Pemanasan Global (Global Warming)

Saat ini para orang tua kita sudah tak lagi berkutik saat ditanya tentang ramalan musim. Era Pranata Wangsa ala masyarakat Jawa sudah lewat karena tak lagi relevan. Sistem pergantian musim tak lagi bisa diprediksi melalui tanda-tanda alam tertentu.

Alat-alat canggih pun tak lagi mampu memberikan garansi penuh atas hasil dari ramalannya. Tadi pagi mendung, siang hari bisa menjelma panas terik. Menuju ke sore butiran es jatuh di genteng-genteng rumah di daerah tropis. Malam hari badai kembali menerjang. Esoknya cuaca berganti lagi dan lagi. Tak ada siklus dan pergantian. Semuanya berlangsung secara acak dan datang tiba-tiba. Juga ekstrim.

Nun jauh di daerah kutub sana, terjadi pergerakan retakan gunung es yang sedang mencair. Balok-balok es yang terpisah tak lagi seukuran batu, tapi sudah seluas kota Jakarta. Balok itu terus bergerak ke arah perairan yang lebih hangat dan tak lama kemudian terpotong-potong kecil hingga akhirnya hilang tak berbekas.

Tengoklah kota Jakarta? Pelan tapi pasti kota itu akan hilang ditelan air laut yang semakin naik. Pantai-pantai yang indah bersabarlah, sebentar lagi amuk tsunami akan memporak-porandakanmu. Untuk para petani, siapkan dana pensiunmu. Sebentar lagi hasil panenmu tak lagi cukup memenuhi gudang berasmu. Karena wabah penyakit-penyakit aneh siap melumat habis hasil panenmu.

Sulit disangkal lagi bahwa bumi dan para penghuninya sedang dalam keadaan baik-baik saja. Itulah gambaran keadaan bumi sebentar lagi jika gejala Global Warming (Pemanasan Global) tidak lagi menjadi prioritas untuk segera ditangani.

 

EFEK RUMAH KACA

Pemanasan global (Global Warming) terjadi saat terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi yang disebabkan karena pengaruh alam, seperti variasi matahari, efek umpan balik dan efek rumah kaca di atmosfer.

Beberapa ahli lebih mempercayai bahwa pemanasan global akan terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Seorang ahli kelautan Dr. Doug Martinson dari Obsevatorium Bumi Lamont-Doherty di New York, AS menyimpulkan penelitiannya tentang penyebab peningkatan keruntuhan gletser, mundurnya 87% gletser Alpin, kepunahan koloni penguin dll lebih dikarenakan naiknya air laut dalam. Dan kenaikan suhu ini ternyata terjadi di seluruh permukaan bumi. Sekalipun emisi gas akibat aktivitas manusia berkurang, perairan akan tetap melepaskan panas untuk beberapa tahun ke depan.

Tapi sebagian besar para ahli menyimpulkan sebaliknya. Bahwa sumbangan terbesar pemanasan global adalah efek rumah kaca, terlebih yang hasilkan oleh aktivitas manusia. Sampah industri, peternakan, pembakaran bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor dll.

Kesimpulan ini didasarkan setidaknya oleh 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Setidaknya, terdapat kenaikan 1,1 °C hingga 6,4 °C antara tahun 1990 hingga tahun 2100.

Untuk memahami proses kerja dari efek rumah kaca yang selama ini didaulat sebagai penyebab pasti global warming, kita simak yang berikut ini :

–      Bumi diselimuti oleh lapisan udara yang disebut atmosfer. Atmosfer sendiri terdiri dari berbagai gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Diantaranya terdapat gas yang berfungsi untuk menjaga suhu permukaan bumi tetap hangat disebut “gas rumah kaca”. Sebagian dari panas itu berwujud radiasi infra merah,

–      Ketika radiasi matahari mencapai atmosfer bumi, sebagian panas akan dipantulkan lagi ke angkasa oleh atmosfer dalam bentuk sinar inframerah. Dan sebagian lagi akan diteruskan hingga permukaan bumi. Hal ini menjadikan permukaan bumi tetap hangat.

