Mungkin, Kita Tidak Sendiri!!!

MAKHLUK itu memiliki dua buah mata hijau yang besar dan terletak menjulang menyerupai sepasang sensor. Telinganya lebar, kepalanya botak, berkulit licin dan berbicara dengan bahasa unik. Secara keseluruhan penampakannya aneh untuk ukuran manusia. Identik dengan bentuk tubuh manusia karena organ tubuh luarnya memang tampak sama. Ukuran kepalanya besar tampak kontras dengan tubuhnya yang pendek. Konon karena tingkat intelegensinya lebih cerdas dibandingkan manusia, sehingga memerlukan tempat lebih luas untuk menampung otaknya yang besar. Muncul secara tiba-tiba dengan mengendarai pesawat berbentuk cakram yang mampu melesat secepat kilat. Sehingga bagi siapapun yang -mengaku- bertemu dengannya seolah berada dalam keadaan setengah sadar karena dia lebih menyukai bermain kucing-kucingan daripada bertatap muka secara langsung. Tentu dia memiliki alasan logis. Konon karena mereka sedang menjalankan suatu misi di Bumi ini sehingga dilarang keras untuk melakukan komunikasi langsung dengan objek penelitian. Meski ada beberapa diantara mereka yang memilih bersahabat dengan manusia dan bahkan saling jatuh cinta. Jika kita bersitegang dengan mereka, maka senjata laser siap membelah tubuh kita yang hanya bermodal belati dan pistol.

Mengapa imajinasi kita selalu mengambil rupa mereka dengan beberapa sudut pandang yang lebih mirip kostum Helloween? Mengapa mereka tidak terbuat dari logam sekalian dengan rupa yang sama sekali berbeda dengan manusia? Seperti robot mungkin. Lebih jauh lagi, semua rancangan variasi rupa mereka selalu menyerupai rupa manusia. Hanya memanipulasi organ-organ yang pada akhirnya berfungsi sebagaimana organ tubuh manusia. Namun pastinya, makhluk rekaan ini secara komersil sangat menguntungkan terutama bagi industri hiburan. Disukai orang tua apalagi anak-anak. Karena, bagaimanapun juga kita membutuhkan sosok yang bisa menjadi ajang pengembaraan liar imajinasi.

Apa yang menjadi topik kita kali ini adalah sebuah imajinasi massal yang bertahan selama berpuluh-puluh tahun meski tidak ada bukti keberadaannya sama sekali. Berbekal kata “mungkin” maka kita setia berharap dan menanti kedatangannya. Berbagai bentuk penyelidikan ilmiah berjalan secara teoritis maupun eksperimen untuk mencari jejak keberadaannya. Lembaga-lembaga ilmiah dengan nama-nama yang aneh mulai melibatkan diri. Para peneliti baik dari kelas pelajar hingga professor bergabung dengan bangganya bersama lembaga-lembaga tersebut.

Seperti halnya masyarakat kebanyakan, dalam perbincangan ini para ilmuwan terbagi dalam dua kelompok. Mereka yang tidak mempercayai keberadaan makhluk luar angkasa (extraterestrial/ ET) dan mereka yang mempercayai keberadaan mereka. Dan dari dua kubu ini satu hal yang mereka setujui adalah jika seandainya ternyata ET memang ada, maka pastilah bentuk kehidupan mereka berbeda dengan manusia. Secara teoritis kehidupan yang berkembang dengan sistem tata surya, keadaan planet, demografi, cuaca, dan tekanan udara yang berbeda dengan kehidupan di Bumi ini, tentu saja harus mengambil bentuk kehidupan yang berbeda dengan manusia. Hal ini tidak perlu diperpanjang lagi kecuali dengan sebuah keterangan, bahwa keberlangsungan hidup suatu spesies akan bertahan jika mampu beradaptasi dengan planet dan lingkungannya.

