Islamisasi dan Ilmu Pengetahuan

Gagasan ini cukup menarik karena termasuk tema aktual yang masih banyak menimbulkan perdebatan. Perdebatan yang muncul mulai dari istilah yang digunakan, sampai pada hakikat istilah tersebut. Terlebih lagi, perdebatan ini tidak hanya diikuti oleh kalangan muslim saja. Banyak beberapa tokoh ilmuwan orientalis yang tertarik untuk unjuk bicara. Perlu diketahui bahwa istilah modern ini muncul baru pada abad 19, sehingga kita bisa mengabaikan pendapat para ilmuwan muslim pada masa keemasan ilmu pengetahuan di era dunia muslim.
Gagasan untuk memadukan dalam hubungan yang harmonis antara ilmu pengetahuan dan Islam sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Istilahnya ada dua versi, yaitu “Islamisasi Science” (Ilmu pengetahuan Islam) dan “Islamization of Knowledge” (Islamisasi Ilmu). Dari sini memang terlihat jelas, bahwa diperlukan beberapa versi penjelas lagi tentang wacana itu. Terutama karena dalam perkembangannya istilah knowledge dan science memberikan makna yang tidak sama. Perlu diingat, bahwa munculnya wacana ini memang dari intelektual muslim, namun kemunculannya berasal dari komunitas berbahasa Inggris. Terkadang ketika diterapkan ke bahasa melayu, Indonesia dan Malaysia, mengalami pergeseran makna.
Istilah Sains (science) di dunia barat modern dianggap sebagai model cabang ilmu yang paling pesat berkembang dibandingkan dengan cabang lain. Sementara kita memahami sains sebagai ilmu pengetahuan alam atau ilmu pasti (eksakta), yang berbeda dengan ilmu sosial. Perbedaan pemberian istilah ini sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika perbandingannya bukan ilmu pengetahuan (knowledge). Namun terlepas dari perbedaan pemahaman tersebut, kedua istilah di atas berakar pada ilmu pengetahuan alam.
Wacana ini membuka peluang bagi ilmuwan muslim untuk mencoba memberikan konstribusi terhadap perkembangan sains. Perbedaan pemahaman pada tahap berikutnya, menyangkut pemahaman apakah sains itu bebas nilai atau tidak? Maksudnya jika sains disebut bebas nilai atau netral, maka tidak ada sains buruk atau baik. Sains akan memberikan kesan baik atau sebaliknya tergantung pada penggunaan. Tapi sekali lagi, sains tidak bisa disalahkan. Jika misalnya, suatu penemuan ternyata malah menimbulkan kesengsaraan, maka bukanlah sains itu yang buruk. Namun si pengguna sains itulah yang salah dalam menempatkan sains dengan tujuan buruk. Lagipula toh baik dan buruk sesuatu itu juga relatif.
George Sarton, tahun 1920-an, menggunakan istilah ini untuk menyebut sebuah periode dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika para ilmuwan muslim dan sebagian kecil non muslim menghasilkan karya-karya besar dalam bidang ilmu pengetahuan atas dukungan penguasa. George Anawati, seorang orientalis, menyebutkan munculnya upaya islamisasi cabang-cabang yang diperoleh terutama dari tradisi Yunani. Tambahnya pula, bahwa islamisasi tersebut hanya meyentuh ilmu pengetahuan alam dalam skala yang lebih sedikit, dibandingkan dengan cabang ilmu pengetahuan lain, misalnya metafisika.
Istilah “Islami” sendiri sering memunculkan dua makna. Pertama, sebagai salah satu periode sejarah, sepadan dengan kata klasik, yunani, modern dll. Kedua, sebagai suatu aktivitas yang disusupi nilai-nilai ajaran Islam. Dalam wacana ini kita mengenal empat tokoh yang mengangkat ide-ide tentang perlunya membangun kembali ilmu pengetahuan Islam walau dalam bentuk yang berbeda-beda.
Gagasan ini dimunculkan oleh Sayid Husein Nasr (l. 1933), dari Teheran, dalam bukunya yang pertama kali mengangkat tentang sejarah ilmu pengetahuan islam, dalam judul “Ilmu dan Peradaban dalam Islam”, 1968. Nasr melanjutkan pendidikan tingginya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam bidang fisika, dilanjutkan ke Universitas Harvard dalam bidang sejarah ilmu pengetahuan.