–      Sesampainya radiasi di permukaan bumi, sebagian akan diserap dan sebagian lagi akan dipantulkan ke atmosfer kembali. Karena konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer semakin besar, maka lapisan ini menahan radiasi yang akan kembali ke angkasa. Akibatnya, radiasi ini akan tertahan di permukaan bumi. Semakin banyak radiasi yang tertahan di permukaan bumi, maka semakin besar suhu bumi.

Efek rumah kaca seperti pisau bermata dua. Disisi lain bermanfaat karena melindungi bumi agar hangat di tengah-tengah ruang angkasa yang dingin. Karena suhu yang hangat inilah, kita bisa hidup di planet bumi ini. Tanpa gas-gas rumah kaca, bumi akan terlalu dingin untuk ditinggali saat malam hari karena tidak ada yang menahan panas matahari tetap di permukaan bumi.

Tapi disisi lain, jika panas yang terperangkap oleh atmosfer bumi terlalu banyak, maka pada ambang batas tertentu, akan merusak keseimbangan alam yang berujung pada fenomena-fenomena alam yang ekstrim.

 

KONSTRIBUTOR GAS RUMAH KACA

Disebut gas-gas rumah kaca karena cara gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi untuk menahan suhu di dalam rumah kaca tetap hangat. Kesetimbangan suhu itu diperlukan agar tanaman-tanaman yang berada di dalam rumah kaca itu mendapat pasokan panas matahari yang cukup sehingga bisa tumbuh dengan baik.

Gas-gas yang menjadi kontributor terbesar dari efek rumah kaca diantaranya adalah :

–      Gas karbondioksida (CO­2) yang kebanyakan dihasilkan oleh sisa pembakaran bahan bakar minyak kendaraan bermotor dan industri. Selain itu juga gas CO2 juga dilepaskan oleh jaringan-jaringan pohon yang mati.

–      Gas Metana (CH4) yang dihasilkan oleh agrikultur dan peternakan, terutama dari sistem pencernaan hewan ternak. Gas ini menghasilkan panas 23 kali panas yang dihasilkan oleh gas CO­2,

–      Gas Nitrogen Oksida (NO) yang dihasilkan dari pupuk. Molekul NO mampu menghasilkan efek pemanasan 300 kali dari panas yang dihasilkan oleh CO2,

–      Gas Chlorofluorocarbons (CFC) menghasilkan ribuan kali lebih kuat dari CO­2. Untungnya penggunaan gas chlorofluorocarbons sudah lama  dilarang digunakan karena dituding penyebab utama kerusakan lapisan ozon.

 

7 GEJALA GLOBAL WARMING

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Forum Kemanusiaan Global (GHF) yang berbasis di Jenewa, Swiss melaporkan bahwa setiap tahun pemanasan global telah merenggut 315 ribu jiwa. Bahkan pada tahun 2030, diperkirakan akan mencapai angka 500 ribu jiwa. Penyebabnya kematian tersebut adalah kelaparan, penyakit, dan semua bentuk bencana alam yang diduga merupakan dampak dari perubahan iklim.

Pemanasan global diduga juga telah menimbulkan kerugian pada sektor ekonomi yang mencapai USD 125 milyar per tahun. Angka ini sama dengan jumlah bantuan yang diberikan negara kaya kepada negara miskin dalam setahun.

Berikut ini setidaknya tujuh ciri-ciri alam yang telah menelan banyak kerugian dan membunuh ratusan ribu jiwa karena gejala pemanasan global.

 

  1. 1.   Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan

Dengan menggunakan citra satelit pada 28 Februari 2008, David Vaughan, seoranh ilmuwan Survei Antartika Inggris (BAS) memastikan sebuah bongkahan es seluas tujuh kali kota Manhattan, AS lepas ke laut lepas. Pecahan es ini akan meleles di perairan yang lebih hangat.

