IPA TERPADU atau GURU TERPADU

Konsep IPA Terpadu masih banyak di salah artikan oleh sebagian besar orang, bahkan guru yang sudah (merasa) menjalaninya. Para guru SMP mapel Fisika yang juga mengajar Biologi atau sebaliknya, merasa bahwa itulah yang dimaksud dengan pengajaran IPA TERPADU. Meski sebenarnya itu lebih pas jika dikatakan sebagai pengajaran GURU TERPADU.

Saya mencoba untuk membandingkan antara konsep IPA TERPADU dengan apa yang selama ini diterapkan, dan (maaf) saya katakan sebagai GURU TERPADU.

Tinjuan Aspek Guru
Selama ini obyek pelaksana adalah guru. Maksudnya si guru mapel Fisika sekaligus mengajar mapel Biologi atau sebaliknya. Bukankah itu yang dimaksud dengan GURU TERPADU. Satu orang guru mengajar beberapa mapel.

Proses pembelajaran di bagi berdasarkan jam. Misalnya jam 1,2 pelajaran biologi, lalu jam 3,4 tentang fisika. Atau berdasarkan hari, misanya, hari senin 2 jam digunakan untuk membahas fisika. Lalu pertemuan hari berikutnya 2 jam untuk membahas biologi. Sisanya 1 jam untuk kimia.

Kalau untuk yang model begini, saya kira bukan yang dimaksud dengan keterpaduan IPA. Model yang begini Lanjut membaca

Komunitas Film Pendek

Istilah “komunitas” berarti “sama” yang diambil dari kata communis dari bahasa Latin. Komunitas bisa dipahami sebagai sebuah kelompok yang para anggotanya memiliki aktivitas, ketertarikan, hobi, habitat atau sesuatu lain yang sama. Maka, komunitas film bisa berarti kelompok yang memiliki ketertarikan hingga keterlibatan dalam dunia film. Komunitas film yang dimaksud adalah bukan komunitas dalam bentuk perusahan atau organisasi komersial, tetapi organisasi atau kelompok penggiat film diluar jalur industri.

Belakangan ini kalangan muda, termasuk didalamnya para pelajar, semakin marak dalam membentuk komunitas-komunitas film, khususnya film independen atau film pendek. Dari kota-kota besar hingga tingkat kecamatan di daerah pinggiran bermunculan kumpulan anak muda yang menamakan diri sebagai komunitas film.

Di tingkat sekolah mulai bermunculan jurusan multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga ekstrakurikuler bidang multimedia, audio visual, broadcasting atau semacamnya. Hal yang sama lebih gencar terjadi di tingkat perguruan tinggi. Lanjut membaca

Ber-Sains Ibarat Meramal_01

SIAPA bilang, urusan ramal meramal menjadi keahlian Ki Joko Bodo atau Mama Laurent saja? Sains juga ahli dalam hal ini. Cara dan medianya tentulah berbeda. Tidak perlu bola kristal, kartu tarot, garis tangan atau alat-alat aneh lain sebagai media ramal. Lebih banyak mengandalkan pensil, kertas, laboratorium atau komputer. Mungkin karena laku keras atau memang tuntutan profesi, banyak ahli sains mencoba peruntungan dengan menebak keadaan masa depan. Berbagai metode dari yang aneh sampai yang sungguh-sungguh ilmiah mulai dipraktekkan. Trend ini bukan berarti sebuah tuduhan bahwa sains mulai menyabotase lahan profesi paranormal. Perlu kita pahami bersama, urusan ramal meramal dalam sains bukanlah cerita baru. Praktek ini sudah jauh berabad-abad lalu di lakukan oleh sains. Sains sendiri mempertegas kajian ini dengan munculnya futurologi sebagai salah satu bagian kajian sains.

Apakah kita masih sama seperti sedetik lalu? Apakah kita bisa mengulang dengan tepat apa yang terjadi semenit sebelum ini? Dua pertanyaan ini tidak sekadar basa-basi. Mungkin perlu sedikit merenung untuk menjawabnya. Bagaimanapun juga, apa yang terjadi pada detik waktu sebelumnya pastilah berbeda dengan yang terjadi di detik ini. Kita saat ini secara tepat, bukanlah kita sedetik sebelumnya. Karena waktu mengiringi perubahan dan pergerakan yang terjadi pada partikel tubuh. Ada yang mati karena usang. Ada pula yang muncul karena pertumbuhan. Amatilah lidah Anda, Apakah bisa diam meski sejenak? Lanjut membaca

Tujuan Hidup

HARI ini saya menerima tiga berita kematian sekaligus. Duka pertama saya terima saat pagi masih cerah menyapa. Ibunda teman saya telah berpulang. Usia dan sakit, itulah alasan yang utamanya selain takdir. Kabar duka kedua hadir tepat tengah hari saat matahari tepat di atas kepala. Datang dari ibunda salah seorang murid. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena penyakit yang sudah menggerogotinya bertahun-tahun lamanya. Dan tepat menjelang malam, menyusul kabar dari tiga teman saya sekaligus. Kecelakaan parah mengantarkan mereka mendahului kami, teman-temannya.

