Tertawalah Seperti Mereka

ORANG-orang Jepang memahami betul betapa pentingnya sebuah senyuman. Bagi mereka, bisa tersenyum itu sangat berguna. Mereka tidak segan-segan untuk mengikuti kursus mahal agar bisa “sekadar” tersenyum. Salah satu metodenya yakni dengan menggigit sumpit yang melintang sambil bercermin.

EKSPRESI perasaan senang dan bahagia bisa disalurkan melalui sebuah senyuman. Menggigit sumpit memang bukan cara alami untuk menunjukkan senang. Tapi cara ini menjadi penting jika kita tidak tahu bagaimana tersenyum itu.

Cara lain adalah seperti yang dilakukan bayi mungil kita. Mereka belajar melalui berekspresi dengan cara menatap orang tua mereka. Bagi kita, orang dewasa, bisa mengadopsi cara bayi itu dengan sering masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang juga suka tersenyum. Kebiasaan mereka lambat laun akan mempengaruhi kita. Begitu tips yang diberikan Martha Beck dalam bukunya The Joy Diet.

Selain tersenyum, tertawa juga bisa mewakili perasaan senang. Penjelasan ilmiahnya begini. Menurut para ahli kimia, saat kita tertawa maka unsur-unsur kimia yang positif di tubuh kita akan terangsang. Selain itu, aliran darah menjadi meningkat sehingga ujung-ujungnya jantung kita menjadi sehat.

Konon, beberapa pasien penyakit kronis bisa memperpanjang usia hidup mereka melalui terapi humor. Bisa dengan menonton film lucu, mendengar cerita humor atau apapun yang membuatnya bisa tersenyum hingga tertawa. Bahkan beberapa pasien dikisahkan benar-benar bisa sembuh total setelah mereka sering tertawa. Mungkin ini sekadar sugesti atau memang betul-betul ada sangkut pautnya antara kesehatan tubuh dengan perasaan senang.

Lantas, apa hubungannya dengan profesi seorang pengajar?

Coba sekali-kali anda melakukan eksperimen kecil-kecilan. Misalnya begini, taruhlah satu hari, dari pagi hingga malam, jangan pernah sekalipun tersenyum apalagi tertawa. Saat dikelas, di ruang guru, di meja makan atau dimanapun tahan lah agar anda tidak tertawa. Begitu ada sesuatu yang berpotensi lucu, menghindarlah. Anggap saja tidak ada yang menarik dan lucu sepanjang hari itu.

Esok harinya ada terapkan sebaliknya. Begitu mata terbuka saat bangun tidur, tersenyumlah lepas. Entah itu ada sebabnya atau tidak. Pokoknya, tersenyum saja. Begitu anda berdiri di kelas, sapalah anak-anak dengan diiringi senyuman. Beri sedikit senyum tatkala anda mendapati anak didik belum mengerjakan tugas rumahnya. Intinya, jangan sampai bibir anda terkatup tanpa senyum hingga malam saat menjelang tidur. Bandingkanlah kedua hari itu dan renungkanlah. Apa yang anda rasakan dan bagaimana pula efeknya terhadap pekerjaan anda? Kaitkan pula dengan hubungan anda dengan rekan kerja anda.

Saya pernah melakukannya. Apa yang saya rasakan saat berada di depan kelas dengan raut muka murung dan lesu. Pastinya segala sesuatu yang terjadi selalu terasa kurang beres. Dan parahnya, anak-anaklah yang menanggung akibatnya. Suasana kelas menjadi tegang. Apa yang saya sampaikan juga sering salah. Mereka juga sungkan untuk bertanya. Akhirnya, saya lelah dan anak-anak juga tidak memahami apa yang menjadi topik pembelajaran hari itu. Semua menjadi serba salah.

Lain hari saya mengalami keadaan yang berkebalikan. Mereka riang, saya juga senang dan materi pelajaran bisa mereka kuasai lebih dari hari-hari yang lain. Suasana di kelas, ruang guru dan rumah terasa segar. Hubungan saya dengan orang lain pun hangat.

Suasana hati memang tidak bisa dipaksa-paksa. Apa artinya pula tertawa saat hati sedih tapi kita paksakan untuk tertawa terbahak-bahak. Malah bisa-bisa kita dianggap sudah gila. Menjadi aneh pula jika hati sedang riang, tapi bibir malah bersungut-sungut. Memang, tertawa, bahagia dan sedih harus ditempatkan pada porsinya masing-masing.

Kadang-kadang kita sering salah paham. Menganggap bahwa tampang yang seram dan tanpa senyum menjadika diri kita tampil wibawa. Kita hanya bisa tertawa lepas hanya saat di lingkungan sendiri dan bersama orang-orang yang kita kenal pula. Dan itu pun syaratnya mereka harus sederajat dengan kita. Sehingga konon untuk menjaga kewibaan seorang Kepala Sekolah, maka dia menghindari untuk ber-gojek ria bersama guru-guru. Untuk menambah kesan wibawa, suara juga dibuat nge-bass dengan kumis yang melintas dan jenggot yang tebal.

Saya yakin kita tidak sependapat dengan cara itu. Meski tanpa sadar kita juga sering melakukannya. Kapan terakhir anda tertawa tergelak-gelak dengan murid-murid anda? Kemarin? Bulan lalu? Atau mungkin belum pernah sama sekali?

Mungkin malu atau merasa tak perlu. Dalam konsep Islam, mendahulukan salam lebih utama daripada sekadar menjawab salam. Menjawab salam adalah wajib, tapi memberi salam karena anda melihatnya terlebih dahulu itu jauh lebih baik. Dan meski anda lebih tua, maka memberi salam tidak akan mengurangi kadar kewibawaan anda. Begitu juga dengan sapaan hangat terhadap murid-murid.

Kebahagiaan adalah segala sesuatu yang juga menyangkut proses. Mendapatkan undian berhadiah bisa membuat muram jika kita menerimanya dengan amarah. Menyumbangkan milyaran rupiah menjadi tidak begitu berarti bagi diri jika memberikannya tanpa rasa ikhlas. Dan sebaliknya, sebuah musibah bisa menjelma menjadi ucap syukur jika dalam proses menjalaninya kita ikhlas dan menerima. Kebahagiaan bukan semata hasil, juga sekali lagi menyangkut proses.

Dalam konteks pembelajaran, sedikit masukan, janganlah sungkan untuk memberikan hadiah berupa senyuman pada kelucuan yang anak-anak buat. Sesekali ikutlah tertawa saat mereka melucu. Tak ada ruginya. Tawa anda sama sekali tidak mengurangi kewibaan sebagai seorang guru maupun seorang yang lebih dewasa dari mereka. Jadi, jangan lah lupa untuk selalu memulai jam pelajaran anda dengan sunggingan senyum tulus. Dan nikmatilah momen-momen indah anda sepanjang hari itu. Mumpung tersenyum itu masih gratis, bukan begitu?

Iklan

One comment on “Tertawalah Seperti Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s