Dalam beberapa pendapatnya, dia terkadang menggunakan sudut pandang tradisional. Ia mengkritik keras kaum modernis yang muncul sejak akhir abad ke-19 yang berusaha merekonstruksi pemikiran Islam agar sesuai dengan zaman modern. Menurut Nars, justru kaum modern telah berusaha mendistorsi tradisi intelektual agar semata-mata tidak terkesan tertinggal disbanding dengan Negara-negara barat. Padahal di balik kemajuan dunia modern terdapat kemunduran yang sangat nyata, yaitu dalam bidang spiritual. Nasr tidak memandang perkembangan teknologi secara optimis, bahkan sebaliknya. Nilai modern tidak berarti tanpa memperhatikan hubungan rohani antar manusia dengan bumi dan makhluk lainnya.
Nars banyak berpedoman pada hal yang sakral dalam memandang suatu bentuk pemikiran baru. Bahkan dalam beberapa pandangannya terkesan sekali mistisisme, seperti memahami sifat-sifat batin dari tanaman, termasuk makna spiritual dan simbolisnya dalam kosmos. Dalam pemikiran filsafatnya, Nasr mendapat banyak pengaruh dari Rene Guenon dan Frithjof Schuon (1907-1998).
Sedangkan menurut Sayyed Hoessein Nasr, untuk menghalang efek negatif ilmu pengetahuan dari barat dilakukan dengan pendekatan perspektif sufi dan tradisionalis serta mengganggap bahwa masalah yang merupakan dampak dari peradaban barat itu hanya masalah etika.
Gagasan islamisasi sains dimunculkan oleh Nasr dalam bukunya yang berjudul “The Encounter of Man Nature”, yang kemudian gagasan ini dilanjutkan dalam pembicaraan serius pada konferensi dunia I tentang Pendidikan Muslim tahun 1977 di Makkah dan Islamabad, Pakistan tahun 1980. Tindak lanjut dari pertemuan itu, adalah munculnya istilah Islamisasi Ilmu Pengetahuan atau Sains.
Berangkat dari pemikiran yang hampir sama, Syed Muhammad Naquib al-Attas, ilmuwan Malaysia kelahiran Indonesia. Latar belakang akademisnya adalah kajian sastra dan sejarah Melayu. Menurutnya, tujuan metafisika adalah penemuan kebenaran. Kebenaran harus konsekuen, jika tidak maka hanya bersifat dugaan. Ia melihat bahwa metafisika Islam berlaku universal dalam masyarakat muslim, dan pada kenyataannya memang telah tersebar ke seluruh wilayah di dunia Islam. Al-Attas lebih kerap berbicara tentang filsafat ilmu pengetahuan yang Islami daripada ilmu pengetahuan Islam. Kebenaran mutlak Al-Qur’an menurutnya tidak perlu diragukan lagi.
Dia dianggap lebih terbuka dibandingkan pendahulunya. Ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai. Sehingga dalam mengupas Islamisasi Ilmu pengetahuan tidaklah berhubungan langsung dengan teori ilmu pengetahuan tertentu. Fokus Islamisasi menurutnya, tidak terletak pada nilainya, melainkan pada individu ilmuwan
Karya al-Attas, “Mukadimah bagi Metafisika Islam”, tahun 1995, berupaya mengupas secara detail dasar-dasar penciptaan epistimologi Islam yang dicapai oleh para filsuf muslim terdahulu. Karyanya ini sebagai upaya menjawab alternatif atas wacana tersebut.
Ismail Raji al-Faruqi (Palestina, 1921-1986), banyak membuat tulisan tentang perbandingan agama dan agama Yahudi. Karya terpentingnya seperti, “Perbincangan Tiga Pihak mengenai Agama Ibrahim”, tahun 1986; “Esai dalam Kajian Islami dan Komparatif”, tahun 1982; “Atlas Historis Agama Dunia, 1974; dan “Tauhid: Implikasinya bagi Pemikiran dan Kehidupan”, 1982. Bukunya yang khusus membahas Islamisasi ilmu adalah “Islamization of Knowledge”, 1982 dan sebelumnya artikel, “Mengislamkan Ilmu-ilmu Sosial”, 1979.
Menurut al-Faruqi, Islamisasi ilmu pengetahuan tidak sekedar memberi “baju etis islami” yang hanya bersifat aksiologis kepada para ilmuwan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan, tetapi juga masuk pada struktur terdalamnya. Hal ini dapat dilakukan melalui reformasi pendidikan. Dengan kata lain, islamisasi ilmu pengetahuan adalah proses pengembalian atau pemurnian ilmu pengetahuan yang hakiki, yaitu tauhid, kesatuan makna kebenaran dan kesatuan sumber ilmu pengetahuan.
