Belajar dari Mereka

HARI itu saya mendapat pengalaman berharga dari seorang murid. Bermula ketika dia terlambat masuk kelas. Saat terengah-engah minta maaf, sebuah benda besar di tangannya menarik perhatian saya. Termos. Ya, sebuah termos besar. Nyaris sepadan dengan tubuhnya yang mungil.

SAAT itu saya tidak begitu peduli dengan apa yang dia bawa. Lain kesempatan, saat tak sengaja bertemu dia, saya iseng bertanya. Tentang asbabunnuzul benda besar itu hadir bersama dia saat itu. Jawaban dia polos, “Jualan es”. Mencoba untuk tidak percaya begitu saja, saya konfirmasi dengan teman dekatnya. Dan benar. Meski tak rutin, si anak polos itu sudah terbiasa berjualan es di sekolahnya.

Jualan es di sekolahan, mungkin sesuatu yang mengagumkan bila dilakukan oleh orang lain. Tapi berbeda jika dia yang melakukannya. Ini sangat spesial. Terutama karena satu-satunya alasan dia berjualan es adalah semata urusan belajar. Belajar bagaimana memahami orang tua, menghargai diri sendiri, mandiri, dan demi kehidupan masa depan. Sebuah cara belajar yang sangat efektif dan cerdas untuk seorang anak seusia dia.

Kadang keuntungan dari usaha kecil-kecilan itu dia gunakan untuk menambah uang saku. Sisanya harus ada yang ditabung. Di saat lain, pernah seminggu penuh hasil keuntungannya dia gunakan untuk menyumbang demi kelangsungan kegiatan masjid di sekolahnya. Memang tidak terlalu besar, tapi menjadi sangat berarti. Tuhan juga tidak melihat berapa besar nilai suatu sumbangan. Karena yang terpenting niat dan cara bagaimana memperolehnya.

Yang saya tahu pasti, bukan karena desakan ekonomi dia melakukannya. Alasannya mudah saja, karena orang tuanya adalah sosok terkaya di kota itu. Prinsip dan cara pandangnya terhadap kemandirian dan hidup membuat dia menjadi sosok yang berkarakter meski masih belia. Berbekal niat, kemauan besar, dan dukungan penuh dari orang tua, sosoknya tampak sangat menonjol. Suatu gambaran ideal generasi penerus yang bisa dipercaya.

Ternyata tidak selamanya kita selalu lebih hebat dari anak-anak kita. Usia memang lebih tua, tapi kedewasaan dalam menghadapi persoalan tentu bukan semata urusan usia. Kedewasaan lebih berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang persoalan yang selalu terjadi di sekeliling kita. Bagaimana kita mengatasinya dan menerimanya.

Seraya merenung, saya ambil surat kabar harian di samping saya. Jakarta ternyata masih dibenam banjir. Terpampang dengan jelas, betapa anak-anak tampak begitu ceria bermain di tengah banjir. Wajah muram hanya sesekali terlihat, selebihnya mereka tertawa lepas. Lain cerita dengan para orang tua mereka yang selalu tampak sangat murung. Bahkan ada yang menangis sejadi-jadinya.

Anak-anak kadang lebih pandai melihat sisi menyenangkan dari setiap persoalan. Coba kalau kita terapkan dalam keseharian. Betapa persoalan akan lebih mudah kita hadapi. Semua menjadi permainan yang menyenangkan. Dan hidup menjadi lebih indah.

Dengan kepolosan mereka, kita bisa belajar untuk bisa mengatasi setiap persoalan dalam hidup. Meski tidak juga harus terlena dengan menganggap mudah persoalan-persoalan kecil. Karena dari situlah masalah rumit terjadi. Anak-anak bisa menjadi contoh kita dalam beberapa hal. Tapi jangan sampai ketidaktahuan anak kecil dalam menghadapi masalah kita ikuti. Karena kita diberi hal yang lebih dari mereka, Ambil positifnya. Intinya enjoy your life because this is the reality that should be face and could not be avoided, begitu kata teman saya.

Belajar itu berlaku bagi semua. Tak peduli usia, status, tempat maupun keadaan. Selama otak masih bisa berpikir saat itu juga proses pembelajaran terus berlangsung. Belajar juga bukan semata urusan pelajar di sekolah. Seorang guru boleh tak hanya mengajar. Guru juga boleh belajar disaat mengajar. Pada apa saja yang pantas untuk menjadi pelajaran. Belajar melalui buku, persoalan hidup, atau bahkan belajar melalui murid-muridnya.

Karena guru bukanlah orang yang harus hebat. Dedikasi dan ketulusan dalam mendampingi siswa belajar adalah dua hal lain yang juga penting selain menguasai materi pembelajaran.

Tentu saja ada hal yang diperlukan agar kita bisa belajar dari setiap persoalan. Sikap kerendahan hati dan bersedia membuka hati. Mungkin sudah saatnya kita memandang siswa sebagai partner belajar. Bukan semata obyek, tapi juga subyek belajar. Bersedia berbagi dengan siapa saja, termasuk mereka yang lebih muda usia. Karena suatu saat nanti merekalah yang akan menggantikan kita. Tentu akan sangat membanggakan jika generasi penerus menjadi lebih baik karena campur tangan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s