Para ilmuwan menjelaskan kejadian tersebut sebagai efek dari pemanasan global. Terlepasnya bongkahan es besar ini akan memicu retakan lebih besar lagi dan menyumbang terhadap kenaikan permukaan air laut.

Penelitian lain menyimpulkan bahwa lapisan es di Greenland telah mencair hampir mencapai 19 juta ton. Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada di tahun 2004.

NASA juga mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005 saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yang hilang tidak kurang dari 8.000 meter kubik.

 

  1. 2.   Perubahan iklim/ cuaca yang semakin ekstrim

Perubahan cuaca yang terjadi berupa pola curah hujan yang berubah-ubah. Badain dan topan yang bermunculan memiliki kecenderungan semakin lama semakin kuat.

Sejak Januari 2011 lalu, sejumlah provinsi di Cina mengalami kekeringan akibat pola hujan yang jarang. Para pejabat di propinsi Shandong melaporkan bahwa propinsi ini mengalami kekeringan terburuk selama 50 tahun. Sekitar 240 ribu orang mengalami kekurangan air minum dengan 338 tandon kecil mengering dan 1,84 juta hektar lahan pertanian terpengaruh.

Studi kasus baru-baru ini yang dilakukan oleh para peneliti yang mewakili Bank Dunia, PBB, Uni Eropa, dan Yayasan Visi Dunia, telah mengidentifikasikan beberapa kota di asia yang beresiko terkena banjir besar dimasa depan. Diantaranya adalah Guangdong, Shanghai, Dhaka, Bangladesh, Kolkata, Mumbai, Rangoon, Myanmar, Hanoi, Hai Pong, Au Lac dan Bangkok.

 

  1. 3.   Meningkatnya level permukaan laut

Tinggi permukaan laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21. Jika saja permukaan laut naik setinggi 100 cm atau 1 m, maka dimungkinkan 6% daerah Belanda dan 17,5% daerah Bangladesh akan tenggelam.

Dr. Igor Belkin, seorang ahli Kelautan, Universitas Pulau Rhode, AS, menyimpulkan bahwa sebagai akibat dari pencairan Greenland, permukaan air laut naik. Pencairan Greenland dianggap penyebab tertinggi kedua dari kenaikan permukaan laut setelah Antartika, dengan potensi gabungan kenaikan permukaan laut global hingga tujuh meter jika semuanya mencair ke lautan. Cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh dunia.

 

  1. 4.   Gelombang panas menjadi semakin ganas

Tahun 2003, Eropa Selatan pernah mengalami serangan gelombang panas hebat dan memakan korban jiwa setidaknya 35 ribu orang. Perancis adalah negara dengan korban terbanyak yakni 14.802 jiwa. Korban lainnya tersebar di Inggris, Italia, Portugal, Spayol dll.

Tahun 2007 adalah rekor untuk suhu tertinggi yang mencapai di daerah Death Valley di California yang sempat tercatat 53°C. Tercatat juga suhu 48°C  di St. Georgia, Utah. Disusul kemudian  Las Vegas dan Nevada mencapai 47°C.

Serangan gelombang panas ini memakan banyak korban jiwa meninggal, mematikan ratusan ikan tawar, merusak hasil pertanian, memicu kebakaran hutan hebat, dan membunuh hewan-hewan ternak.

 

  1. 5.   Peningkatan kasus Epidemi Penyakit

Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma yang melanda di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidup dan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level CO2 dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

Deman berdarah, malaria, demam chikungunya, demam kuning adalah beberapa penyakit yang muncul karena perantara nyamuk. Nyamuk mudah berkembang biak pada suhu yang panas. Pulusi udara juga bisa mengakibatkan berkembangnya penyakit seperti asma dan alergi, jantung, paru-paru kronis, coccidiodamycosis, dll. Kolera, Hepatitis A, Leptospirosis, keracunan ikan dan kerang adalah beberapa penyakit yang diakibatkan bakteri vibrio dan salmonella.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Glenn Morris, peneliti utama di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Universitas Florida, AS, menunjukkan bahwa kenaikan temperatur air laut telah meningkatkan pertumbuhan ganggang laut yang menghasilkan zat ciguatoksin. Karena ikan memakan ganggang itu, mereka mengakumulasi semakin banyak toksin tersebut hingga akhirnya menjadi racun bagi manusia karena mengkonsumsi daging ikan bertoksin tersebut.

