Sudahkah Kita Menyontek Hari Ini!!!

SUATU hari di pertengahan tahun 1992, seorang Wakil Kepala Sekolah memasuki ruang kelas di sebuah sekolah menengah atas. Di ruang tersebut sudah berkumpul semua siswa kelas tiga yang sebentar lagi menempuh ujian nasional. Hampir semua siswa di kelas itu mengira ada pengumuman penting berkaitan pelaksanaan ujian yang akan disampaikan. Atau mungkin sebuah motivasi bagi siswa untuk belajar lebih gigih mengingat ujian semakin dekat.

Sayangnya asumsi mereka salah besar. Nasehat dan wejangan sang wakil kepala sekolah sungguh di luar dugaan. Ternyata penjelasan panjang lebar itu tak lebih dari sebuah tips dan trik jitu bagaimana menyontek yang baik dan aman saat ujian nanti!!!
Dengan menerapkan budaya menyontek yang “bersih”, ternyata bertahun-tahun sudah sekolah itu menyandang predikat sekolah unggul. Sungguh, sebuah hasil yang luar biasa bisa tercapai dengan cara yang luarrr biasa juga…!!!
(Yulia Direzkia, 2008)

Menyontek saat ujian, jelas bukan cerita baru lagi. Mungkin sejak zaman buyut kita, cara ini sudah berlaku. Cuma miris rasanya, membayangkan betapa kualitas unggul sebuah institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, diperoleh dengan jalan menyontek. Celakanya, cara-cara tak jujur seperti ini seringkali terbukti “berhasil” hingga layak ditiru.

Dan yang lebih mencengangkan lagi, ternyata saat ini acara contek menyontek telah berlangsung dengan skenario yang semakin canggih. Dirancang dengan begitu matang serta berlangsung secara samar dan rapi. Sulit dideteksi oleh pengamat ahli sekalipun. Karena meski berlangsung di kelas saat ujian, namun turut dikendalikan oleh oknum-oknum di belakang layar. Dan para oknum tersebut juga bukan individu sembarangan. Mereka adalah pemilik otak-otak cerdas yang miskin moral. Eloknya, tak jarang cara haram ini berlaku atas petunjuk dan bimbingan para guru dengan restu sepenuhnya dari pihak sekolah. Lucunya, cara-cara seperti ini diiringi dengan doa bersama agar lancar tanpa kendali. Juga luput dari deteksi petugas pengawas ruang ujian.

Jika ada waktu luang, sekali-kali tengoklah ruang ujian di sekolah terdekat. Lihatlah ekspresi para anak-anak kita saat mereka mengerjakan soal ujian. Anda pasti setuju, mimik itu jelas-jelas mencerminkan keseriusan dan kewaspadaan. Namun jangan terkejut jika kemudian Anda merasakan suasana yang tidak “wajar”. Mereka ternyata tidak sepolos kelihatannya. Karena ekspresi itu sesungguhnya bukanlah karena gambaran otak yang sedang berpikir keras mengerjakan soal.

Kerutan di dahi anak-anak itu tak lain dan tak bukan adalah efek konsentrasi atas usaha mereka dalam memanfaatkan keadaan. Terutama di saat para pengawas ujian dalam keadaan lengah. Terkadang kegesitan mereka jauh melampaui jangkauan pengamatan para pengawas yang lebih sering terkantuk-kantuk ketimbang sigap mengawasi.

Cobalah amati mereka baik-baik!

Jangan mudah terkecoh karena terkadang kerlingan mata bukan hanya sekadar tingkah genit semata. Tangan menggaruk yang bukan dipicu rasa gatal. Gerakan kaki yang berulang dan penuh makna. Kecurigaan ini sangatlah wajar. Karena tak jarang segala tindakan spontan itu ternyata mengandung kode-kode yang sudah disepakati sebelumnya.

Jika Anda masih belum percaya dan memiliki wewenang, cobalah berikan sedikit kejutan buat anak-anak kita. Saat mereka tengah asyik mengerjakan ujian, lakukan razia serentak di seluruh ruang kelas. Periksa dengan teliti isi tas, sobekan-sobekan kertas di kolong laci, isi saku pakaian, dan lihat apa yang akan Anda temukan. Hitunglah berapa banyak anak-anak kita yang ketahuan menyimpan catatan-catatan kecil di sudut-sudut rahasia di sekitar mereka. Betapa nantinya kita akan dibuat terkagum-kagum atas kelihaian mereka menyimpan catatan-catatan itu.

Tentu saja tidak semua anak-anak kita melakukannya. Masih banyak anak-anak yang memilih jujur dengan resiko yang sudah mereka pahami pula. Mungkin sekali-sekali mereka pernah menyontek, namun tidaklah menjadi kebiasaan.

Meski bertentangan dengan hati nurani, terkadang rasa iri muncul juga bagi mereka yang berlaku jujur. Maklum, dunia pendidikan kita masih mementingkan hasil dari pada proses. Nilai akhir itulah yang lebih penting dari pada proses pembelajaran itu sendiri. Kejujuran ternyata tidak melulu membawa keberhasilan. Khususnya dalam konteks hasil ujian.

Agar tidak melulu menyalahkan anak-anak kita, mari kita sejenak introspeksi diri. Sejujurnya, siapa diantara kita yang belum pernah sekalipun menyontek? Jika memang betul sebagian besar kita pernah menyontek, lantas apakah betul menyontek itu memang sudah sifat bawaan dari lahir?

Jika ditelusuri secara berimbang, baik siswa maupun guru menyumbangkan peran masing-masing. Kesalahan siswa sudah jelas, yakni berbuat tidak jujur. Tapi tentu saja, perbuatan tidak jujur itu tidak akan terjadi jika fungsi pengawasan berlaku tanpa ada kelalaian. Jujur saja, banyak diantara para guru yang sering melakukan kerja ganda saat mengawasi ujian. Misalnya, sambil mengoreksi lembar jawab ujian kelas lain. Atau kadang malah baca koran, ngobrol dengan pengawas lain dan -ini yang paling sering- terbuai dengan kesunyian sampai terkantuk-kantuk.

Kehidupan ini memang berawal dari meniru. Simak bagaimana seorang bayi belajar berkata-kata. Lisan dan rengekan yang keluar dari mulut mungil si bayi sebenarnya juga hasil dari meniru ketika kita berkata-kata dihadapannya. Kebiasaan, ketrampilan dan pengetahuan yang kita dapatkan sebagian besar diawali dengan meniru orang lain. Namun untuk selanjutnya adalah tugas kita untuk mengadaptasi hasil tiruan itu sesuai identitas dan kepribadian kita. Sehingga kita bukan semata meniru apalagi menyontek.
Lantas jika dikaitkan dengan moral, apakah menyontek itu termasuk perbuatan amoral? Sebagian orang yang pernah saya tanya, menjawab tegas, “Ya”. Beberapa yang lain menjawab dengan bimbang. Alasannya, semua itu tergantung niat, alasan dan sangat kasuistik. Jika menyontek berlatar niat baik, untuk tujuan mulia dan dalam keadaan terpaksa, maka tidak bermasalah. Berlaku sebaliknya jika niat dan tujuan memang sudah busuk serta bukan karena keterpaksaan. Ah, bagi saya apa pun alasannya, suatu cara yang tidak benar pasti akan menghasilkan hasil yang sepadan. Tuhan tidak pernah tidur. Dan Tuhan selalu tahu apa yang makhluk-Nya lakukan. Ini bukan sekadar pilihan. Tapi sudah sampai pada wujud kesehatan moral.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s