmu lebih tepat darinya. Mungkin dia sengaja memberikan kau jawaban yang salah. Kau, yang menyontek dan temanmu yang sedang dicontek sebenarnya sama-sama bodoh. Sudah belajar keras, ko ya mau-maunya kasih jawabanmu ke orang lain. Jadi, sudahlah. Kerjakan sendiri sajalah.

Menyontek itu juga sangat beresiko. Dan sungguh, resikonya tak sepadan dengan sekadar nilai UN. Resiko terberat adalah karena berhubungan dengan masa dengan ruh-mu di alam akhirat kelak. Apalah artinya nilai 10 kalau kau harus membayarnya dengan siksa di neraka sana. Apapun yang kau hasilkan karena kebohonganmu ini jelas tidak akan memberikan berkah. Ijazah yang kau dapatkan dari hasil menyontek hanya akan semakin menjerumuskan ke dalam lubang neraka.

Coba bayangkan anakku, apabila kau berhasil lulus UN karena menyontek. Lantas kau gunakan ijazah kelulusan sekolahmu untuk bekerja. Dan upah dari pekerjaan itu kau gunakan untuk makan. Mengendap di perut dan menjadi daging. Tak luput pula keluargamu yang ikut makan dari hasil kerjamu. Apakah kau tega menjadikan tubuh ini gumpalan daging hasil menyontek?

Jadi, sudahlah. Kerjakan sendiri saja. Percayalah pada diri sendiri. Gunakan karakter air yang mengalir sebagai penyemangatmu. Air akan terus mengalir menuju ke bawah. Seandainya di tengah perjalanan harus berhadapan dengan batu nan keras, air tak lantas kembali lagi ke atas. Air akan mencari jalan meskipun berkelok untuk melanjutkan perjalannya menuju ke hulu.

Belajarlah lebih keras. Jangan lupa pula berdoa. Semoga kau bisa mengerjakan UN dengan jujur dan baik. Mendapatkan nilai yang sesuai hakmu. Dan berbahagia selamanya 🙂 Amin.

Wassalaamu’aikum wr. wb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s