Zat ciguatoksin sulit dideteksi dan tidak dapat hilang meski ikan sudah dimasak atau dibekukan. Efek samping yang dialami para pengkonsumsi ikan yang mengandung zat ciguatoksin dimulai dari rasa mual, muntah-muntah hingga gejala neurologis.

 

  1. 6.   Hewan dan tumbuhan tertentu terancam mengalami kepunahan

Beberapa jenis hewan dipercaya akan mengalami kepunahan akibat pemanasan global ini. Akibat es kutub yang mencair, maka habitat beruang kutub, penguin, dan beberapa hewan kutub lain terancam punah.

Para peneliti di Indonesia mencatat setidaknya hilangnya berbagai jenis flaura dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30% atau sebanyak 90-95% karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.

 

  1. 7.   Habitat makhluk hidup pindah ke dataran lebih tinggi

Indonesia memperkirakan pada tahun 2070, sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18.000 pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.

Pada suatu pertemuan yang diorganisir oleh Pusat Riset Perubahan Iklim Tyndall Inggris, para peneliti memperkirakan pemanasan global akan menjadikan satu miliar orang kehilangan tempat tinggal pada tahun 2100, dan tiga miliar kekurangan akses air bersih.

Otoritas Publik Lingkungan Kuwait mengamati bahwa badai salju di Eropa yang disebabkan oleh perubahan iklim menyebabkan migrasi besar-besaran burung seperti elang, rajawali, dan alap-alap ke negara Timur Tengah untuk mencari makanan.

Para peneliti dari Pertukaran Warga Negara di AS dan Universitas Leed Inggris menemukan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko banjir di Hong Kong dan Delta Sungai Pearl begitu cepatnya hingga 1 juta orang sepertinya akan perlu pindah ke tempat yang lebih tinggi pada tahun 2050 akibat kenaikan permukaan laut

 

SELAMATKAN BUMI

Masyarakat dunia mulai peduli. Para pemimpin dunia bersatu dan melakukan usaha bersama melalui pertemuan dan kesepakatan bersama yang mengikat dengan tujuan menanggulangi permasalahan pemanasan global ini.

  1. Pertemuan diawali di Rio de Jeneiro, Brazil, pada tahun 1992 yang melibatkan 150 negara. Hasil pertemuan adalah sebuah kesepakatan yang mengikat untuk bersama-sama menghadapi masalah gas rumah kaca.
  2. Protokol Kyoto

Protokol ini adalah kesepatan yang dihasilkan dari pertemuan lanjutan di Kyoto, Jepang pada tahun 1997 dan diikuti oleh 160 negara.

Protokol ini mengamandemen seluruh negara di dunia untuk mencegah dan menanggulangi pemanasan global dengan mengurangi emisi atau pengeluaran CO2.

Perjanjian ini menyerukan kepada 38 negara industri yang memiliki prosentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotongnya hingga lima persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dicapai paling lambat tahun 2012.

Kesepakatan ini ternyata berjalan lambat karena Amerika Serikat menganggap perjanjian pengurangan CO2 tersebut ternyata menelan biaya yang sangat banyak. Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin berhasil memenuhi perjanjian tersebut bahkan ketika tahun 2004.

Kesepakatan tersebut kembali dikuatkan melalui berbagai konferensi perubahan iklim tingkat dunia yang diselenggarakan di beberapa negara, seperti konferensi PBB tentang Perubahan Iklim bertajuk “United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)” yang diikuti 189 negara di Bali, Indonesia pada  Desember 2007.