Masalah utama menurut dia hanyalah karena pendidikan yang membuat pemisahan antar ilmu dan agama dan non-agama dan harus disatukan kembali. Dia memberikan definisi yang gamblang arti “Islamisasi ilmu” yaitu islamisasi disiplin ilmu, atau tepatnya memproduksi buku-buku teks universitas yang telah dibentuk kembali menurut visi Islam dalam sekitar dua puluh disiplin. Langkah untuk menuju ke arah tersebut menurutnya pada dasarnya dilakukan diawali penyerapan ilmu yang berkembang di Barat, dan mengembangkan suatu sistem konseptual yang bersumber pada nilai dan tradisi keilmuwan Islam sebagai dasar pengembangan ilmu yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya adalah dibuat sintesisnya dengan mengembangkan suatu ilmu islami yang merupakan hasil islamisai ilmu modern. Al-Faruqi mencoba mewujudkannya melalui lembaga yang ia dirikan “Lembaga International untuk Pemikiran Islam”.
Zianuddin Sardar (Pakistan, 1951-…) adalah doktor bidang fisika yang besar di Inggris. Sebagai koresponden Nature, ia memiliki kesempatan berkeliling ke beberapa negara muslim untuk melakukan penelitian. Sebagai seorang sejarawan, Sardar lebih dikenal sebagai seorang wartawan. Ia menekankan pembahasannya pada penciptaan suatu ilmu pengetahuan Islam kontemporer yang sepenuhnya didasarkan pada nilai-nilai Islam. Dia mengkritik keras tulisan Maurice Bucaille tentang kesesuaian Al-Qur’an dengan temuan kedokteran modern. Manurut Sardar, tujuan yang diharapkan Bucaille argument pembenaran Al-Qur’an tersebut sangat beresiko karena Al-Qur’an tidak boleh berubah. Sementara ilmu pengetahuan rentan perubahan.
Tujuan Islamisasi ilmu pengetahuan ada empat. Pertama, sejarah setiap peradaban besar menciptakan sistem ilmu pengetahuan yang berbeda-beda; kedua, peradaban Islam memiliki sistem ilmu pengetahuan yang unik; ketiga, ilmu pengetahuan Barat bersifat destruktif terhadap umat manusia; dan keempat, ilmu pengetahuan Barat tidak bisa memenuhi kebutuhan materil, cultural, dan spiritual masyarakat muslim.
Untuk menyampaikan ide-idenya tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, Sardar dan teman-temannya menerbitkan jurnal “Afakar Inquiry” dalam bahasa Inggris. Inti dari idenya adalah perlunya sistem ilmu pengetahuan yang sepenuhnya didasarkan pada nilai-nilai Islam. Hal ini didasarkan pada sejarah peradaban yang melahirkan sistem ilmu yang berbeda-beda, sesuai dengan dominasi pemikirnya. Bukunya yang terakhir berjudul “Penyelidikan dalam Ilmu Pengetahuan”, tahun 1989, sebagai ungkapan keinginan Sardar terciptanya ilmu pengetahuan Islam kontemporer sebagai kelompok “Ijmali” (bernuansa keindahan, sitesis, dan keseluruhan). Akhirnya Sardar mengajukan sebuah sistem yang mengandung delapan tingkat kerja.
Bermula dari pemikiran dan usaha keempat ilmuwan di atas, selanjutnya Islamisasi ilmu pengetahuan muncul sebagai sebuah gerakan yang lebih terorganisir dalam bentuk kelompok kecil hingga melembaga. Munculnya nama-nama yang cukup aktif mengikuti perkembangan wacana tersebut menindaklajuti dengan berbagai tulisan dan pertemuan.
Osman Bakar, murid Nasr di Malaysia, memperoleh gelar master dalam bidang matematika (London) dan doktor dalam filsafat Islam (Temple University). Karya terpentingnya “Tauhid dan Ilmu Pengetahuan”, 1991. Sardar bersama kelompok Ijmali menerbitkan majalah yang cukup penting selama empat tahun (1984-1987). Munawar Ahmad Anees, seorang tokoh Ijmali adalah doktor dalam bidang biologi menulis buku berjudul “Islam dan Masa Depan Biologis”. Selain itu juga Meryl Wynn Davies menulis buku antropologi Islam berjudul “Saling Mengenal” dan Parvez Mansoor. Terbit jurnal khusus membahas tentang Islamisasi sains, berjudul “Majalah Ilmu Pengetahuan Islam”, berbahasa Inggris dan berbasis di Aligarh, India.
