Mengajar dengan Hati

MANUSIA adalah makhluk berakal. Akal menuntun manusia untuk berpikir logis. Akal sebagai kelebihan manusia ternyata tidak sendiri. Akal didampingi oleh rasa agar bisa tetap seimbang. Karena rasa, kita bisa menitikkan air mata saat merasakan kesedihan dan tertawa saat ada kelucuan. Mana yang lebih hebat antara akal dan rasa? Jawabnya tentu relatif. Bagi saya, tak penting mana yang lebih hebat. Akal dan rasa mestinya harus ditempatkan secara seimbang dan tepat. Banyak ketimpangan yang terjadi saat akal dan rasa tumbuh tak selaras.

Para guru, sang pendidik anak bangsa, juga sering terlena pada ketidakseimbangan ini. Mengunggulkan rasa secara berlebihan bisa membutakan akal mereka. Kadang para guru lebih menghargai siswa yang penurut dan keras kepada siswa yang menentangnya. Karena rasa kewibawaan yang terusik, guru juga sering mengabaikan anak-anak yang berani menyatakan haknya. Akal anak didik boleh cerdas, tapi sebagai guru Anda merasa tetap unggul. Rasa belum ditempatkan pada posisi yang semestinya, sehingga akal sering kalah.

Baca lebih lanjut