Untuk menguak keberadaan ET tersebut, para ilmuwan secara serius melakukan berbagai bentuk penelitian. Laboratorium dengan teknologi pemancar dan penerima sinyal canggih menjadi menu wajib peralatan mereka. Berharap suatu saat nanti kehidupan cerdas luar angkasa tersebut memberikan sinyal sebagai bentuk keramahan terhadap kita. Atau sekadar bersiap jika kedatangan mereka ternyata bukan dalam misi damai.

Lain ilmuwan lain pula masyarakat dalam bereaksi. Berbagai situs internet, musik, film, buku, program televisi, kelompok diskusi, seminar dan pertemuan-pertemuan penting berskala lokal hingga global mereka adakan untuk berbagi imajinasi. Berbagai iklan produk-produk tertentu, seperti jeans, mobil, soft drink, bank, pernah memerankan sosok ET sebagai model iklannya. Seolah tanpa batas energi, kegiatan itu terus berlangsung dan mungkin akan semakin gencar pada abad-abad berikutnya.

DI MANA MEREKA?

Pertanyaan ini disebut paradoks Fermi. Sederhana namun begitu kuat. Memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lain yang juga sama rumitnya. Seberapa besar kemungkinan adanya planet yang sesuai untuk menghasilkan kehidupan? Seberapa besar kemungkinan makhluk-makhluk itu benar-benar memiliki kecerdasan? Apakah makhluk cerdas tersebut mampu membangun teknologi pemancar sinyal yang dapat di deteksi oleh kita? Berapa tahun yang dibutuhkan peradaban cerdas untuk membangun teknologi tersebut? Dan tentunya beragam pertanyaan lain yang akhirnya bisa menguatkan kepada kita tentang keberadaan mereka di luar angkasa.

Pertanyaan-pertanyaan ini diambil dari Persamaan Drake yang disusun oleh Frank Drake, seorang astronom radio dari National Radio Astronomy Observatory, untuk memusatkan diskusi tentang kemungkinan adanya makhluk luar angkasa. Diskusi tidak resmi ini dilakukan pada November 1961 oleh Akademi Sains Nasional (National Academy of Science) di Green Bank, Virginia Barat.

Rupanya Frank Drake tidak main-main dengan obsesinya untuk menemukan keberadaan mereka. Riset pertama Frank dia sebut Proyek Ozma. Sebuah piringan antena raksasa berukuran 85 kaki dipasang pada gelombang 1420 MHz di National Radio Astronomy Observatory dimana Frank bekerja dan diarahkan pada dua bintang yang umurnya kira-kira sama tuanya dengan Matahari. Frank memonitornya selama enam jam sehari dari April sampai Juli 1960. Sebuah sinyal tertangkap dan diduga berasal dari bintang Tau Ceti dan Epsilon Eridani. Ternyata Frank salah duga. Sinyal tersebut tak lain hanyalah alarm yang salah dari sinyal proyek militer rahasia.

Sebuah proyek besar pencarian makhluk luar angkasa cerdas disingkat dengan SETI (Search for Extra Terrestrial Intelegence) dimulai tahun 1984. Sebagian dananya pernah ditanggung oleh Steven Spilberg, seorang sutradara film brilian yang lebih terkenal dengan film-film fiksi ilmiah macam Independence Day (1996). SERENDIP (Search for Extraterrestrial Radio Emmisions from Nearby Developed Intellegent Populations) adalah proyek usaha lain dengan menggunakan laser untuk mencari sinyal radio dari luar angkasa yang didasari oleh penulis fiksi ilmiah Arthur C. Clarke.

Akhirnya lembaga perserikatan bangsa-bangsa mulai merasa gerah juga terhadap isu ini. Atas usulan dari Sir Eric Matthew Gairy, Perdana Menteri Grenada, masalah tentang makhluk asing ini dibicarakan dalam komite khusus dari majelis umum PBB di sidangnya yang ke-33 pada hari senin, 27 November 1978. Dr. J. Allen Hynek, salah seorang penyaji dalam sidang tersebut adalah pendiri “Center for UFO Studies” pada tahun 1973, yang dimaksudkan untuk menyediakan sumber informasi bagi semua kalangan tentang hasil penelitiannya terhadap UFO (Unidentified Flying Object). Anehnya, sama seperti apa yang dibahas, kelanjutan dari pembicaraan UFO di tingkat PBB pun seperti tak ada kabar kelanjutannya.