SAYANGNYA, duka ini hanya bisa saya ucapkan lirih tanpa bisa menghadiri pemakaman mereka. Kabar ini cukup untuk membuat badan ini merinding. Memberikan pemahaman berharga bahwa ternyata hidup di dunia ini memang untuk sementara. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut menghadapinya. Tapi entah mengapa, badan ini tetap merinding. Mungkin, karena saya belum cukup bekal.

Seorang teman pernah bertanya pada salah seorang murid saya pada sebuah sesi pertemuan. Saat itu murid-murid saya hendak berdoa bersama demi kelulusan pada ujian masuk salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Tentu tujuannya agar kesiapan mental dan jiwa tetap terjaga sehingga tenang saat mengerjakan ujian esok. Lanjut membaca

Naskah Film “Asa di Bawah Kaki Slamet”

SCENE 1

LOKASI : RUMAH NUR. PAGI

PEMAIN : NUR, IBU NUR

KAMERA : MEJA (GELAS, UANG, PIRING DLL). BADAN NUR DARI BELAKANG SAAT BERLARI MENUJU PINTU

SUASANA DI RUANG DAPUR RUMAH NUR YANG SEDERHANA DAN AGAK GELAP. WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 06.10 MENIT.

NUR MELETAKKAN GELAS BERISI AIR SETENGAH GELAS DI MEJA DENGAN AGAK TERGESA-GESA. SEDIKIT PERCIKAN AIR KELUAR DARI GELAS DAN TUMPAH DI MEJA. NUR BERLARI MENUJU PINTU.

NUR HIKMAH

MAK, NUR BERANGKAT DULU…!!! Lanjut membaca

KIR ESPERO Buat Film Pendek

Cerita bermula sejak bulan Februari lalu. Awalnya hanya sebatas buat kegiatan intermezo saja. Maklum, percobaan Membuat Nata de Coco yang lalu, membuat KIR agak jenuh dengan program-program yang ilmiah banget. Ingin rasanya buat program yang ringan-ringan saja.

Sebelumnya sempat terpikir pula untuk melakukan percobaan membuat “Kamera Lubang Jarum”. Kamera jenis ini sedang ngtren di internet. Selain murah, manfaat dan kreatif, juga sangat anak muda banget. Tapi,g kegiatan ini urung dilaksanakan. Alasannya cuma satu, bingung nyetak hasil filmnya. Maklum, kamera lubang jarum yang menggunakan negatif film harus dicetak secara manual (kamar gelap). Kalo bisa cetak pake print digital saja enak. Tapi ndak masalah. Daripada repot dan bingung, mending pindah haluan. Buat Film Pendek!!!

Proses pembuatan film pendek ini jelas memakan waktu, tenaga, biasa dan kerja keras otak dan otot. Maklum, tak ada satupun anggota KIR yang punya pengalaman. Tapi justru itulah tantangannya. Berikut ini catatan KIR Espero tentang dibalik layar film pendek “Asa di Bawah Kaki Slamet”. Lanjut membaca

Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Isu utama setelah Ujian Nasional (UN) bagi siswa tingkat SMA yang ingin melanjutkan kuliah adalah perguruan tinggi. Sejalan dengan itu bagi yang berminat meneruskan di perguruan tinggi negeri, maka Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) menjadi sesuatu yang mendebarkan dan penting. Selain aroma persaingan yang kuat, juga karena aroma kehidupan baru yang akan mereka jalani nantinya. Persaingan terjadi karena jumlah mahasiswa yang diterima sangat tidak sebanding dengan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar. Kehidupan baru yang menuntut kedewasaan dan kemandirian akan dimulai tatkala menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Tempat belajar baru, teman baru, lingkungan baru, pergaulan baru dan kebebasan.

