Romantisme Ala Sains

RITA Colwell hanya tertawa spontan ketika Claudia Dreifus, wartawan dari The New York Times, menanyakan tentang kehidupan pribadi dengan suaminya, seorang fisikawan. Dr. Colwell sendiri seorang ahli mikrobiologi dan menjadi direktur National Science Foundation. Colwell menyimpulkan bahwa fisikawan memiliki kegiatan yang menarik, minat yang luas, dan tidak terlalu menekankan maskulinitas mereka. “Tentu saja, Anda bisa menjumpai fisikawan tidak seperti itu. Namun pada umumnya, kami merasa begitu”, lanjutnya sebagai penutup sesi wawancara untuk kolom Science Times pada Februari 1999.

Apa yang dikatakan Colwell memang bukan sekadar candaan semata. Kemitraan yang harmonis dengan suaminya, melahirkan generasi ilmuwan di keluarganya. Kedua putrinya mengikuti jejak ilmuwan orang tua mereka di Harvad University. Beberapa minggu setelah wawancara tersebut, secara tidak sengaja, Dreifus melakukan wawancara dengan Eleanor Baum yang ternyata bersuami fisikawan pula. Dr. Baum adalah insinyur teknik elektro dan dekan fakultas teknik di Cooper Union, New York. Dengan sedikit bercanda, Dreifus menganjurkan, bahwa sudah saatnya fisikawan masuk ke dalam kelompok calon suami yang potensial.

Cukup menarik apa yang diungkap oleh Dreifus tentang kehidupan roman para ilmuwan. Karena mengandung persepsi yang berbeda dengan apa yang selama ini menjadi dugaan kebanyakan orang. Tersirat makna, bahwa meskipun sains berhasil menciptakan dunia mereka dengan berbagai “keanehan”, namun tetap ada sisi-sisi humanis yang lestari. Cinta tidak lekang sepenuhnya pada diri seorang saintis. Ilmuwan ternyata adalah figur yang sangat beragam.

Bukan lagi cerita rahasia, jika ilmuwan identik dengan sosok yang tertutup, laki-laki, egois, bertampang serius, tanpa selera humor, tidak gaul, dan bertampang kusut. Tahan berlama-lama di laboratorium yang sunyi dan suram serta penuh dengan alat-alat aneh untuk menciptakan alat yang tak kalah seram. Tidak memiliki minat terhadap perbincangan apapun, kecuali yang menyangkut sains. Dan yang terpenting bagi seorang gadis, ilmuwan adalah pribadi yang dingin dan tidak romantis sama sekali bila berdekatan dengan perempuan.

Anggapan di atas tidak sepenuhnya salah. Juga tidak selalu tepat. Tidak perlu tersinggung atau bangga. Lantas, kenapa image tersebut selalu lekat dengan sosok ilmuwan? Salah satunya, karena memang seperti itulah sosok para penggede sains di masa lalu. Selanjutnya, image tersebut terus melekat hingga kini. Tak percaya? Tengok saja bagaimana para penulis skenario sebuah film memberikan karakter pada hampir semua peran ilmuwan yang muncul. Seperti tokoh pahlawan yang harus selalu baik atau sosok penjahat yang musti bengis. Ilmuwan juga memiliki sosok yang khas agar peran terasa real. Meski sesungguhnya, sosok ilmuwan juga sesungguhnya sangat beragam.

Bahkan ada kalanya, Anda akan menemukan sosok ilmuwan yang memiliki pribadi menarik dengan selera humor cerdas. Anda akan betah berlama-lama berdekatan dengannya. Persis seperti apa yang diakui oleh Dreifus selama melakukan wawancara dengan berbagai sosok ilmuwan. Dreifus tidak memiliki latar belakang sains sama sekali. Politik yang selama ini digelutinya, jauh dari kehidupan sains dan ilmuwan. Namun toh Dreifus mengakui, bahwa ia menemukan apa yang sebutnya sebagai kenyamanan seorang teman. Meskipun dia mengakui sendiri, harus pontang-panting membaca banyak buku sains terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara.

Dreifus pantas berbangga atas kerja kerasnya dalam melakukan wawancara tersebut. Dia telah mempraktikan serangkaian wawancara menarik dengan pertanyaan-pertanyaaan tidak selalu berkutat pada masalah sains. Untuk memahami apa yang menjadi topik wawancara, konsep-konsep sains harus diuraikan ke dalam bentuk yang paling sederhana. Dengan cara itulah Dreifus bisa merasakan kenyamanan dan kedekatan emosional ketika berbicara dengan narasumbernya. Dan ternyata, para ilmuwan tersebut menyukainya pula. Hingga akhirnya, kedekatan itu berkembang menuju kekaguman dan persahabatan.