Orang di belakang istilah UFO adalah Edward J. Ruppelt, kepala Airforce’s Project Bluebook, Amerika, pada tahun 1952. Dan secara kebetulan, Hynek juga pernah menjadi konsultan astronomi dari angkatan udara AS pada proyek “sign” dan “Bluebook”. Kedua proyek ini bertugas mengolah dan mempelajari kesaksian UFO untuk dilaporkan pada angkatan udara, sebelum akhirnya kedua proyek itu dibubarkan. Belakangan muncul berita miring, sebenarnya proyek Bluebook dikendalikan oleh CIA justru sebagai bagian dari skenario untuk menghilangkan bukti-bukti keberadaan UFO.

Istilah UFO identik dengan istilah BETA (Benda terbang aneh) yang lebih banyak digunakan oleh komunitas dan peneliti makhluk ini di Indonesia. Dikenalkan oleh Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) era 1960-an,  Marsekal Muda TNI-AU J. Salatun. Seorang akuntan publik dari Bandung bernama C. M. Tanadi yang pada tahun 80-an banyak menerbitkan buku terjemahan tentang fenomena ini lebih memilih menggunakan istilah BETEBEDI (Benda Terbang Belum Dikenal).

Seminar tentang masalah UFO juga pernah diadakan di Indonesia pada 30 Juni 1979. Diprakarasai oleh Yayasan Idayu, dengan judul “UFO, Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini” dan menghadirkan J. Salatun. Salatun dianggap bisa mewakili komunitas peneliti UFO di Indonesia karena beberapa tulisannya di majalah-majalah UFO luar negeri, seperti di CBA Internasional Magazine, Jepang dan International UFO Report, di AS.

Sejujurnya memang tidak ada perkembangan yang berarti dari proses-proses penyelidikan tersebut. Beberapa proyek yang mengeksplorasi keberadaan makhluk asing ini justru dibubarkan. Mungkin karena tidak adanya bukti langsung terhadap tanda-tanda keberadaan mereka, kecuali kesaksian lisan beberapa orang yang mengaku pernah menyaksikan fenomena makhluk asing yang pada akhirnya banyak terbukti manipulatif. Kesaksian-kesaksian lain juga terus berdatangan dari berbagai belahan dunia meski dengan mengusung ide cerita yang nyaris sama. Bahkan para “peneliti” fenomena ini tak segan-segan mengambil data-data dari kitab-kitab kuno yang tentu saja terlalu mudah untuk diragukan. Seperti kitab sastra Hindu kuno, Ramayana atau cerita yang ditulis oleh Iulius Obsequens, seorang penulis Romawi pada tahun 99 SM.

Hingga kini kisah misteri tentang makhluk-makhluk dari planet lain memang belum usai. Memancing akal untuk berimajinasi lebih liar lagi. Persamaan Drake maupun paradoks Fermi masih membutuhkan penjelasan untuk kita jawab. Menjadi sebuah pertanyaan antar generasi. Walau tidak mudah untuk menjawabnya, namun sesungguhnya pertanyaan tersebut sungguh menarik. Memberikan kesempatan kita untuk lebih berani berspekulasi.

Sambil menyimpan sejumlah jawaban, berangsur-angsur orang-orang justru mulai mengalihkan perhatian mereka. Tak perlu penjelasan ilmiah yang serius, cukup memberikan ide tentang suatu peran pada salah satu tokoh di setiap cerita fiksi-fiksi ilmiah yang menghibur. Baik itu di ruang imajinasi, halaman demi halaman buku hingga layar kaca. Ide itu lantas kehilangan semangat pencarian ilmiah. Kecuali sedikit tersentak ketika sebuat gosip beredar yang menuduh pihak militer sengaja menutup-nutupi bukti yang pernah ditemukan sebagai proyek penelitian rahasia mereka.