 

  1. 3.   Konferensi Perubahan Iklim 2009 (UN Climate Change Conference 2009)

Konferensi ini juga disebut COP 15 yang merupakan KTT internasional mengenai perubahan iklim yang diadakan di Kopenhagen, Denmark pada 7 – 18 Desember 2009 lalu.

Konferensi yang dihadiri oleh sekitar 15 ribu orang dari utusan 192 negara menjadi forum akbar komunitas lingkungan global dalam upaya menyelamatkan masa depan planet bumi. Langkah tersebut juga menjadi penting karena akan menentukan kesepakatan final pengganti Protokol Kyoto.

Pembahasan utama yang terjadi pada konferensi kali ini adalah tuntutan pengurangan emisi karbon dunia. Hampir sebagian besar komunitas internasional mendesak agar dunia menghentikan segera pertumbuhan emisi rumah kaca, baik yang ditimbulkan oleh negara-negara industri maju (AS, Uni Eropa, dan Jepang) maupun negara-negara ekonomi baru (China dan India).

Konferensi tersebut mendesak agar pengurangan emisi gas karbon negara-negara industri tersebut harus berada di bawah ambang batas yang ditargetkan selama ini. Nilainya sekitar 25% hingga 40%. Bagi banyak aktivis lingkungan, angka pengurangan itu malah secara radikal harus ditingkatkan menjadi 80% hingga 95% pada 2050. Ironisnya, dalam hal ini masih terus terjadi tarik menarik kepentingan antar negara utamanya antara negara industri maju dan negara-negara ekonomi baru.

Ada tiga hal yang disepakati oleh pemerintah seluruh dunia dalam konferensi tersebut, yakni :

  • Penerapan secara cepat dan efektif tindakan serta-merta dalam mengatasi perubahan iklim;
  • Komitmen ambisius untuk mengurangi dan membatasi emisi gas karbon, termasuk memulai komitmen pendanaan dan pendanaan jangka panjang; dan
  • Visi bersama jangka panjang tentang masa depan dengan emisi karbon tingkat rendah bagi semua.

 

BERPIKIR GLOBAL DAN BERTINDAK LOKAL

Langkah nyata demi menyelamatkan planet biru ini, sejumlah negara-negara melakukan langkah pencegahan dan perbaikan terhadap pola hidup mereka demi mengurangi efek pemanasan global.

–      Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan “International Panel on Climate Change” (IPCC). Secara berkala mereka melakukan pertemuan yang membahas penemuan-penemuan baru terkait dampak pemanasan global dan mencari solusi yang tepat,

–      Efektif dari 1 Januari 2011, Italia melarang pemakaian kantong plastik, mendorong masyarakat kepada alternatif pada bahan yang bisa diurai atau bisa didaur ulang, dalam upaya menyelamatkan sumber daya dan bermanfaat bagi lingkungan,

–      Pemerintah Jepang mengumumkan seleksi 153 proyek untuk disubsidi bagi fokus ramah lingkungan mereka, seperti pabrik yang akan memproduksi baterai untuk mobil listrik,

–      Pembuat mobil ternama Perusahaan Khodro Iran (IKCO) mengumumkan rencana untuk memperkenalkan beberapa kendaraan hibrida untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi CO2,

–      Para delegasi dari Kuwait dan Kerajaan Bahrain menandatangani persetujuan untuk mengembangkan rencana-rencana bagi perlindungan lingkungan laut di Teluk Persia,

–      Negara bagian Massachusetts di AS mengumumkan rencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi 25% di bawah level 1990 melalui program-program yang diharapkan menciptakan lapangan kerja di seluruh negara bagian itu,

–      Stasiun pembangkit listrik tenaga surya terbesar Sri Lanka yang sedang dibangun di Provinsi Selatan, akan menggantikan stasiun berbahan bakar diesel yang saat ini digunakan untuk menghasilkan listrik serta mengurangi emisi gas rumah kaca,

 

Beberapa bentuk langkah penyelamatan bumi dari ancaman global warming yang direkomendasikan diantaranya adalah :

–      Menjadi vegetarian. Karena meningkatnya jumlah permintaan daging, secara langsung telah meningkatkan emisi gas metana dari hewan ternak. Seperti diketahui, laporan penelitian yang dirilis World Watch Institut menyatakan bahwa peternakan telah bertanggung jawab atas setidaknya 51% dari pemanasan global.