Tidak adil rasanya jika sains selalu menjadi kambing hitam kepribadian unik sang ilmuwan. Setidaknya anggapan itu sudah terlalu kuno. Memang kita bisa menemukan beberapa kehidupan pribadi ilmuwan yang berantakan. Keluarga terlupakan karena terlena dengan dunia sainsnya. Ruang keluarga tidak lebih menarik dari laboratorium. Makan malam bersama menjadi rutinitas paling membosankan. Bahkan eksperimen jauh lebih menakjubkan dari seks. Pagi, siang, ataupun malam tidak begitu berarti lagi, ketika sudah memasuki ruang laboratorium. Minatnya akan sains, telah melupakan kenikmatan lain, bahkan keluguan dan kelucuan anaknya. Dan meskipun tidak selalu bisa disalahkan, namun beberapa ilmuwan mengakui bahwa keasyikan mereka akan sains, telah menjadi bagian dari pribadinya.

DARI LABORATORIUM TURUN KE HATI

Abad ke-14 saputangan mulai dikenal di Eropa. Selembar kain kecil berenda, istimewa dan untuk pemakaian yang ekslusif. Ia menjadi sarana bertutur sapa diantara masyarakat kelas atas dengan cara melambai-lambaikannya. Ia bukan sekadar pelengkap fashion semata, namun juga menjadi sarana berkomunikasi yang menarik. “Aku cinta padamu”, itu yang Anda katakan ketika saputangan Anda letakkan di pipi. Bila seorang wanita meletakannya di bibir sambil menatap Anda, berbahagialah. Itu artinya, Ia ingin berkenalan dengan Anda.

Cara orang menyatakan cinta sebenarnya hampir seragam. Umumnya, bermula tatkala seorang pria “melihat” wanita. Lalu tertarik dan melakukan proses pendekatan. Hingga akhirnya keduanya saling jatuh cinta dan melanjutkan hubungan hingga tahap yang lebih serius. Berharap bisa mendapat kebahagian bersama dan selamanya.

Sayangnya, kisah cinta tidak selalu berakhir seperti itu. Memang dari dulu, cinta tetap saja misterius. Dan meski sebegitu misteriusnya cinta, konon masalah cinta ternyata itu-itu saja. Dari dulu, sejak zaman batu hingga kini zaman serba digital. Mulai dari kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan, persaingan karena cinta segitiga, bahagia karena dunia serasa milik berdua, hingga frustasi karena cinta ternyata buta. Bibir boleh saja tetap tersenyum, tapi hati bisa remuk redam karena cinta. Maka tepatlah apa yang dikatakan banyak orang, cinta itu melelahkan. Rasio menjadi tak lagi berarti. Lagipula, urusan cinta memang bukan bagian otak, melainkan hati.

Aneh-aneh saja ketika orang mendefinisikan tentang cinta. Tak terkecuali para ilmuwan ketika mereka mulai ikut-ikutan memberikan makna cinta. Tergantung pendekatan apa yang dipakai. Rumitnya memahami makna cinta bagi makhluk laboratorium itu, serumit memahami kepribadiannya. Terkadang, justru unik. Tentu Anda tidak akan mengira, gosip seputar kehidupan romansa Einstein yang sempat patah hati karena cintanya yang tertolak. Atau pilihan untuk hidup menyendiri seorang Newton karena ditinggal menikah sang kekasih. Persis seperti pilihan mendiang pendahulunya Galileo yang sampai akhir hanyat hidup menyendiri tanpa anak maupun istri. Selama ini kisah cinta mereka jauh dari sensasi. Wajar saja, karena cinta memang bukan urusan utama mereka.

Terus terang, sebenarnya tidak ada rencana saya untuk membawa topik ini pada pembicaraan yang lebih ilmiah. Dengan cara apapun kita memaksa, urusan cinta bukanlah hak otak untuk mengelolanya. Saya hanya berpikir, apa salahnya kita sekali-kali memandang sosok ilmuwan tidak melulu urusan sains. Ilmuwan juga manusia. Memerlukan pendekatan manusiawi pula untuk memahami seluruh kehidupannya. Bagaimanapun juga, kita harus bersedia mendengar curhat mereka, tatkala mereka menggambarkan suasana sibuk di meja laboratorium yang juga  memberikan sensasi-sensasi romantis atau justru sebaliknya.

