Teori Relativitas : Teori Paling Inspiratif dan Kontroversial

******
Ada seorang dara bernama Bright,
Yang terbang lebih cepat dari cahaya,
Suatu hari ia berangkat dengan bergegas,
Menggunakan teori relativitas,
Dan, kembali malam sebelumnya.
******

Sejarah mencatat, bahwa kemunculan teori relativitas sangat fenomenal dan kontroversial. Banyak ditentang bahkan dianggap meresahkan oleh para ilmuwan pada saat itu. Maklum, hal ini karena teori ini telah mematahkan teori-teori fisika sebelumnya yang sudah dicetuskan oleh ilmuwan sekaliber Galileo, Newton dll.
Teori ini memang rumit dan sulit dimengerti konsep dasarnya. Kebanyakan pelajar hanya bisa memahami efek teori relativitas, tanpa memahami makna dasarnya. Memang, teori relativitas sangat unik dan berbeda dengan teori-teori fisika lainnya.
Namun dibalik itu semua, ternyata teori ini mungkin adalah satu diantara beberapa teori fisika yang mampu memancing otak untuk berimajinasi dan berkhayal. Kisah-kisah yang bercerita tentang kembali ke masa lalu, mesin penghenti waktu, twins paradox, dll bersumber dari teori ini.
Bagi para sineas, teori ini mengilhami kisah-kisah yang disajikan dalam film produksi mereka. Sebagai contoh, film Back to the Future (1985), The Time Mecine (2002), The Terminator (1984) dll. Sejarah juga mencatat, ide bom atom pada Perang Dunia II yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki juga karena pengembangan dari teori ini.

MENGENAL EINSTEIN
Teori Relativitas ini ditemukan oleh ilmuwan Jerman bernama Albert Einstein (1879-1955). Lahir di kota Ulm, Wurttemberg, Jerman. Semasa kecil pernah didiagnosa menderita sindrom asperger yang berhubungan dengan autisme. Hingga usia 3 tahun Einstein belum dapat berbicara. Minat terhadap sains bermula dari hadiah kompas dari sang ayah.
Prestasi akademik Einstein muda yang biasa-biasa saja tak menunjukkan sama sekali bakat kecerdasannya. Setelah lulus SMA Einstein melanjutkan studi ke Institut Teknologi Zurich, jurusan sains matematika. Setelah lulus sempat bekerja di Kantor Paten di Bern. Pekerjaan tersebut memberikan banyak waktu luang baginya untuk melakukan penelitian sendiri.
Memulai karier ilmiahnya pada usia 26 tahun melalui lima buah paper ilmiah di jurnal “Annalen der Physik”. Satu dari lima paper itu menjelaskan teori tentang Relativitas Khusus yang diterbitkan dengan judul “Elektrodinamika Benda Bergerak”. Paper lain membicarakan teorinya tentang efek fotolistrik yang berhasil mendapatkan hadiah bergengsi Nobel pada tahun 1921.
Banyak penghargaan yang didapatkannya karena kejeniusannya dalam bidang fisika teori. Diantaranya penghargaan Copley Medal of Royal Society (1925), Gold Medal of Royal Astronomical Society (1926), Medali Planck (1929), dll.
Tahun 1999, Majalah Time menyebut Einstein sebagai “Person of the Century” atau orang abad ini. Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai Einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.

