Menyibak Kekal Akhirat Tinjauan Ilmu Fisika

Kemunculan teori relativitas menyimpulkan fakta baru yang cukup mengejutkan, bahwa ruang dan waktu adalah relatif. Menurut teori relativitas, bahwa ruang dan waktu akan berlaku relatif sesuai dengan kerangka acuan tertentu yang digunakan. Meskipun teori ini menggunakan perhitungan matematis yang cukup sederhana, namun mengandung konsep fisis yang cukup fenomenal karena mengubah secara drastis pemahaman kebanyakan orang tentang ruang dan waktu. Dengan teori ini, Albert Einstein, seorang fisikawan kelahiran Jerman, mendobrak pemahaman ke-mutlak-an ruang dan waktu, setelah hampir selama dua abad bertahan. Tentunya kita semua tahu, tidaklah mudah mengubah pemahaman banyak orang, apalagi jika pemahaman itu dicetuskan oleh tokoh sekaliber Newton.

Kita semua pasti mengetahui, bahwa sains sangatlah rentan akan perubahan. Kemunculan teori baru yang masih lolos uji, secara otomatis akan menggugurkan teori-teori sebelumnya yang bertentangan. Dalam fisika, terkadang hari ini dirumuskan teori, besok muncul teknologi terapan, dan lusa muncul lagi teori baru. Fisika memang tidak boleh mengenal kata selesai.

Sebagaimana teori evolusi Darwin, keberadaan teori relativitas pada awalnya dianggap betul-betul murni urusan sains dan tidak akan pernah berpengaruh terhadap kehidupan spiritual seseorang. Namun toh kenyataannya, betapa kita bisa saksikan perdebatan seru antara ilmuwan dan ahli agama tentang teori evolusi Darwin yang berlangsung sepanjang masa, bahkan hingga kini. Karena ternyata, teori evolusi Darwin memiliki dampak besar terhadap pemahaman keyakinan seseorang. Para tokoh Islam pun tak kalah gencar “memprotes” teori Darwin yang berpotensi membawa ajaran tertentu. Lalu, seberapa hebat pengaruh teori relativitas terhadap agama, khususnya Islam?

Sejauh ini penulis melihat justru ada hubungan harmonis antara teori relativitas dengan beberapa ajaran Islam. Dengan kata lain, beberapa konsep dari teori relativitas  justru menjelaskan dan menguatkan konsep ajaran Islam. Bisa jadi hal ini terkesan mengada-ada, untuk itu perlu pembacaan yang lebih cermat dan serius. Karena bisa jadi muncul implikasi kurang menyenangkan, jika kita terlalu sembrono. Karena topik tulisan ini untuk selanjutnya berkaitan dengan salah satu dasar ajaran tauhid Islam, tentang alam akhirat yang kekal. Tahapan akhir kehidupan manusia setelah mengalami kebangkitan dari kematian.

Yang jelas kita musti berhati-hati dalam membicarakan alam akhirat. Salah-salah kita terbawa pada kesesatan, karena memang akhirat termasuk perkara ghaib. Sebagian ulama menganggap sangat riskan untuk membicarakan akhirat. Bahkan ada yang menganggap haram membicarakan alam akhirat. Karena bukan jangkauan akal untuk memahaminya. Cukup diyakini dan diikuti. Tapi penulis yakin jika segala sesuatu dilakukan dengan cara baik, untuk tujuan baik, dan berdampak baik pula, apa salahnya? Toh, manusia memiliki alat yang bernama akal untuk berpikir dan merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT.

Untuk itu penulis perlu sedikit menjelaskan maksud dari penulisan buku ini. Masing-masing orang dengan kemampuan pikir yang berbeda memiliki kebutuhan tersendiri dalam memahami sesuatu. Terkadang diperlukan penjelasan khusus dari sudut pandang tertentu untuk menguatkan keyakinannya. Apalagi untuk menyakini sesuatu yang belum pernah dia lihat dan rasakan, seperti masalah akhirat. Tulisan ini hanyalah penjelasan dalam bentuk lain yang mungkin sedikit berbeda. Namun bukan berarti ingkar atau ragu-ragu terhadap sesuatu yang normatif. Dan kita semua tahu, Tuhan pun memiliki cara tersendiri untuk menjelaskan surga dan neraka kepada manusia melalui banyak perumpamaan. Tujuannya tentu saja agar manusia mudah memahaminya.

