Cinta Guru & Siswa = Cinta Dua Usia

DARI beberapa kisah cinta yang “terlarang”, mungkin ini salah satunya. Cinta antara guru dan murid. Cinta bukan dalam arti kasih sayang dan perhatian antara seorang pendidik kepada siswa didiknya, namun lebih mirip gejolak hati antara dua insan manusia. Cinta model ini memang merepotkan. Bukan semata karena perbedaan usia yang terpaut jauh, juga karena perbedaan status yang sangat mencolok. Tapi, mana bisa kita menyalahkan hati?

WITING tresna jalaran saka kulina nampaknya terjadi untuk cinta model ini. Karena pertemuan yang sering dan interaksi yang berlangsung terus menerus, maka mungkin saja rasa simpati itu hadir.

Pertemuan yang sering bukan hanya sekadar pertemuan. Juga terjadi kontak mata, hati dan juga pikiran. Bahkan bahasa tubuh pun kerap di pakai. Semuanya bisa menimbulkan tafsiran yang bermacam-macam. Dan semua itu menjadi jalan mulus untuk hadirnya perasaan tertentu, termasuk rasa cinta.

Baca lebih lanjut

Kecantikan Sains

Kecantikan identik dengan keindahan. Seseorang yang sedang terlena terhadap suatu kecantikan tertentu, dia akan menjelma menjadi sosok yang romantis. Seolah keindahan itu bisa menular, sehingga tak peduli seberapa garang seseorang bisa dengan seketika menjelma menjadi sosok yang lemah lembut. Sangat berbeda dari keadaan sebelumnya.

Karena kecantikan dan keindahan hanya bisa dirasakan, maka keduanya hanyalah berarti sifat. Bukan wujud semata. Artinya, sungguh berhubungan dengan selera. Ketika Dewi Sandra menjadi terkenal karena kecantikannya di Indonesia, maka belum tentu berlaku sama saat dia berada di belahan benua lain. Jadi, sesuatu yang buruk pun bisa tampil cantik bagi mereka yang berselera. Dan seseorang yang cantik bisa dianggap biasa saja oleh orang lain.

Untuk manusia, kecantikan memang identik dengan perempuan. Atau segala sesuatu yang memiliki sifat feminim lebih dominan dari maskulin. Meski dalam keseharian kita sering mendengar ada istilah nomor cantik, warna cantik, Baca lebih lanjut

Belajar dari Mereka

HARI itu saya mendapat pengalaman berharga dari seorang murid. Bermula ketika dia terlambat masuk kelas. Saat terengah-engah minta maaf, sebuah benda besar di tangannya menarik perhatian saya. Termos. Ya, sebuah termos besar. Nyaris sepadan dengan tubuhnya yang mungil.

SAAT itu saya tidak begitu peduli dengan apa yang dia bawa. Lain kesempatan, saat tak sengaja bertemu dia, saya iseng bertanya. Tentang asbabunnuzul benda besar itu hadir bersama dia saat itu. Jawaban dia polos, “Jualan es”. Mencoba untuk tidak percaya begitu saja, saya konfirmasi dengan teman dekatnya. Dan benar. Meski tak rutin, si anak polos itu sudah terbiasa berjualan es di sekolahnya.

Jualan es di sekolahan, mungkin sesuatu yang mengagumkan bila dilakukan oleh orang lain. Tapi berbeda jika dia yang melakukannya. Ini sangat spesial. Terutama karena satu-satunya alasan dia berjualan es adalah semata urusan belajar. Belajar bagaimana memahami orang tua, menghargai diri sendiri, mandiri, dan demi kehidupan masa depan. Sebuah cara belajar yang sangat efektif dan cerdas untuk seorang anak seusia dia.

Kadang keuntungan dari usaha kecil-kecilan itu dia gunakan untuk Baca lebih lanjut