MENGENAL ETER DAN CAHAYA
Benang merah kemunculan teori Relativitas khusus salah satu diantaranya adalah dugaan tentang keberadaan eter di kalangan ilmuwan. Eter yang saat itu dipercaya sebagai materi pengisi seluruh alam semesta, termasuk ruang hampa udara menjadi sebuah hipotesa yang sangat menarik minat Albert Einstein. Saat itu, tahun 1905, Einstein tidak meragukan sama sekali keberadaan eter serta gerakan eter di semesta ini.
Sebelum hipotesa tentang eter ini menarik minat Einstein, sebenarnya duo ilmuwan Albert A. Michelson dan Edward Morley sudah membuktikan keberadaan eter melalui percobaan dengan alat interferometer. Percobaan itu tidak berhasil membuktikan adanya eter, tetapi yang didapatkan kemudian adalah nilai cepat rambat cahaya dalam ruang hampa yaitu sebesar 300.000.000 m/s dan selanjutnya dikenal dengan sebutan c.
Einstein menyakini, bahwa kecepatan suatu zat di alam semesta ini yang bergerak paling cepat adalah cahaya. Tidak ada benda yang mampu bergerak melebihi c. Jika suatu zat berkehendak melaju sama dengan c, maka zat ini harus menjadi c terlebih dulu.

TRANSFORMASI GALILEO
Hukum komposisi kecepatan ini didasarkan atas dua postulat, yakni :
Waktu bersifat mutlak,
Waktu di bumi dan semua tempat selain Bumi berlaku sama. Satu menit berarti 60 detik dst. Waktu juga dianggap sama berlaku pada benda yang diam ataupun yang bergerak.
Hukum-hukum gerak Newton tidak berubah bentuk (invariant),
Hukum Newton berlaku sama dan tetap pada semua benda dalam segala keadaan, diam maupun bergerak dengan kecepatan berapapun.
Konsepnya bisa kita pahami melalui cerita berikut :
Sebuah Bus bergerak dengan kelajuan (v) 20 m/s menuju ke Utara. Salah satu penumpang di dalam bus berlari menuju ke sopir bus (searah dengan arah gerak bus) dengan kecepatan relatif terhadap bus (vx’) 5 m/s.
Berdasarkan peristiwa tersebut, kita bisa mendapatkan nilai kecepatan lari si penumpang tadi bersifat relatif tergantung si pengamat, yakni :
Jika si pengamat adalah sang sopir, maka menurutnya kecepatan lari si penumpang adalah 5 m/s.
Jika si pengamat adalah seseorang yang sedang berdiri di pinggir jalan dimana bus melaju, maka kecepatan lari si penumpang tadi adalah vx = (20 + 5) m/s = 25 m/s.
Konsep komposisi kecepatan inilah yang membuat Einstein berpikir keras. Konsep ini hingga sekarang masih dapat diterapkan karena mendekati kebenaran pada keadaan apabila nilai kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya dalam vakum (c) yaitu 3 x 105 m/s atau v << c. Namun jika diterapkan pada kecepatan partikel yang bergerak mendekati c, maka konsep ini tidak bisa diterapkan.
Mari kita ulangi cerita di atas, jika kecepatan bus o,6c dan kecepatan orang yang berlari di dalam bus juga 0,6c relatif terhadap bus yang bergerak. Maka pengamat yang berada di luar sistem tersebut akan menyebutkan kecepatan orang tersebut adalah 0,6c + 0,6c = 1,2c. Hasil komposisi kecepatan memungkinkan nilainya melebihi c (v > c). Bukankah kecepatan tertinggi adalah c ?
Einstein lantas meramu sebuah formulasi khusus dengan memodifikasi teori Lorentz. Konsepsi yang Einstein tambahkan adalah konstanta relativitas sehingga komposisi penjumlah kecepatan gerak relatif benda yang mendekati nilai c akan selalu kurang dari c.

TRANSFORMASI LORENTZ
Teori ini berlandaskan atas teori relativitas yang didasari atas dua postulat, yakni :
Kelajuan cahaya dalam vakum (c) invarian (bernilai sama) dalam semua kerangka inersial.
Nilai kelajuan terbesar yang berhasil dideteksi manusia di alam semesta ini adalah c. Tidak diizinkan suatu benda bergerak melebihi c bahkan ketentuan ini juga berlaku bagi cahaya. Konsep ini berlaku dalam semua kerangka inersia, yakni kerangka acuan yang diam ataupun yang bergerak.
Semua hukum fisika kovarian (berbentuk sama) dalam semua kerangka inersial.
Dalam keadaan pengamat yang diam ataupun yang bergerak, maka hukum-hukum fisika harus berbentuk sama.