Kalau boleh, penulis mencoba mengandaikan alam akhirat itu laksana lapangan sepak bola. Tentu saja analogi ini kurang tepat, tapi jika dikatakan salah, penulis kira juga tidak. Biasanya ekosistem di dalam lapangan itu multi komplek. Para penghuninya sangat beragam, dari semut hingga manusia yang bermain bola di atasnya. Terdapat juga berbagai macam tumbuhan, dari lumut hingga rumput. Lapangan itu sangat luas namun tetap memiliki batasan. Bagi seekor semut, dia akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyusuri lapangan dari satu sisi ke seberang. Namun tetap saja pada suatu saat nanti dia akan mencapainya. Dengan kata lain, selemah apapun seekor semut, dia tetap memiliki kemungkinan untuk melakukannya.

Karena luas dan rumitnya kehidupan di lapangan sepak bola itu, maka seekor semut hanya bisa mengetahui sedikit dari sistem yang terdapat di dalamnya. Anggap saja, dia berobsesi untuk mengukur keliling lapangan itu. Maka dia akan membutuhkan suatu mistar, atau alat ukur lain untuk mengukurnya. Seekor semut cerdik mungkin akan menggunakan sebuah roda yang dia kemudikan mengelilingi lapangan, sambil menghitung berapa kali roda sepeda itu berputar selama dia berkendara. Setelah sampai di titik ketika dia berangkat, maka tugas terakhir tinggal mengalikan jumlah putaran roda sepeda itu dengan keliling roda.

Jika dia menggunakan mistar, maka usaha dia untuk mengukur lapangan sepak bola itu membutuhkan usaha lebih banyak, jika dibandingkan dengan roda tadi. Namun tetap saja ada kemungkinan untuk bisa menyelesaikannya. Atau juga menggunakan alat ukur lain yang lebih baik dan efektif. Alat ukur itu dapat kita umpamakan suatu formulasi atau rumusan perhitungan.

Jika lapangan itu adalah alam akhirat, hanya sebagian kecil dari lapangan itu yang dapat diidentifikasi oleh semut atau juga manusia. Dan hal inilah yang sedang penulis lakukan, seperti seekor semut pada cerita di atas. Namun ada sedikit perbedaan. Karena kita belum pernah menyaksikan apalagi mengukur alam akhirat, maka tentunya kita bisa menempatkan diri. Kesuksesan dan kesempurnaan semut itu dalam mengukur keliling lapangan sangat tergantung pada alat yang dipakai.

Maksudnya begini, penulis mencoba belajar seperti seekor semut tadi. Tugas penulis adalah mencoba mengenali satu dari sekian banyak tanda-tanda kehidupan akhirat. Terlalu berlebihan memang jika penulis mengharap jawaban pasti. Namun paling tidak muncul beberapa hipotesa atas beberapa jawaban yang memungkinkan. Tentu saja dengan harapan hipotesa yang muncul dapat memberikan semangat bagi diri sendiri, syukur-syukur juga orang lain, dalam rangka bersiap diri untuk memasuki alam akhirat. Karena masuk ke dalam akhirat bukanlah pilihan, tetapi memang itulah tahapan kehidupan kita pada akhirnya. Pilihan hanya terletak pada akhirat surga atau neraka, yang nantinya akan kita huni.

Salah satu petunjuk yang Allah SWT sampaikan melalui Al-Qur’an tentang akhirat adalah konsep “kekal”. Bahwa surga dan neraka itu adalah akhir dari kehidupan manusia yang kekal. Kekal berarti berhubungan dengan dimensi waktu. Apakah dimensi waktu akhirat sama dengan dimensi waktu di dunia? Apakah juga bersifat relatif seperti yang berlaku di dunia? Atau apakah di akhirat mengenal dimensi waktu? Jangan-jangan yang dimaksud kekal sama sekali tidak berhubungan dengan dimensi waktu. Bagaimanapun kita semua mengetahui, bahwa Al-Qur’an memang sarat dengan makna. Tugas kita untuk mencoba, mencoba dan terus mencoba untuk menafsirkannya.