–      Menanam pohon dan mencegah pembabatan pohon di hutan. Karena tumbuhan hijau mampu menyerap emisi Gas CO2 untuk selanjutnya diolah menjadi gas O2 yang digunakan untuk pernapasan manusia,

–      Mengurangi penggunaan industri dan kendaraan berbahan bakar minyak dan menggantinya dengan yang berbahan bakar non minyak, seperti bertenaga listrik, uap, gas, sinar matahari dll

 

INSPIRASI YANG MENYERAMKAN

Saat film dokumenter “In Convenient Truth” besutan Al Gore mulai diputar di bioskop-bioskop di seluruh dunia pertengahan tahun 2006 silam, banyak orang terhenyak. Para penonton tidak menduga sebelumnya, bahwa punahnya beberapa spesies, badai, banjir bandang, suhu udara panas, pelelehan es besar-besaran di kutub bumi, kebakaran hutan hingga pergantian musim yang tak stabil adalah karena ulah manusia sendiri. Semua yang disajikan di dalam film tersebut adalah gambaran detail bencana-bencana yang akan menimpa bumi, jika pemanasan global benar adanya.

Film “The Day After Tomorrow” (2004) dibuat dengan special efek yang mampu menyajikan gambaran atas situasi yang terjadi saat itu akibat pemanasan global dengan lebih menyakinkan. Indonesia juga memproduksi film dengan tema sejensi berjudul, “Bukan Negeri Sampah, Bukan Bangsa Pengemis (2010),

Film lain bertajuk, “The 11th Hour” (2008) adalah suatu film dokumenter tentang pemanasan global yang mengungkapkan krisis lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan manusia serta akibat bagi kehidupan umat manusia di planet ini, yang pada akhirnya memaksa kita untuk meralat kerusakan yang telah kita lakukan.

Film “Meat the Truth”, (2008) juga mengisahkan tentang dampak pemeliharaan ternak terhadap pemanasan global. Film lain berjudul “Sea the Truth”, menyampaikan konsekuensi merusak yang sama dari penangkapan ikan berlebihan. Film dokumenter ini, yang tampil perdana minggu lalu dalam sebuah pemutaran khusus di Amsterdam, Belanda, dibuat oleh Yayasan Nicolaas G. Pierson, biro keilmuan Partai Hewan Belanda, dan difilmkan oleh fotografer bawah air terkenal dari Belanda yang juga pelestari lingkungan, Dos Winkel.

Film tergolong masih baru yang mengisahkan gejala pemanasan global diantaranya : Flood (2008), Doomsday 2012 (2010),

Buku-buku tentang pemanasan global : Hollywood Science (), Pemanasan Global dan Lubang Ozon : Bencana Masa Depan (Fathurrohman, 2010); Pemanasan Global (Gerald Foley, 2010); Planet Kehidupan (Paul Bennet, Barbara Taylor, 2010);

 

PERDEBATAN PENUH KONTROVERSI

Tidak semua peneliti sepakat dengan kesimpulan bahwa pemanasan adalah akibat dari ulah manusia. Mereka para penentang teori pemanasan global ala Al Gore membuat sebuah film dokumenter dang dirilis tahun 2007 lalu, dari Inggris berjudul “The Great Global Warming Swindle” atau “Penipuan Besar Pemanasan Global”. Apa yang ingin disampaikan di film tersebut adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa pemanasan global terjadi karena ulah manusia adalah sebuah kebohongan.