PENAMPAKAN MISTERIUS

Nampaknya kita tidak perlu membatasi kolom ini hanya untuk mereka yang menganalisa isu ET secara ilmiah semata. Saksi dan pendapat umum juga layak kita dengarkan. Apalagi ternyata hampir 57% dari warga AS, menurut peneliti UFO internasional J. Allen Hynek, mempercayai keberadaan makhluk asing tersebut. 1300 kasus jejak fisik telah dilaporkan. Ribuan orang dari 133 negara mengaku pernah menyaksikan dan bahkan berinteraksi dengan apa yang akhirnya mereka namakan sebagai UFO. Saksi-saksi yang lantang berbicara juga banyak dari kalangan yang bisa dipertanggungjawabkan. Astronot, ahli radar, para penerbang sipil dan militer, pejabat pemerintah, ilmuwan dan bahkan juga para astronom.

Ini betul-betul isu yang sangat inspiratif. Ratusan buku-buku menarik telah ditulis dengan berbagai macam kesaksian terhadap penampakan misterius di angkasa. Beberapa diantaranya: Are we Alone?, oleh Paul Devies, 1996; Why Aren’t Black Holes Black?, oleh Robert M. Hazen, 1997; Sharing the Universe: Perpectives on Extraterrestrial Life, oleh Selt Shostak, 1998; Where are They?, oleh Jeff Greenwald, 1999; Life in Outer Space: the Search for Extraterrestrials, oleh Kim McDonald, 2000, dll. Beberapa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti: “Peninggalan Masa Lampau yang Misterius dan UFO”, oleh Yves Naud; “Adakah Makhluk Lain dari Luar Angkasa?”, oleh Erich von Daniken, “Penyelidikan terhadap Hubungan antara Film Fiksi Ilmiah dan Mitologi UFO”, oleh Mark Pilkington, dll

Industri film juga tak luput dari pengaruh makhluk asing ini, seperti: Independence Day, Close and Counters of the Third Kind (1997); ET (1982); Trilogi Star Wars; Allien; Star Trek; Men in Black; Mars Attacks; Area 51; The X Files (1993); Starship Troopers dan beberapa film lain dengan sajikan special afek yang mengagumkan. Film-film dengan tema ini juga sudah menjadi tontonan menarik pada tahun 50-an sampai 70-an, seperti: The Day the Earth Stood Stil (1951); Invanders form Mars (1953); The Manchurian Candidate (1962); The Bellero Shield (1964); Fire in the Sky (1975) dll.

Laporan pertama terhadap penampakan benda asing terjadi pada lebih dari seratus tahun lalu, tepatnya 17 November 1896, di mana sebuah kapal lampu elektrik terlihat oleh ratusan orang ketika benda itu melewati Sacramento, California. Dengan segera muncul ratusan laporan lain yang merasa melihat obyek misterius yang berputar-putar dan bercahaya. Belum ada penjelasan yang lebih rasional saat itu kecuali beberapa hipotesa seperti prototype dari pesawat angkasa, halusinasi, proyek pesawat rahasia militer atau memang sesuatu obyek yang misterius. Dan meski pada akhirnya diketahui tenyata berita tersebut hanya dibuat-buat, namun minat terhadap benda misterius telah terlanjur meluas.

Kisah yang lain adalah kasus penculikan yang didalangi oleh para makhluk asing tersebut. Dan lagi-lagi ini hanya ulah seseorang yang terinspirasi setelah menyaksikan tontonan fiksi. Seperti yang pernah terjadi di Inggris tahun 80-an, ketika seorang wanita menghubungi BUFORA (British UFO Research Asosiation) dan menceritakan pengalaman penculikan dirinya dengan kisah persis seperti adegan pada episode terakhir Dynasty spin-off the Clobys. Untungnya penyelidik segera mengenali hubungan kedua peristiwa tersebut yang juga ternyata muncul bersamaan.