Menurut teori relativitas bahwa sesuatu itu tidak akan mengalami pertambahan usia jika memenuhi beberapa syarat. Terjadi pemuluran waktu tak terhingga sehingga pada saat syarat itu dipenuhi, maka keabadianlah yang akan berlaku. Sesuatu itu bisa terjadi pada benda atau bahkan manusia. Syarat itu adalah bahwa sesuatu itu harus bergerak setara dengan cepat rambat cahaya dalam vakum. Dengan suatu formulasi relativitas khusus tentang dilatasi waktu, kekekalan waktu itu mungkin. Sekali lagi, mungkin!!

Nah, bagaimana jika sekarang kita mencoba mengaitkan teori relativitas khusus dengan konsep “kekal” pada alam akhirat. Bagaimanakah teori relativitas khusus bisa membuktikan bahwa akhirat itu betul-betul kekal, sebagaimana yang dikabarkan dalam Al-Qur’an? Bukankah ilmu pengetahuan dan ajaran agama saling berkaitan dalam hubungan harmonis?

Sebenarnya akan lebih lengkap lagi jika konsep yang kita gunakan teori relativitas umum. Namun teori ini menggunakan persamaan matematis yang lebih komplek jika dibandingkan dengan teori relativitas khusus. Dan sebagai langkah pengenalan, penulis kira cukuplah konsep teori relativitas khusus yang digunakan. Pada kesempatan lain akan penulis urai konsep teori relativitas umum sebagai kelanjutan dari buku ini.

Satu hal lagi, penulis berusaha untuk menyederhanakan sedemikian mungkin pada setiap penjelasan dalam buku ini. Misalnya dengan menghindari pemunculan rumus-rumus fisika, yang terkadang akan bisa membosankan jika terlalu sering dimunculkan. Namun formulasi dilatasi waktu dari kosep relativitas khusus Einstein, tidak bisa penulis abaikan. Bagaimanapun fisika sangat sulit dipisahkan dengan rumus-rumus. Seperti kosmetik bagi seorang wanita, mungkin… J

Banyak perumpamaan yang penulis gunakan untuk mencoba menjelaskan dan menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an. Terutama untuk sesuatu yang berhubungan dengan akhirat. Dan hal itu sudah penulis mulai seperti di atas. Perumpamaan itu penting menurut penulis dalam rangka memudahkan pemahaman. Karena banyak ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan sesuatu yang belum terjadi dan bahkan belum pernah manusia kenali. Ketika dilakukan perumpamaan dengan apa yang manusia kenali, maka proses pemahaman akan lebih mengena. Untuk itu penulis mohon maaf, jika perumpamaan yang dilakukan ternyata kurang tepat. Tapi percayalah,… semua itu sudah dipikirkan dengan masak-masak.

Ucapan terima kasih yang sangat mendalam secara khusus penulis sampaikan atas kebaikan dan ketulusan bapak Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid. Kesediaan beliau meluangkan waktu sibuknya untuk mendampingi dan memberikan banyak koreksi pada buku ini memberikan banyak pencerahan bagi penulis. Semoga kebaikan beliau akan mendapat pahala sebanyak-banyaknya. Dan tentu saja apapun kebaikan yang dihasilkan dari buku ini, tak lepas dari kemurahan hati beliau.

Penulis hanya berharap, hal ini dapat diberlakukan sebagai bentuk ikhtiar kita dalam rangka mensyukuri nikmat-Nya berupa akal. Menggunakan sebagaimana fungsinya untuk tujuan kebaikan adalah bagian dari misi penulisan buku ini. Dan bagaimanapun tulisan ini muncul atas bermacam literatur dari berbagai ilmuwan yang pernah penulis baca. Juga diskusi dan bentuk bantuan lain dari banyak pihak. Ucapan terima kasih dan salut penulis sampaikan untuk mereka dan semoga dapat bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s