Konsepnya kita pelajari lagi melalui sebuah cerita :
Jika sebuah pesawat bergerak (v) sebesar 0,8c dan seseorang yang berada di dalamnya juga bergerak (vx’) sebesar 0,5c relatif terhadap pesawat, maka semua pengamat, baik itu dalam keadaan diam maupun dalam keadaan bergerak, maka akan mendapati bahwa seseorang yang berada di dalam pesawat bergerak menurut pengamat yang diam adalah
vx = (v+ v_x^’)/(1+ (v ∙ v_x^’)/c^2 )  =  (0,8c + 0,5c)/(1+ (0,8c ∙ 0,5c)/c^2 )  =  1,3/1,4 c  = 0,93c
Dari konsep komposisi kecepatan ini, maka hasil yang didapat selalu lebih kecil dari c. Berdasarkan teori ini pula, maka apabila ada suatu partikel yang mampu bergerak mendekati nilai c (v ≈ c) atau bergerak relativistik, maka akan mengalami konsekuensi atas beberapa hal yang melibatkan nilai konstanta relativitas (k = 1/√(1- v^2/c^2 )) sebagai berikut :
Kontraksi panjang
Panjang benda ketika dalam keadaan relativistik (L) lebih pendek dari keadaan diam (L0). Hal ini sesuai dengan formulasi :
L  =  L0 √(1- v^2/c^2 )         sehingga     L < L0
Sehingga, semakin cepat gerak benda, maka panjang benda akan semakin memendek. Maka ketika kita mengukur panjang benda yang bergerak dengan kecepatan mendekati c, maka hasil yang diperoleh selalu lebih pendek dari pengukuran yang dilakukan dalam keadaan diam.
Dilatasi Waktu
Selang waktu yang dialami oleh suatu benda dalam keadaan relativistik (Δt) akan lebih lambat/lama dari keadaan ketika diam (Δt0). Hal ini sesuai dengan formulasi :
Δt  =  Δt0 1/√(1- v^2/c^2 )        sehingga     Δt  >  Δt0
Sehingga, semakin cepat gerak benda, maka waktu yang dialami benda akan semakin melambat. Maka suatu obyek yang sedang dalam keadaan bergerak dengan kecepatan mendekati c, maka waktu berjalan lebih lambat dari waktu yang berlaku padanya dalam keadaan diam. Perlambatan waktu yang berlaku pada obyek tersebut meliputi seluruh sistem yang melekat padanya hingga pada denyut jantungnya, sehingga obyek itupun tak menyadarinya.
Massa Relativitas
Massa yang dimiliki benda dalam keadaan relativistik (m) akan lebih mengembang/besar dari keadaan diam (m0). Hal ini sesuai dengan formulasi :
m  =  m0 1/√(1- v^2/c^2 )        sehingga     m  >  m0
Sehingga, semakin cepat gerak benda, maka massa yang dimiliki benda semakin membesar. Konsep ini sekaligus membuktikan bahwa massa tidak berlaku mutlak. Karena nilai massa bisa berubah relatif dalam keadaan bergerak dengan kelajuan mendekati c.
Kesetaraan Massa dan Energi
Energi total (E) adalah jumlah dari energi diam (E0) dan energi kinetik relativistik (Ek). Hal ini sesuai dengan formulasi :
E      =  E0 + Ek
E0    =  m0 c2
E    =  m c2  =  m0 c2 1/√(1- v^2/c^2 )
Ek    =  [1/√(1- v^2/c^2 )-1] m0 c2
Sehingga     semakin cepat gerak benda, maka energi yang dibutuhkan akan semakin besar. Maka untuk menggerakkan suatu obyek pesawat agar bisa bergerak dengan kecepatan mendekati c, maka harus senantiasanya menyiapkan energi bahan bakar yang sangat banyak. Banyaknya energi untuk bahan bakar yang dibutuhkan pesawat tersebut sebanding dengan semakin menggelembungnya massa awak pesawat tersebut.