Seperti yang kebanyakan orang bicarakan, penampakan UFO selalu identik dengan piring terbang, makhluk-makhluk aneh dan penculikan. Kisah tentang piring terbang pertama diceritakan oleh seorang pilot sipil bernama Kenneth Arnold yang memberi kesaksian adanya 9 pesawat terbang, bergerak sangat cepat, bercahaya putih-biru dan terbang di atas pegunungan Cascade, Washington. Bill Bequette, seorang reporter dari United Press, mengubah pernyataan Arnold dengan mendefinisikan obyek tersebut serupa piring terbang. Masyarakat menyetujui pendapat Bequette. Sebanyak 88 laporan dari 400 orang yang tersebar di 24 negara bagian pada satu hari yang sama melaporkan mengalami kejadian yang sama dengan apa yang disaksikan Arnold. London Times ikut menyiarkan berita itu. Cerita berakhir dengan keterangan dari angkatan udara yang menyatakan obyek tersebut adalah rongsokan dari balon cuaca. Tidak puas dengan keterangan militer, tiga puluh tahun kemudian seorang ketua intelejen bernama Jesse Marcel membuka kembali kasus tersebut. Gosip terakhir sejak awal tahun 80-an, disk yang berisi data penampakan tersebut jatuh ke tangan ufologi.

Ketika rasa penasaran masyarakat sudah cukup terpuaskan dengan penjelasan obyek berupa piring terbang, maka hipotesa beralih pada tujuan kedatangan obyek asing tersebut. Mayor Donald Keyhoe, mantan korps operasi AL AS, pada sebuah artikel di majalah True, menduga obyek piring terbang yang berasal dari planet lain sedang dalam misi pengawasan terhadap makhluk Bumi. Mereka khawatir dengan perkembangan senjata nuklir yang tengah digalakkan para ilmuwan. Dugaan lain, mereka tengah melakukan penelitian dengan obyek manusia di Bumi. Dugaan menjadi semakin menjadi dan terus berkembang lebih ekstrim. Darah, air mani, indung telur manusia diceritakan menjadi obyek yang menarik dalam penelitian mereka. Penculikan menjadi cerita yang paling sering digambarkan para saksi mata. Ide ini lantas menginspirasi banyak industri film-film sebagai alur yang menarik. Belakangan para penggagas hipotesa tersebut muncul sebagai kelompok harfiah yang selalu mencari kegilaan dan keberanian dalam berimajinasi.

Kelompok ini mengakui meskipun tanda-tanda kedatangan makhluk-makhluk asing ini cukup nyata, namun tidak ada satupun benda yang bisa dijadikan bukti fisik. Selanjutnya mereka juga ternyata bermasalah secara psiko-fisiologis yang dialami oleh hampir semua saksi mereka. Penjelasan mereka, kebanyakan saksi-saksi di tempat kejadian memperlihatkan gejala disorientasi, kehilangan rasa waktu, lumpuh sebagian atau kehilangan pengendalian otot sadar, halusinasi pendengaran dan penglihatan, keluhan mata mulai dari peradangan hingga kebutaan sesaat dan reaksi-reaksi psikis yang sangat kuat dan berjangka panjang seperti gangguan tidur serta perubahan tingkah laku yang drastis (Salatun, 1979).

Kelompok rohaniawan mencoba mencari jawaban melalui jiwa berdasarkan keterangan dari kitab-kitab suci mereka. Terkadang sebagian di antara mereka bahkan ngelantur dengan mengandalkan mistik sebagai jawaban akhir. Menganggap penampakan itu masih berhubungan dengan ruh-ruh halus dari dunia lain untuk melakukan kontak dengan manusia. Kelompok psikolog menduga terjadi permasalahan pada kejiwaan para saksi tersebut. Pikiran yang cemas, gundah, penghayal, dan sejumlah komposisi yang berlebihan dan berkembang dalam pikiran mereka. Para psikoterapi menanggapi kasus-kasus penculikan tersebut merupakan pekerjaan para makhluk ghaib atau makhluk spiritual.