Simak saja, bagaimana tidak konsistennya seorang ilmuwan besar sekelas Einstein ketika menjalani kehidupan cintanya. Untuk urusan yang satu ini, menurut pengakuannya sendiri, bukanlah sosok yang ideal. Ia lebih menyukai hidup sendiri tanpa anak atau istri. Malang tak bisa dihindari ketika cintanya bersama Mileva Maric mulai memudar tatkala kesuksesan penelitiannya semakin populer. Meski Einstein tumbuh dalam keluarga yang hangat kasih sayang, namun kehangatan cinta dalam keluarganya tidak berbekas padanya. Einstein pernah mencoba untuk memperbaikinya bersama Elsa, istri keduanya. Elsa lebih beruntung dari Mileva, meski alasan Einstein mempertahankan pernikahannya yang kedua sungguh aneh. Hanya karena Elsa tidak tahu sains (fisika) sehingga terlalu sibuk oleh semua urusan, kecuali sains dan politik.

Dilihat dari penampilannya, Elsa lebih bisa dibilang sebagai sosok yang menyenangkan daripada cantik. Dan berbeda dengan Mileva, ia tidak begitu bersifat ingin tahu. “Saya sangat senang karena istri saya (Elsa) tidak tahu apa-apa mengenai sains”, kata Einstein suatu waktu kepada salah satu rekannya. “Istri pertama saya (Mileva) tahu”, katanya lagi.

Lain Einstein, lain pula cerita cinta sepasang jenius Pierre dan Marie Curie. Pierre memang pantas menjadi sosok yang memikat. Walaupun pendiam dan tak suka menonjolkan diri, namun Pierre adalah sosok yang cerdas dan baik hati. Marie Sklondovska, seorang gadis Polandia, juga bukanlah gadis yang biasa. Muda, cerdas dan lulus dengan nilai terbaik membuat hati Pierre takluk. Diceritakan Marie berasal dari keluarga miskin dan pernah pingsan saat mengikuti kuliah Pierre karena kelaparan.

Duet antara dua insan cerdas itu sungguh luar biasa. Atas penelitian yang dilakukan bersama, mereka mendapatkan penghargaan Nobel fisika untuk karya di bidang radioaktif. Kekuatan cinta telah menghantarkan pada sebuah penemuan penting dalam bidang sains. Laboratorium bukan hanya menetaskan sains yang luar biasa juga perasaan cinta yang menggelora.

Kesuksesan di bidang sains juga seirama dengan keberhasilan dalam mendidik putrinya hingga turut pula mengikuti jejak orang tuanya melalui penghargaan yang sama di 32 tahun setelahnya. Sayang, kebahagiaan cinta mereka terenggut tatkala sebuah tragedi kecelakaan menjemput nyawa Pierre. Dan seolah mengikuti jejak sang suami, Marie meninggal karena leukemia yang kelak juga merenggut nyawa, Irene, putrinya.

TABIR CINTA ALA SAINS

Dunia asmara dan cinta ternyata juga menarik minat para ilmuwan. Dengan model pertanyaan khas ala ilmuwan, mereka mulai melancarkan sebuah pertanyaan dasar, “Bagaimana dan mengapa seseorang sedang merasakan cinta?” Dan asal tahu saja, pertanyaan rumit ini juga sudah mulai dirintis sejak 30 tahun lalu, oleh seorang antropologis dari Rutger University, Helen Fisher.

Cinta memang murni urusan perasaan. Dan perasaan tersebut bekerja di dalam salah satu organ tubuh melalui sistem pula. Layaknya menangis yang memunculkan reaksi kimia tertentu dalam tubuh, begitu juga yang terjadi saat seseorang sedang merasakan cinta. Senang berdekatan, cemburu bila tidak mendapat perhatian balik, rindu karena jarak dan waktu, bersemu ketika rayuan mulai dilancarkan dan mendadak salah tingkah saat perhatian begitu tajam. Itulah reaksi yang umum dialami para pecinta.

Para ilmuwan dari universitas negara bagian Florida, AS, memperoleh kesimpulan baru, bahwa biang kerok dari semua ini ditengarai bernama Dopamine. Dopamine menjadi tersangka setelah 350 orang dewasa menjadi relawan melalui pemeriksaan DNA. Hormon yang bisa membuat orang merasakan senang ini menjadi meningkat tatkala perasaan cinta mengaktifkan pusat “kenikmatan” di otak. Efek dari peningkatan kadar dopamine ini identik dengan rasa ketagihan tatkala cinta sedang meradang. Stamina menjadi segar, konsentrasi meningkat dan perasaan berbunga-bunga hanya karena pasangan mesra sang kekasih.