KISAH PARADOKS    
Setiap suatu teori yang muncul, pasti di sertai dengan hipotesa/ dugaan yang menyertainya. Hipotesa inilah yang menginspirasi banyak orang untuk berimajinasi dan mengandai-andai sesuatu akan terjadi jika teori tersebut benar adanya.
Hipotesa-hipotesa yang menyertai teori relativitas ini berkembang menjadi kisah-kisah paradox yang mungkin akan terjadi jika suatu partikel mampu bergerak mendekati atau sama dengan c hingga melebihi nilai c.
Twins Paradoks (Paradoks Kembar)
Kisah ini fiksi semata, sebagai cara Einstein untuk menjelaskan teorinya secara lebih santai. Diandaikan ada dua anak kembar siam bermukim di Bumi. Salah satunya namanya Mecca dan lainnya bernama Madina. Saat mereka sama-sama berumur 20 tahun, Mecca melakukan perjalanan antariksa dengan sebuah pesawat yang bergerak menuju suatu planet yang sangat jauh dengan kecepatan 0,5c. Sementara Mecca pergi, Madina tetap berada di Bumi menunggu kepulangan Mecca.
Keganjilan terjadi saat Mecca kembali lagi ke Bumi. Berdasarkan kerangka acuan Madina di Bumi, Mecca telah melakukan perjalanan selama 10 tahun, sehingga usia Madina telah beranjak 30 tahun. Namun Mecca membatahnya. Ia beralasan melakukan perjalanan selama 8 tahun sehingga saat ini ia berusia 28 tahun. Jadi Mecca berusia 8 tahun lebih muda dari Madina saat kembali ke Bumi.
Kejadian itu bisa dijelaskan melalui konsep Dilatasi Waktu. Karena Mecca bergerak dengan kecepatan relativistik (v = 0,6c), maka Mecca mengalami pemuluran/ perlambatan waktu 0,8 kali dari waktu yang dialami oleh Madina.
Kisah ini menjelaskan bahwa Madina telah merayakan 10 kali pesta ulang tahun selama 8 tahun kepergian Mecca. Akhir kisah, mereka menjadi kembar (twins) yang berbeda (paradox).
Paradoks kakek
Kisah ini juga berkutat pada konsep perjalanan waktu yang berjalan mundur ke masa lalu. Jika seseorang menaiki pesawat mesin waktu yang bergerak dengan kecepatan melebihi cepat rambat cahaya dalam vakum hingga ia bisa kembali lagi ke masa lalu saat kakeknya masih kecil. Selanjutnya dia membunuh anak itu yang kelak adalah kakeknya. Lantas bagaimanakah nasibnya saat itu? Bagaimana pula nasibnya dengan anak dari si kakek atau orang tua orang tersebut?
Paradoks Cermin
Paradoks cermin adalah sebuah teka-teki yang lontarkan Einstein saat ia membicarakan teorinya tersebut. Apa yang akan terjadi jika seseorang yang sedang bercermin bergerak setara dengan cepat rambat cahaya dalam vakum? Apakah cahaya yang dipantulkan dari wajah orang tersebut tak pernah mencapai cermin hingga ia tak dapat melihat bayangannya sendiri di cermin?