Kelompok terakhir mencoba menjadi penengah dari semua dengan sebuah dugaan tegas untuk menolak semua yang berada di luar batas-batas ilmu pengetahuan. Cerita kunjungan makhluk-makhluk luar angkasa tak lebih dari sebuah lelucon, ketakutan dan prasangka yang berlebihan terhadap sesuatu yang asing bagi mereka. Namun mereka juga tetap memberikan ruang imajinasi itu dalam sebuah bingkai fiksi ilmiah.

Sampai saat ini tidak ada dokumentasi yang memadai untuk menjelaskan keberadaan makhluk asing selain sebagai konsumsi dunia hiburan semata. Foto-foto dan video amatir yang pernah ditampilkan sebagai bukti kunci lantas hilang begitu saja. Anehnya tidak satupun tampilan foto dan video tersebut dibuat dalam kualitas bagus, sehingga hanya tampak sebagai sesuatu obyek yang sangat samar. Beberapa peneliti malah akhirnya mengungkap dengan detail bagaimana foto dan video itu tenyata palsu dan mudah dibuat oleh seorang anak kecil sekalipun. Hal ini jelas sangat disesalkan. Bahwa sebuah data yang muncul ke publik dan diakui sebagai hasil yang akurat ternyata hanya hasil kreasi menyebalkan dari seseorang yang iseng semata. Bukan hanya menghambat hasil penyelidikan namun mementahkan sama sekali tujuan dari keisengan tersebut dan berakhir sebagai gangguan yang populer.

Sebuah cerita kebohongan yang terkenal sempat terungkap pada tahun 1990. Bermula dari cerita Ed Walters pada tahun 1987 tentang sebuah UFO yang mendarat di rumahnya disertai dengan gonggongan anjing ketika alien kecil turun dari pesawatnya lengkap dengan beberapa lembar foto sebagai bukti. Kebohongan segera terungkap setelah ditemukan beberapa model UFO di loteng rumahnya dengan bentuk persis seperti yang terpampang di foto yang dipublikasikannya oleh penghuni baru setelah keluarga Walters pindah.

Terlepas dari perdebatan yang terjadi, sebuah riset yang dilakukan oleh Frank Small & Associaties (FSA) di negara kita pada tahun 1997 silam, menghasilkan sebuah angka yang mengejutkan. Ternyata lebih dari 67% warga Jakarta percaya terhadap UFO. Polling senada dilakukan oleh ROAR pada tahun 2000, menunjukkan bahwa orang Indonesia yang berusia 15-24 tahun, 61% diantaranya percaya keberadaan UFO. ROAR sendiri adalah sebuah konsorsium yang terdiri dari suratkabar The Guardian, perusahaan iklan Carlton Screen, radio siaran Kiss FM, stasiun televise Channel 4, majalah konsumen Emap dan biro iklan BMP PMD.

Jika anda menangkap saya seolah memiliki kesan menolak beradaan makhluk itu, semata karena dokumentasi itulah permasalahannya. Segala sesuatu yang dianggap sebagai kajian ilmiah, tentu harus mematuhi prinsip ilmiah dalam penyelidikannya. Bukan semata hipotesa tanpa bukti atau karena banyak orang yang -mengaku- pernah menyaksikannya. Kecuali mengakui dengan pasti bahwa kisah-kisah tersebut sungguh inspiratif dan mampu mengisi kekosongan daya imajinasi kita yang telah jenuh dengan cerita mistik. Saya pun menyukai film-film fiksi ilmiah tersebut lebih karena kemampuan sang sutradara dalam menghadirkan ketegangan dengan kisah-kisah baru yang menakjubkan kreasi sutradara brilian macam Steven Spilberg. Ketegangan sebagaimana yang saya rasakan tatkala menikmati tontonan horor atau perasaan gembira saat menyaksikan kekonyolan kelompok lawak Srimulat beraksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s