Gerakan ini semakin meluas dan mendunia setelah diselenggarakan konferensi tentang Islamisasi Ilmu di Swiss tahun 1977 oleh Perhimpunan Ilmuwan Sosial Muslim. Perhimpunan ini dibawah Perhimpunan Mahasiswa Muslim berpusat di Amerika Serikat, yang didirikan oleh al-Faruqi. Konferensi ini dilanjutkan untuk yang kedua (Islamabad, 1983), ketiga (Kuala Lumpur, 1984), dan keempat (Khartoum, 1987) masih dalam tema yang sama.
Publikasi hasil konferensi dengan bahasa Arab dan Inggris ini dinilai berhasil apalagi ditunjang pendanaan yang cukup. Salah satu jurnal yang diterbitkan dari hasil konferensi ini adalah “Majalah Amerika untuk Ilmu-Ilmu Sosial Islam” (AJISS). Dewasa ini upaya Islamisasi ilmu pengetahuan meluas ke banyak cabang ilmu seperti sosiolog, antropologi dan ekonomi.
Tahun 1987, diprakarsai al-Attas, didirikan Lembaga International untuk Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC), yang memiliki tujuan hampir serupa dengan konferensi di atas. Jurnal terbitannya sejak tahun 1996, adalah “Asy-Syajarah”. Buku-buku yang diterbitkan melalui lembaga ini seperti “Ilmu Pengetahuan Islam, Menuju Suatu Definisi”, karya Alparslan Acikgenc, seorang Turki berprofesi sebagai dosen di ISTAC.
Perkembangan wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan tidak hanya berkembang melalui empat tokoh di atas, diselenggarakan juga sebuah pertemuan ilmiah yang membahas keterkaitan itu adalah Konferensi International tentang Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an dan As-Sunnah, pada tanggal 18 Oktober 1987 di Pakistan. Pertemuan ini dihadiri oleh delegasi-delegasi dari berbagai negeri Muslim, yang diprakarsai oleh Universitas Islam International dan Organisasi Mukjizat Ilmiah di Makkah dan disponsori oleh pemerintah Saudi Arabia. Ada sekitar 70 penelitian oleh peserta senior yang disampaikan dalam konferensi itu, seperti, Komposisi Kimiawi Susu dalam Hubungannya dengan ayat 66 surat An-Nahl (16) dalam Al-Qur’an, Deskripsi Manusia, Makhluk Terbaik dalam Al-Qur’an, Deskripsi Kabut Tipis dalam Al-Qur’an, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan Fenomena Kelautan Modern, dll
Gagasan Islamisasi Ilmu pengetahuan juga sedikit banyak memberikan ide atas munculnya beberapa organisasi Ilmiah muslim, seperti: Organisasi Mukjizat Ilmiah di Makkah, Yayasan Riset Qur’an Suci Islamabad di Pakistan, Ikatan Intelektual Pakistan, Jamaat-e-Islam Pakistan, dan beberapa kali pertemuan ilmiah seperti Konferensi Dunia Pendidikan Muslim, Konferensi International tentang Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an dan Sunnah, Seminar International tentang Al-Qur’an dan Sains, merupakan salah satu bentuk penggalian hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.
Perkembangan tema hubungan sains dan Islam ini terus berkembang, hingga muncul beberapa teori yang bisa memecahkan beberapa peristiwa misteri hingga sesuatu yang abstrak, seperti “Teori Kemunafikan” yang dikemukakan oleh Dr. Arsyad Ali Beg, seorang ilmuwan senior pada PCSIR (Lembaga Penelitian Ilmiah dan Industrial Pakistan). Teori ini dianggap dapat menghitung tingkat kemunafikan dalam suatu masyarakat. Karya ini bersandar pada analogi antara gaya-tolak molekul dalam suatu benda cair dan gaya-gaya yang bersesuaian dengannya pada individu-individu dalam masyarakat. Formulasi yang terjadi mirip proses reaksi kimia, seperti:
Kaum Kafir + Ajaran Nabi s.a.w. –› Masyarakat Religius
Memang perdebatan ini lebih banyak di lakukan di dunia timur yang didominasi umat Islam. Di Barat sendiri perkembangan wacana ini kurang begitu dikenal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s