Perjalanan waktu adalah sebuah konsep berjalan waktu maju atau mundur ke titik berbeda dalam waktu, selayaknya ketika bergerak terhadap ruang. Konsep ini mengambil ide dari teori dilatasi waktu ala relativitas khusus, relativitas umum dan mekanika kuantum.
Perjalanan menggunakan mesin waktu yang bisa bergerak super cepat sehingga waktu bisa seolah-olah melambat dan bahkan berhenti sama sekali. Dalam keadaan bisa menghentikan waktu atau kembali ke masa lalu, lantas orang mulai berimajinasi untuk melakukan banyak hal, seperti menebak sampai merubah hasil pertandingan, menggagalkan suatu kejahatan, merubah suatu keputusan salah, mengantisipasi suatu bencana hingga penyelamatan nyawa karena suatu kecelakaan.

APAKAH MUNGKIN BERGERAK SETARA c ?
Hampir dipastikan tidak ada materi apapun yang dikenal di alam semesta ini yang mampu bergerak dengan kecepatan setara c, kecuali cahaya itu sendiri. Konsekuensi yang terjadi pada setiap obyek yang bergerak setara nilai c adalah waktu yang melambat, panjang yang mengkerut, massa dan energi yang mengembang tidak akan mampu dipenuhi obyek apapun.
Semakin cepat benda bergerak, maka semakin banyak energi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar penggerakkan. Sampai saat ini, tidak dimungkinkan sebuah benda sebesar apapun mampu menyimpan dan membawa bahan bakar yang cukup untuk menggerakkan benda tersebut pada pada kecepatan mendekati c.
Selain itu, sensasi tekanan yang diakibatkan pada percepatan agar kecepatan akhir mendekati c tidak akan sanggup dilakukan oleh manusia dan obyek manapun, kecuali benda itu akan hancur luluh sebelum kecepatannya mendekati c. Kita sendiri bisa merasakan keadaan tersebut tatkala naik kendaran mobil yang sedang dipercepat. Maka saat mobil sedang dipercepat, maka tubuh akan tertekan oleh sandaran kursi dengan begitu kuatnya, seolah siap melepas setiap bagian tubuh kita. Tatkala percepatan dan kecepatan dinaikkan, maka tekananpun semakin besar.
Einsteins sendiri sang penggagas teori ini menjawab pertanyaan itu dengan sebuah ungkapan bahwa “Tuhan tidak bermain dadu dengan dunia ini”. Jika suatu partikel mampu bergerak lebih cepat daripada c, maka partikel tersebut akan kembali ke masa lalu. Dan jika gejala itu terjadi, maka rusaklah semua tatanan kehidupan manusia dan semesta yang sudah diatur melalui takdir oleh Tuhan.
Usaha untuk menggerakkan partikel melaju lebih cepat dari c pernah dilakukan. Partikel-partikel seperti elektron dapat dibuat agar melaju sangat cepat dalam sebuah akselerator burdar di Fermilah, Amerika Serikat. Partikel-partikel tersebut dipacu dengan memanfaatkan medan magnetik. Semakin besar energi yang diberikan oleh medan magnet kepada partikel, semakin cepat partikel itu melaju. Akan tetapi, kecepatan partikel itu tidak akan pernah cukup untuk melaju lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Setiap energi tambahan membuat partikel bertambah berat karena massa relativistik. Dan pola akan kembali berulang, karena jika massa partikel semakin besar, maka energi untuk menggerakkannya juga semakin berlipat. Sebagaimana konsep kesetaraan massa dan energi (E = m c2)