Untuk menuju ke arah tersebut, calon mahasiswa harus berjuang keras dalam kompetisi SNMPTN demi mendapatkan jurusan dan kampus pilihan. Bukan sekadar bisa mengerjakan soal-soal SNMPTN, tetapi juga untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Bukan sekadar kampus, tetapi kampus pilihan dengan jurusan pilihan pula. SNMPTN akan terasa jauh lebih berat dari UN yang telah mereka lalui kemarin. Lanjut membaca

Enaknya kos Gratis di Masjid Jogja

Mencari tempat kos itu gampang-gampang susah. Kalo kebetulan teman-teman kosnya enakan, ya pasti bikin betah. Nah kalo sebaliknya, bisa cuma numpang lewat hehe… Kos juga bisa merubah kepribadian dan perilaku kita. Intinya, kita akan menjadi lebih baik jika lingkungan kita baik dan akan bertambah buruk jika lingkungan kita memang berpotensi membawa kita ke arah yang lebih buruk.

Sering kita dengar, seorang mahasiwa yang kedapatan ngedrugs, kumpul kebo, suka miras, kecanduan dll. Padahal dulunya, sebelum jadi mahasiswa, anaknya kalem, lembut, taat ibadah dll. Pokoknya tipe anak muda soleh dan solehah lah. Itu mungkin salah satunya disebabkan lingkungan dimana dia kos.

Fenomena kos campur (laki-laki dan perempuan satu rumah) sudah mulai merambah kota-kota pelajar. Asyik memang secara sekilas Lanjut membaca

6 Universitas Paling Populer di Yogyakarta

Bukan berarti universitas populer itu adalah universitas yang paling berkualitas, paling banyak mahasiswanya, paling besar bangunannya atau paling banyak prestasinya. Tapi memang bisa jadi demikian. Karena untuk bisa populer tentu harus lebih dari yang lain. Bisa lebih baik, atau sebaliknya lebih buruk.

Dari sekiran ratus kampus yang berdomisili di Jogja, setidaknya ada beberapa kampus yang memang menonjol dan populer. Dan berikut ini adalah 10 kampus yang menurut saya populer di Jogja. Kriterianya simpel saja, karena banyak kawan-kawanku yang berkuliah di sana. Juga karena sering mendengar berita tentang universitas itu selama di Jogja. Ok, kita mulai.

1.   Universitas Gajah Mada (UGM)

Kita musti mengakui, kalo UGM memang yang paling populer. Malah menurut situs Webometrics yang dirilisawal tahun 2012 lalu, UGM merupakan universitas terpopuler di Indonesia atau nomor 249 sedunia atau nomor 8 se-asia.  Alasan UGM populer sebenarnya banyak dan beragam. Setidaknya faktor usia, sejarah, prestasi dan daya tampung yang banyak, menjadikan UGM sebagai kampus pilihan banyak calon mahasiswa. Saat ini setidaknya terdapat 20 fakultas, 11 fasilitas utama, 45 unit kegiatan mahasiswa dan banyak keunggulan lain UGM dari universitas lainnya. Tentang alasan yang menjadikan UGM populer, sudah saya tulis di artikel UGM Universitas Populer di Indonesia. Lanjut membaca

Mimpi pun Harus Seragam

KEINGINAN menjadi sama seperti orang lain ternyata hampir berlaku untuk semua orang. Beberapa hari lalu di televisi ada seorang remaja dari keluarga kaya yang rela mengamen demi memperoleh uang cukup untuk membeli baju yang sama dengan baju yang dipakai artis idolanya. Perjuangannya mendapatkan baju tersebut lengkap dengan acara mengamen tadi dibuat dramatis karena disorot dengan kamera dan ditayangkan langsung di televisi. Beberapa kejadian kecil, seperti di todong preman usai mengamen, mungkin sengaja disisipkan agar efek dramatis semakin terasa. Tayangan Reality show ala remaja ini justru lebih mirip sinetron karena sisi kehidupan masa lalu si remaja itu juga diilustrasikan macam adegan rekonstruksi lengkap dengan pemeran pengganti.

Di waktu dan tempat berbeda, seseorang bahkan rela memotong rambut dan mempermak wajahnya hanya agar mirip dengan tokoh idolanya. Sayangnya, keputusannya untuk operasi plastik berbuntut penyesalan. Pasalnya, bukannya semakin mirip, wajahnya justru semakin tidak karuan. Maklum, untuk urusan merubah wajah dari yang pas-pasan agar tampak cantik bukan perkara mudah. Apalagi hanya bermodal nekat dan kantong yang tipis. Harga memang ikut menentukan hasil.

Hasrat untuk menyerupai ternyata juga bukan milik para penggemar pada idolanya. Kematian sang The King of Pop, Michael Jackson, akhir Juni 2009 ini kembali membuka kembali ingatan kita bersama tentang tokoh idola dunia ini. Suatu ketika sebuah stasiun televisi menampilkan perubahan fisik, terutama wajahnya, tahun tahun ke tahun. Fantatastis, Lanjut membaca