Praktek Membuat Nata de Coco

Pertengahan November 2011 kegiatan penelitian pembuatan nata de coco ini mulai kami susun. Proposal kegiatan yang merancang teknik pembuatan, biaya hingga peserta penelitian sudah selesai dan disetujui sekolah. Nah… mulailah 25 November kami bergerak. Bakteri acetobacter xylium yang merupakan mikroba aktif pembentuk asam asetat mulai kami telusuri dari mana kami bisa dapatkan. Mau buat sendiri, tak punya alatnya. So, langkah cepat, kami pesan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman, Purwokerto. Tak perlu repot-repot, asam cuka glacial (CH3COOH) dan pupuk ZA (urea) yang merupakan zat campuran sekalian kami pesan.

Dua botol bakteri mulai kami ramu dengan asam cuka dan urea. Untuk memudahkan pengaturan, praktikan kami bagi tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin Minkhatul Maula (9C) dengan anggota Diana Mustikasari (8D), Lulu Ma’rifatun (8B) dan Afit Nur Fadillah (8C). Kelompok dua dipimpin oleh Iqbal Latif (9B), dengan anggota Andri Setiawan (9A), Diki Apriawan (8G) dan Tri Utomo (7B). Dan kelompok tiga dipimpin oleh Monika (8A), dengan anggota Miftahul Ulfah (8D), Wati Agustina (8D), Adis Trianingsih (8A) dan Ernawati (8D).

Dengan semangat membara (mantap euy…) percobaan mulai dilakukan. Setelah breefing sebentar, lalu kami menuju ke dapur sekolah. Maklum, kompor merupakan alasan utama kami untuk memilih dapur sebagai laboratorium dadakan kami. Berhubung dapur yang sempit tak sebanding dengan jumlah kami yang kayak pasukan lagi demo, maka terpaksa percobaan digilir tiap kelompok.

Pertama-tama kami mulai rebus air kelapa plus gula pasir sampai mendidih. Setelah itu, kami dinginkan air rebusan tadi hingga suhu 30° C. Tak mau gegabah, kami gunakah termometer untuk memeriksa suhu air rebusan tersebut. Setelah suhu 30° C tercapai, kami mulai masukkan starter berupa bakteri, asam cuka murni dan urea kedalamnya. Kami aduk pelan, lantas kami tuangkan ke dalam nampan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Untuk memacu agar bakteri bisa tumbuh cepat, kami tutup rapat nampan dan kami tempatkan di ruang laboratorium IPA. Nah… untuk menuju tahapan berikutnya, kami tinggal menunggu hingga seminggu kemudian untuk proses fermentasi bakterinya.

Tepat satu minggu kemudian, dengan penuh perasaan deg degan kami mulai buka pelan-pelan satu persatu nampan nampan yang telah kami simpan kemarin. Dan setelah kami buka… jreng!!! Ternyata kami belum berhasil alias g-a-g-a-l!!!. Nata yang seharusnya berupa lapisan kenyal mirip agar-agar tidak terjadi. Yang kami dapatkan hanya berupa potongan-potongan kecil nan tipis. Mirip es kelapa muda gitu.

Rasanya dunia ini berhenti berputar. Meja kursi kaya bergoyang. Pokoknya sedih plus kecewa lah! Lantas kami duduk melingkar dan mulai berpikir untuk menjawab kegagalan ini. Setelah kami berdiskusi, setidaknya ada tiga alasan yang menyebabkan percobaan kali ini gagal, pertama jumlah takaran yang kurang pas. Kedua, tempat penyimpanan kurang gelap. Dan ketiga, nampan plastik yang digunakan kurang tebal.

Biarlah yang kali ini gagal. Tapi kegagalan kali ini istimewa, karena justru menjadikan kami semakin semangat untuk membuktikan percobaan berikutnya bisa berhasil. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap melanjutkan percobaan ini hingga berhasil di awal semester genap esok. Maklum, mulai minggu depan kami harus berkonsentrasi untuk menghadapi ulangan akhir semester ganjil. Untuk sementara catatan kegagalan ini harus tersimpan dulu.

Tanggal 16 Januari 2012 adalah hari bersejarah kedua kami dalam percobaan pembuatan nata de coco. Sayangnya, untuk kali ini kami harus banyak melakukan penyesuaian. Pertama masalah dana! ya… dana yang tersisa sangat sedikit. Kemarin, saking pedenya, kami hanya merancang satu kali percobaan. Dan untuk mengatasinya, kami rancang peserta hanya dalam satu kelompok saja. Kedua, anggota. Ada tiga anggota yang harus lepas (Aula, Andri dan Iqbal) karena di semester genap ini mereka harus fokus pada kegiatan belajar dalam rangka Ujian Nasional. Maklum, sudah kelas 9, semester genap lagi. Tapi apalah artinya kendala, kalau bara semangat sedang berkobar. KIR harus tetap jalan.