PERCOBAAN YANG MEMBUKTIKAN
Beberapa penelitian mencoba membuktikan ramalan-ramalan kebenaran dan keakuratan teori relativitas, khususnya konsep dilatasi waktu. Tercatat setidaknya ada dua percobaan yang mungkin bisa mewakili bahwa kecepatan relativistik bisa berakibat pada pemuluran waktu.
Empat Lonceng Cesium
Sebuah percobaan pada tahun 1971 oleh fisikawan Amerika Serikat bernama J. C. Hafele dan Ricard Keating dengan menggunakan empat lonceng (jam) Cesium terbang keliling dunia dengan pesawat jet.
Percobaan dilakukan dengan menerbangkan keempat lonceng tersebut ke arah Barat dan Timur yang seluruhnya memakan waktu tiga hari. Hasil percobaan tersebut, menunjukkan ketidakcocokan antara waktu yang ditunjukkan oleh lonceng yang bergerak tadi, dengan waktu  standar di US Naval Observatory, Washington DC.
Dengan memperhitungkan lintasan terbang pesawat, teori relativitas memperkirakan kehilangan waktu 0,0000004 detik untuk penerbangan ke arah Timur dan pertambahan waktu 0,0000275 detik untuk yang arah Barat.
Muon
Muon diperkirakan bergerak dengan kecepatan 2,994 x 108 m/s atau hamper mendekati c. Muon adalah partikel yang terbentuk di atmosfer Bumi. Muon hanya memiliki waktu 2 x 10-6 s sebelum meluruh menjadi elektron dan positron. Seharusnya Muon tidak akan pernah sampai ke Bumi karena hanya memiliki waktu sangat sedikit sebelum akhirnya meluruh. Namun ternyata keberadaan Muon tetap bisa dideteksi di permukaan Bumi. Hal itu karena kecepatan gerak relativistik Muon mampu memperlambat selang waktu hingga 31,6 x 10-6 s hingga akhirnya sampai ke Bumi sebelum meluruh.

RELATIFITAS YANG INSPIRATIF
Banyak sinema-sinema yang menggunakan perangkat teori relativitas sebagai jalan kisahnya. Kita ingat ada The Terminator, dirilis 26 Oktober 1984, diperankan oleh Arnold Schwarzenegger yang sudah sampai seri keempat dan sukses dalam cerita maupun secara komersil. Kisahnya bermula dari kemunculan manusia robot yang berasal dari masa lalu untuk mencegah lahirnya seorang bayi yang kelak menjadi pemimpin pertempuran dimasa depan antara manusia dan robot. Kisahnya dilanjutkan pada seri selanjutnya Terminator 2 : The Judgment Daya (1991); Terminator 3 : Rise of the Machines (2003); dan Terminator Salvation (2009) lalu.
Kisah penggunaan kendaraan super cepat yang mampu menembus waktu hingga kembali ke masa lalu dan menyaksikan sendiri kejadian-kejadian di masa lalu untuk direkayasa demi suatu penyelamatan, dikisahkan dengan bagus dalam film “Back to the Future”. Kisah ini diperankan oleh Michael J. Fox dan dirilis pada tahun 1985 dan dilanjutkan seri kedua pada tahun 1989.
Film sains fiksi lain yang lebih dramatis dan serius adalah “The Time Machine” (2002). Film ini mengisahkan tentang perjalanan ke masa depan disertai dengan prediksi-prediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Film ini diangkat dari novelnya dengan judul sama yang ditulis oleh H. G. Wells dan diterbitkan pada tahun 1895. Kisah dari novel ini juga diadaptasikan ke dalam serial televisi dan komik dengan judul sama.
Film lain yang mengangkat kisah perjalanan waktu dan konsep relativitas diantaranya : Twelve Monkeys (1995); The Time Traveler’s Wife (2009); dll
Banyak tulisan, naskah ilmiah hingga novel-novel berbobot yang terinspirasi dari gejala relativitas ini. Misalnya : “A Christmas Caro”, by Charles Dickens; “A Connecticut Yankee in King Arthur’s Court”, by Mark Twain; “All the Myriad Ways”, by Larry Niven; “All You Zombies”, By His Bootstraps; “The Cat Who Walks Through Walls, Farnham’s Freehold, and Time Enough For Love”, by Robert A. Heinlein; “The Time Ships, an authorized sequel to Wells’ novel”, by Stephen Baxter; “A Bridge of Years and The Chronoliths’, by Robert Charles “Wilson; “Bones of the Earth”, by Michael Swanwick; “Cascade Point”, by Timothy Zahn; “Harry Potter and the Prisoner of Azkaban and Harry Potter and the Order of the Phoenix”, by J.K. Rowling; “Mastadonia”, by Cliford Simak; “October the First is Too Late”, by Hoyle; “Paratime series”, by H. B. Piper; “Rotating Cylinders and the Possibility of Global Causality Violation”, by Larry Niven; “Scape Scope”, by Stith; “The Coming of the Quantum Cats”, by Frederik Pohl; “Doomsday Book and To Say Nothing of the Dog”, by Connie Willis; “Thus We Frustrate Charlemagne”, (1966) by R. A. Lafferty; “The End of Eternity”, by Isaac Asimov; “The Other Side of Time”, by Keith Laumer; “The Time Traveler’s Wife”, by Audrey Niffenegger; “Household Gods”, (1999) by Judith Tarr and Harry Turtledove; “Appeared in Alpha 1”, (1968), edited by Robert Silverberg dll.