Tampilan dari film ini adalah kisah tentang pemanasan global yang sama sekali berbeda dari yang biasa kita temui. Menontonnya akan membuat kita berpikir ulang apakah memang betul manusia penyebab pemanasan global. Film ini juga mengkritik laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), lembaga internasional yang dianggap sebagai narasumber utama dunia untuk pemanasan global. Bahkan dokumenter ini memuat protes seorang ilmuwan karena namanya dicantumkan sebagai penulis laporan IPCC padahal ia tidak setuju dengan isi laporan tersebut.

Film tersebut menampilkan wawancara dari para politisi, ilmuwan dan aktivis lingkungan hidup dari bidang-bidang yang terkait pemanasan global, dilengkapi dengan data grafik dan efek animasi yang apik.

Penyebab utama pemanasan global menurut film dokumenter ini adalah bahwa kenaikan suhu bumi adalah sebuah siklus dan selalu berganti. Zaman es dan periode hangat terjadi secara bergantian dan tanpa campur tangan manusia. Bencana-bencana yang terjadi di bumi pada tahun 70-an terjadi akibat bumi mengalami global cooling karena waktu itu suhu bumi sedikit menurun.

Kenaikan gas CO2 yang diklaim sebagai penyebab efek rumah kaca, menurut film ini berbeda. Justru, menurut  sebuh studi oleh Journal Science tahun 2005, menemukan hal sebaliknya. Karbon dioksida bertambah karena suhu bumi naik. Kenaikan suhu bumi saat ini, bukan karena efek rumah kaca, melainkan karena meningkatnya aktivitas matahari, sumber energi bumi. Pernyataan tersebut mereka perkuat dengan menampilkan data yang menunjukkan bahwa perubahan-perubahan aktivitas matahari dalam beberapa ratus tahun terakhir berbanding lurus dengan perubahan suhu bumi.

Isu efek rumah kaca yang dihembuskan sebagai penyebab utama global warming saat ini, diduga digunakan secara berlebihan sebagai legitimasi untuk banyak hal. Satu hal yang ditengarai kepentingan yang mendompleng isu pemanasan global ini adalah tentang perdagangan karbon.

Sesuai isi protocol Kyoto, akan diterapkan pinalti bagi negara yang melanggar atau lambat dalam mengurangi emisi karbon yang dihasilkan industri di kawasannya. Para negosiator lantas mencoba merancang sistem dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain.

Bentuk perdagangan karbon bisa dimisalkan sebagai berikut. Negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

Salah satu ilmuwan yang pro dengan ide ini salah satunya adalah Steven Milloy yang memiliki gelar dalam bidang Natural Science dan gelar master dalam Biostatistik dari Universitas John Hopkins. Ia adalah salah satu juri bagi American Association for The Advancement of Science Awards dan ia pernah diminta oleh kongres Amerika untuk bersaksi mengenai masalah-masalah lingkungan. Ia merujuk kepada perubahan-perubahan suhu bumi yang terjadi secara alamiah tanpa campur tangan manusia.

Terkait protocol Kyoto, mereka menganggapnya hanya sebuah lelucon belaka. Sebuah studi dari Rusia menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berada pada level sekitar 370 PPM (Parts per Million) dan bila protokol Kyoto diikuti, maka hal itu hanya akan merubah 1 atau 2 PPM saja pada tahun 2012.

Dengan menggunakan data yang disediakan oleh mereka yang mempromosikan Protokol Kyoto, jika setiap negara meratifikasi protokol tersebut, temperatur global rata-rata hanya akan berkurang sekitar 0,0015 derajat centigrades. Pada level ini, dibutuhkan 667 tahun dan $100 Trilyun untuk menurunkan suhu bumi sebanyak 1 derajat centrigades.

Persoalan gletser yang semakin berkurang, kelompok ini juga menampilkan gletser di lokasi lain yang semakin bertambah. Glasier Kilimanjaro memang telah berkurang. Tapi itu terjadi sejak tahun 1880, jauh sebelum kadar CO2 meningkat di bumi.

Data terbaru Juni 2009 menunjukkan Suhu bumi mengalami penurunan sebanyak 74 derajat Fahrenheit sejak Gore merilis “An Inconvenient Truth” pada tahun 2006.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s