Buah dari Hari Kelulusan

MENGHADAPI polah tingkah anak-anak memang membutuhkan kesabaran. Di kelas, saya harus sering menahan amarah karenanya. Selalu saja ada kerepotan yang muncul dari canda dan cara mereka bertindak. Kadang saya berpikir, mengapa mereka sering mempersulit diri sendiri. Sadarkah mereka bahwa hal itu juga menyakitkan bagi guru. Dan jawaban itu saya dapatkan setahun kemudian. Cukup hanya dengan menatap satu persatu wajah mereka saat hasil ujian kelulusan diumumkan.

Wajah itu sangat berbeda saat saya tatap beberapa bulan sebelumnya. Saat dimana tidak ada satu pun dari seisi kelas yang mengerjakan tugas rumah mereka. Alasannya cukup sederhana, karena lupa dan tidak bisa. Coretan yang tertulis di buku catatan mereka, sama sekali tidak menyiratkan ada usaha yang berarti. Dan apa yang membuat darah ini semakin mendidih adalah mimik tanpa rasa bersalah itu!

Keceriaan pagi yang biasanya saya dapatkan, musnah sudah. Nyaris kesabaran saya habis karenanya. Merasa disepelekan, diabaikan dan dianggap tak ada yang lantas memuncak menjadi amarah. Permasalahan “kecil” itu benar-benar membuat saya tersinggung. Apa yang terlintas dalam benak saya saat itu adalah betapa buruknya sikap mereka. Rasanya saya berhak marah saat itu. Dan sebagai pelampiasannya, saya keluar dari kelas dengan perasaan tak menentu. Meninggalkan hak mereka sekaligus mengingkari kewajiban profesi saya.

Untuk sesaat, waktu telah membuat saya melupakannya. Selanjutnya, segala sesuatu berjalan normal apa adanya. Hingga suatu hari, wajah iba itu seolah menjadi teguran bagi saya. Mengingatkan bahwa apa yang saya pikirkan pagi itu ternyata salah. Amarah itu seharusnya tidak ada.

Satu wajah yang begitu membekas di benak saya karena terkenal “biang kerok” tampak begitu “kerdil” saat itu. Apa yang terpancar di wajahnya, sangat kontras dengan perawakannya yang tinggi besar. Kekarnya otot yang membekas di baju seragamnya, tidak serta merta membuatnya tampak gagah. Sosoknya terpusat pada kedua bola matanya yang berkaca-kaca. Ya, dia menangis!

Tanpa banyak kata-kata dia segera beringsut dari kelas. Goretan tinta hitam di dalam amplop itulah alasannya. TIDAK LULUS. Dua buah kata sederhana yang sangat menakutkan. Bahkan membuat Si Biang Kerok lantas terisak di sudut kelas. Hari itu betul-betul mampi buruk bagi dia. Apa yang bisa saya gambarkan dari dia saat itu adalah ternyata dia memang masih anak-anak.

Sontak saya teringat peristiwa pagi lalu. Segala amarah yang dulu tersimpan seketika lenyap. Menjelma menjadi sebuah perasaan empati yang mendalam. Tidak ada lagi sosok tinggi besar yang suka melawan dan menyebalkan. Rasa-rasanya saat itu saya sedang menatap anak kecil yang sedang rapuh.

Sejak itu, saya jadi sering merenung. Jangan-jangan sayalah penyumbang ketidaklulusan dia. Apa yang saya keluhkan saat itu bisa jadi berkaitan dengan tragedi kelulusannya. Mungkin saat itu saya mengeluh dan mengumpat karena kesal. Amarah yang melontarkan kata-kata dan menjelma menjadi doa buruk bagi anak-anak. Bisa jadi, itulah jawaban Tuhan atas doa “tidak sengaja” yang saya panjatkan tatkala emosi memuncak karena kenakalan mereka. Jika benar demikian, berarti saya lah biang kerok sesungguhnya yang berbuntut kata-kata “tidak lulus” itu muncul di amplop.

Seorang teman pernah memberi tips singkat pada saya bagaimana menangani anak nakal di kelas. Menurut dia, pendekatan dengan cara “perhatian” lebih efektif dari metode “hukuman”. Katanya, anak-anak menjadi lebih mengerti dan dewasa terhadap suatu persoalan. Metode hukuman hanya akan membuat anak-anak justru tidak dewasa. Kadang menimbulkan rasa dendam dan bisa berlanjut menjadi tindakan yang tidak seharusnya.

Metode itu akan terasa sulit jika kita tidak bersedia memahami mereka. Jadi, hanya tinggal bagaimana kita menempatkan ego kita sebagai orang yang seharusnya bisa lebih dewasa. Mengalah tapi bukan untuk kalah. Mengalah hanya karena itulah strateginya.

Mendengar tips singkat itu, lantas saya kembali bernostalgia dengan masa lalu. Selama ini, tantangan yang saya alami bukanlah dalam hal pengajaran. Bukan pula tentang materi pembelajaran yang rumit dan mengharuskan saya membuka kembali buku-buku usang semasa kuliah. Tapi justru tentang bagaimana menanamkan sikap dan karakter pada anak-anak. Mendidik anak-anak untuk menjadi dewasa dengan lebih baik. Mendidik memang bukan semata mengajar. Mendidik lebih rumit dari mengajar. Mendidik juga lebih berharga dari mengajar.

Sayangnya, di saat saya sibuk menanamkan bagaimana menjadi orang yang berkarakter baik, justru saya sendiri lupa menjadi sosok yang berkarakter. Apa yang terpikir di otak, terucap di lisan dan terlaksana di tindakan, ternyata tidak bisa selalu perlu digugu dan di tiru anak-anak. Apa yang saya sampaikan pada mereka, tidak serta merta menjadi pengingat diri agar tidak menjadi jarkoni. Ternyata selama ini saya lebih sering menjadi sosok yang hanya bisa ngajar tapi tidak bisa nglakoni.

Seharusnya saya merasa beruntung dengan keadaan ini. Memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang sikap dan karakter. Bukahkah berteori sambil praktik, jauh lebih baik dari sekadar berkata-kata saja? Sebuah pelajaran berharga yang mungkin telah dibayar mahal lewat Si Biang Kerok dengan wajah iba-nya.

Suatu saat, ketika amarah mulai memuncak, saya mencoba mengingat kembali siapa sesungguhnya mereka. Ya, mereka masih anak-anak. Dan mereka adalah anak-anak kita. Jadi, cobalah mengerti mereka tanpa harus menghukum. Sehingga bisa tumbuh menjadi sosok yang mengerti dan dewasa akan masalah mereka sendiri. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s