Versi para ilmuwan dari Italia adalah karena hormon testosteron yang mengalami perubahan jumlah kadar dalam tubuh. Donatella Marazziti dari University of Pisa melakukan penelitian tersebut dengan sampel 12 pria dan 12 wanita yang sedang jatuh cinta dalam enam bulan terakhir. Penemuan mereka menyimpulkan adanya penurunan jumlah kadar hormon tersebut pada pria jika dibandingkan kondisi normal. Sebaliknya, pada perempuan mengalami peningkatan dari kondisi normal. Pria akan menjadi lebih seperti wanita dan wanita akan menjadi lebih seperti pria. Ketika perasaan sedang mengalami demam cinta, maka tubuh manusia bereaksi dan seolah-olah ingin menghapus perbedaan diantara mereka agar hubungan bisa terus terjalin. Selanjutnya, fungsi otak menjadi “terganggu”. Menjadi lebih leluasa dalam menilai suatu hubungan dengan cara menekan kemampuan kritisnya. Dan pada akhirnya, pria atau wanita akan saling menutup mata terhadap kesalahan dan kekurangan pasangannya. Jadi, tepat kiranya, jika banyak orang mengatakan cinta itu buta.

Hormon serotin juga kena getahnya kali ini. Di tahun 1999, para ilmuwan Italia juga menemukan jumlah kadar serotin yang mendadak merendah ketika seseorang mulai mabuk cinta. Sekadar informasi, kadar serotin konon berfungsi untuk menghasilkan empati, kebahagiaan dan pengetahuan. Kadarnya mendekati jumlah kadar serotonion dalam tubuh ketika seseorang mengalami gangguan obesesif kompulsif (GOK). GOK sendiri merupakan suatu kecenderungan untuk mengulang pikiran-pikiran, kata-kata atau perbuatan yang nampaknya tidak beralasan. Dan meskipun sebenarnya disadari oleh orang yang bersangkutan namun tidak memiliki niat untuk mencegahnya. Hypotalamus juga langsung terpicu tatkala cinta lebih terangsang pada yang berbau seksual. Jadi, jika saat menjalani hubungan cinta, kadang-kadang pikiran Anda begitu dihantui hal-hal yang berkaitan dengan pasangan kita, seperti cemburu atau curiga tak beralasan, maka Anda boleh menyalahkan serotin dan serotonion.

Penemuan-penemuan tersebut, menurut Profesor Gareth Leng dari University of Edinburg, sangat membantu kita untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik. Dan memberikan kemungkinan bagi mereka yang mempunyai masalah dalam menjalin hubungan asmara sehingga bisa melakukan pengobatan. Termasuk dalam  hubungan yang lebih intim, seperti hubungan seksual.

Namun yang perlu kita ingat juga, bahwa perasaan jatuh cinta lengkap dengan patah hati, senang, sedih dan cemburu, bukanlah suatu penyakit. Perasaan itu muncul secara natural terhadap seseorang atau sesuatu yang lain. Perasaan sayang terhadap anak, kekasih, orangtua, binatang piaraan, dan benda-benda lain tidak mungkin untuk dipaksakan. Sehingga ketika perasaan itu belum muncul, maka dengan segala upaya manusia berusaha memaksakannya melalui rangsangan berbagai obat. Jadi, jangan sampai cara kita hidup dan menikmati kesenangan hingga perasaan, dikendalikan oleh sains yang pada akhirnya kita menjadi semacam candu dan sulit untuk dilepaskan. Alih-alih, bukannya semakin mahir dalam menjalin hubungan, bisa jadi semakin rapuh dan merasa asing.

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Colin Wilson, dari masyarakat psikologi Inggris yang mengatakan, “Cinta adalah perasaan yang komplek. Tidak diragukan lagi, cinta menimbulkan perubahan susunan syaraf atau neurophysiology tetapi tidak ditentukan oleh satu cairan kimia semata”.

Bagaimanapun juga, cinta harus dipandang sebagai anugerah. Jangan kita berusaha untuk merekayasanya untuk dalih apapun. Karena kita tidak akan lagi menemukan kembali keindahan cinta jika kita melakukannya. Dan keindahan itu hanya bisa dihayati jika kita sudah merasakannya sendiri. Anda boleh bergandengan tangan dan memeluk untuk mengekspresikan rasa cinta anda pada pasangan. Tidak terkecuali, semua pasti mengalaminya. Termasuk Anda, para ilmuwan. Kita tinggal membuktikan itu melalui perubahan apa saja yang terjadi di tubuh kita saat rasa itu muncul. Mungkin para ilmuwan kita masih harus banyak belajar dan melakukan penelitian?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s