TEORI YANG PENUH PERDEBATAN
Tidak semua kalangan menyambut baik kehadiran teori relativitas. Beberapa diantara para ilmuwan saat itu, mereka bangga dan takjub dengan apa yang telah diraih Einstein dengan teorinya, beberapa yang lain justru sebaliknya. Ada yang sekedar skeptis namun ada juga yang terang-terangan menentang teori relativitas Einstein.
Salah satu bentuk kekaguman orang terhadap hasil karya Einstein adalah  komentar Presiden Royal Society, J.J. Thomson (Inggris, 1856-1940), pada pertemuan yang membahas hasil foto gerhana matahari untuk menguji teori-teori Einstein yang akhirnya dinyatakan terbukti, “Inilah hasil paling penting yang diperoleh sehubungan dengan teori gravitasi sejak zaman Newton dan merupakan salah satu prestasi tertinggi yang pernah dicapai oleh otak manusia”.
Diantara ilmuwan yang skeptis dan meragukan kebenaran teori relativitas adalah Sir Oliver Lodge, dengan makalahnya berjudul “The Ether of Space” (Eter Ruang Angkasa). Menurutnya baik Newton, dirinya maupun Einstein tidak memahami apa itu gravitasi. Teori Einstein juga masih belum bisa untuk menjelaskannya.
Sentimen terhadap Einstein, sebenarnya bukan hanya karena teori relativitasnya. Ada yang disebabkan karena keturunan Yahudi dan karena berasal dari Jerman. Namun semua itu berakar karena keteranan sosok Einstein. Einstein pernah gagal pada akhir pertemuan untuk mendapatkan anugerah Medali Emas Lembaga Astronomi Kerajaan Inggris, karena keturunan Jerman. Padahal sebelumnya Einstein sudah diberi tahu akan mendapatkannya. Jadi, untuk pertama kalinya dalam 30 tahun tidak ada penganugerahan Medali Emas.
Beberapa pendapat yang menyebabkan sentimen sebagian pers dan kalangan Inggris adalah karena tersisihnya posisi tokoh Newton yang berasal dari Inggris.
Di Jerman sendiri tahun 1919 muncul kelompok gerakan anti-Einstein. Mereka membentuk kelompok studi ahli filsafat alam, dengan dukungan dana besar untuk disediakan bagi siapa saja yang bersedia berbicara atau menulis melawan Einstein. Gerakan ini dipelopori oleh Paul Weyland dengan dukungan ahli fisika Jerman, Ernst Gehrcke dan Philip Lenard, seorang pemenang hadiah Nobel. Kegiatan mereka diantaranya mengadakan pertemuan-pertemauan yang intinya menentang dipahaminya teori relativitas dan mencela Einstein dengan ungkapan anti-semistisme serta bersifat bermusuhan terhadap semangat Jerman. Einstein menyebut gerakan ini sebagai “Perusahaan Antirelativitas”.

Iklan
By febri prasetyo Posted in Fisika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s