Akhir dari Cerita Memalukan

PAGI itu terasa spesial. Khususnya bagi ketujuh siswa tingkat akhir di sebuah sekolah menengah umum. Baru kali ini mereka dipanggil secara khusus oleh wali kelas karena tindakan indisiplioner. Alasannya hal biasa sebenarnya. Tentang ketidakhadiran mereka tanpa sebuah alasan yang dapat dipertanggungjawabkan alias alpa. Peristiwa ini menjadi luar biasa karena disaat seharusnya berada di bangku sekolah mereka justru duduk manis di sebuah lembaga bimbingan belajar. Peristiwa kecil itu telah membuka mata kita lebar-lebar. Bahwa sekolah bukan lagi dianggap tempat pilihan terbaik untuk menuntut ilmu. Maka, perlukah eksistensi sekolah menjadi layak dipertanyakan lagi?

Saya tidak bermaksud menyingkirkan eksistensi sekolah dengan membesar-besarkan masalah ini. Hanya memang sedikit membuka wacana sekaligus refleksi akan peran sebuah lembaga formal yang menjadi tempat kita menghabiskan sebagian besar masa kecil. Memang masalah di atas sepintas terlihat sepele. Namun tentu bisa menjadi aib yang sangat memalukan. Apalagi karena ternyata terjadi di sebuah sekolah yang diakui terbaik di kotanya. Bahkan pernah beberapa kali mengantarkan siswa didiknya ke ajang kompetisi internasional. Juga dikenal terbaik dalam menerapkan kurikulum sehingga menjadi pilihan pertama para orang tua dan anak-anak di kota itu. Dan peristiwa ini membuka sisi lain dari sekolah tersebut.

Seorang pelajar pernah berujar kepada saya, bahwa menurut dia sekolah bukan lagi semata-mata tempat menuntut ilmu. Apa yang didapatkan di sekolah lebih ditujukan untuk nilai di atas selembar ijazah. Formalitas semata untuk mendapatkan status sebagai pelajar. Lantas, dia menyikapinya dengan berusaha mencari sumber-sumber lain untuk menuntaskan apa yang wajib dia ketahui dengan berbagai cara. Baik itu melalui media maupun mengikuti pelajaran tambahan di tempat lain.

Salahkah pendapatnya? Tentu sangat relatif. Aktif mencari sumber ilmu dari tempat lain, jelas tak ada salahnya. Justru menunjukkan sikap kemandirian yang memang diperlukan bagi siapapun. Namun, kalau menilik sebab musababnya, maka ini jadi persoalan serius. Menjadi sebuah sinyal bagi para pengelola sekolah bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang mereka lakukan.

Untuk mengomentari kata-katanya, saya mencoba mengorek lebih dalam lagi dengan sebuah pertanyaan singkat. “Lalu, apa yang kamu lakukan selama berada di kelas?”

Mengejutkan! Secara polos dia mengatakan memilih bersantai-santai di kelas. Kadang ngobrol dengan teman-temannya, melamun, main handphone, hingga mendengarkan musik. Segala hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran, bisa dilakukan dengan bebas di ruang kelas saat seharusnya dia belajar. Tergantung siapa sosok guru yang mengajar saat itu dan pelajaran apa yang dibahas. Jika suasana belajar menyenangkan, maka dia serius menyimak. Jika sebaliknya, maka santai menjadi aktivitas kunci. Jadi ternyata, proses pembelajaran sesungguhnya bukanlah berada di dalam tembok sekolah, tapi justru di luar.

Mendengar jawabannya saya lantas berkesimpulan. Pantas saja lembaga bimbingan belajar sekarang laris manis bak kacang goreng. Alasannya bukan semata karena teknik marketingnya yang mempesona. Atau teknik pembelajarannya yang luar biasa. Menurut saya alasan utama karena keberadaan mereka memang sangat dibutuhkan. Dan kebutuhan itu muncul justru karena institusi sekolah tidak lagi sanggup menjadi tumpuan belajar siswa. Aspek keilmuan yang seharusnya menjadi tujuan utama siswa di sekolah, sedikit demi sedikit beralih ke tangan para guru privat dan tentor di lembaga bimbingan belajar.

Lantas, apa sebenarnya masalah yang mendasari kemunduran ini?

Mungkin pengalaman saya bisa sedikit membantu. Saya pernah membandingkan tingkat kemampuan siswa antar sekolah menengah umum melalui sebuah tes kecil. Hasilnya, dari lima sekolah di satu kota yang saya amati, ternyata ada sebuah sekolah yang sangat memprihatinkan dalam mengelola siswa siswanya. Hal ini berlaku dari tingkat sepuluh hingga tingkat dua belas.

Padahal, jika ditilik dari kemampuan siswanya sebenarnya tidak jauh beda. Input siswanya berasal dari sekolah sama, bahkan ada beberapa diantaranya merupakan juara kelas di sekolah asalnya dulu. Namun perkembangan kelimuwan mereka tatkala melanjutkan sekolah di tingkat atas, sungguh tidak mencerminkan kecerdasan otak mereka. Kemunduran mereka jelas karena proses yang tidak sempurna. Seberapapun bagusnya kualitas input, tanpa disertai proses yang baik akan menghasilkan produk yang mengecewakan.

Seorang praktisi pendidikan pernah berkomentar tentang keberadaan lembaga bimbingan belajar sebagai tempat pelajar mendapatkan pelajaran tambahan. Secara tegas beliau membantahnya. Menurut beliau, kurikulum sekolah sebenarnya sudah dirancang agar anak bisa belajar dengan proses yang tepat dan menghasilkan output maksimal. Tugas guru adalah sebagai “koki” yang mengolah ramuan kurikulum agar bisa disantap lahap si murid hingga kenyang. Jadi sebenarnya, lembaga bimbingan belajar sebenarnya tidak perlu jika sekolah menjalankan fungsinya secara maksimal.

Lantas, benarkah apa yang terjadi sesuai dengan “rencana” beliau?

Mencoba merujuk pendapat di atas, berarti ramuan kurikulum sekolah saat ini masih belum nikmat disantap anak-anak kita. Buktinya, usai pulang sekolah anak-anak masih memburu lembaga bimbingan belajar meski sudah berjam-jam belajar di sekolah. Mungkin masih ada bahan-bahan yang perlu ditambahkan ke dalam ramuan kurikulum saat ini. Atau ramuan kurikulum saat ini mungkin terlalu berlebihan hingga menghasilkan sajian yang tidak nyaman untuk di santap. Bisa jadi sang koki masih perlu banyak belajar lagi tentang bagaimana menyajikan kurikulum yang membangkitkan selera.

Hemat saya, mungkin yang bisa kita lakukan adalah mencari benang merah antara sekolah dan lembaga bimbingan belajar. Harus diakui memang ada beberapa kelemahan sekolah yang hanya bisa dipenuhi oleh lembaga bimbingan belajar. Namun jangan sampai keberadaan bimbingan belajar seolah-olah menggerogoti sistem pendidikan kita yang menempatkan sekolah sebagai lembaga formal dalam menuntut ilmu.

Jika harmoni ini bisa terjadi, maka ramuan pendidikan di tanah air akan semakin lezat dan menimbulkan selera anak-anak kita untuk semakin giat belajar. Seperti akhir dari cerita ketujuh siswa di atas. Setelah sekolah dan lembaga bimbingan menjadikannya sebagai koreksi diri tanpa perlu saling menyalahkan. Bahkan untuk selanjutnya harus saling mendukung. Karena siapa tidak bahagia saat menyaksikan anak-anak kita lulus dari sekolah dengan nilai memuaskan? Tentu kita semua kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s