Percobaan kami lakukan secara mandiri tanpa bantuan guru pembimbing. Dapur masih menjadi lokasi favorit kami untuk bergulat dengan kompor, nampan, bakteri dll. Hingga akhirnya, tepat saat kelas 9 selesai les, kami pun selesai menyimpan nampan untuk proses fermentasi bakteri membentuk nata.

Akhirnya seminggu kemudian, dengan jantung tak kalah deg degan dengan percobaan awal dulu, tiba pula. Nata yang kami simpan di ruang ka. TU (sory ya pak agus) mulai kami buka. Dan…. jrenggggggg!!! Lagi-lagi kami gagal. Gagal maning, gagal maning. Bukan gumpalan nata yang kami dapatkan, tetapi … waduh, tak tega kami cerita. Pastinya lebih parah dari hasil pertama dulu. Setelah kami merenung, lagi-lagi kesalahan komposisi bahan menjadi alasan utama kegagalan ini.

Di teras depan menjadi saksi kami saat tertunduk lesu. Dua kali men. Tetapi, kami teringat dengan sebuah kalimat bijak. “Lebih baik gagal tetapi tahu apa penyebab kegagalan ini. Dari pada berhasil tetapi tanpa pernah tahu apa yang menyebabkannya”

Artinya, meskipun gagal tetapi ada kesempatan memperbaikinya. Sehingga keberhasilan bisa didapatkan bahkan berulang kali. Tetapi, sangat menyedihkan kalau kita berhasil tetapi tidak tahu mengapa kita berhasil. Karena kita tak pernah punya kesempatan untuk berhasil lagi di masa depan.

Tanpa menunggu lama lagi, kami mulai lakukan percobaan ketiga seminggu kemudian. Dan setelah berkali-kali kami gagal, akhirnya untuk percobaan ketiga ini kami SUCCES!! Nata terbentuk meski tak sesempurna yang kami bayangkan sebelumnya. Tapi rasa tentu luarrr biasa. Kami cuci dan rendam nata dengan air bersih. Setelah itu kami rebus nata dengan air gula dan akhirnya nata siap disantap. Agar nata tampak menarik dan segar, kami campurkan ke dalam sirup jeruk dan dikemas ke dalam gelas plastik. Seperti yang teman-teman lihat digambar, segarnya nata de coco bila dinikmati di siang hari, panasa-panas dicampur es. Wesss… muantappp!!!

Download   :  Proposal Penelitian Pembuatan Nata de Coco

Iklan

4 comments on “Praktek Membuat Nata de Coco

  1. terus kunci berhasilnya pembuatannya dimana ? bisa minta resepnya ndak ?
    saya bikin sudah sampe 4x masih gagal juga…..trima kasih….

  2. Berdasarkan pengalaman, banyak sih yang bisa menyebabkan kegagalan pembuatan nata de coco. Pertama, bisa jadi karena bakterinya sudah tidak segar lagi. Sebenarnya bakteri bisa bertahan setidaknya satu bulan, tetapi sebagaimana layaknya makanan. Olahan awal pasti lebih nikmat dari olahan kemarin. Kedua, bisa juga karena campurannya kurang pas. Lah, kalau masalah ini, solusinya cuma satu, coba-coba. Kalau hasilnya encer, berarti bakterinya kurang. Kalau hasilnya terlalu kenyal, berarti bakterinya kebanyakan. Kalau terlalu bau, berarti asamnya kebanyakan, dan sebaliknya. Ketiga, bisa pula karena teknik penyimpanan yang kurang mendukung pertumbuhan bakteri. Pastikan wadah tertutup rapat, gelap dan aman. Keempat, mungkin karena waktu penyimpanan kurang lama atau terlalu lama. Kalau kurang lama biasanya terlalu encer. Kalau terlalu lama biasanya sudah kayak makanan berjamur dan bau menyengat seperti makanan basi. Kelima, takdir heheh… (bercanda…). Coba lagi dna jangan menyerah sobat. Siapa tahu percobaan kelima yang berhasil. Selamat mencoba. Terima kasih kunjungannya.

  3. Anda tinggal dimana? Coba hubungi laboratorium biologi di kampus terdekat. Atau toko-toko laboratorium terdekat. Kalau lokasi tidak terlalu jauh dari Purwokerto, anda bisa pesan di laboratorium biologi unsoed dan bakteri bisa dikirim dengan paket. Kontak bisa hubungi di situsnya http://www.unsoed.ac.id. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s