Mengajar dengan Hati

MANUSIA adalah makhluk berakal. Akal menuntun manusia untuk berpikir logis. Akal sebagai kelebihan manusia ternyata tidak sendiri. Akal didampingi oleh rasa agar bisa tetap seimbang. Karena rasa, kita bisa menitikkan air mata saat merasakan kesedihan dan tertawa saat ada kelucuan. Mana yang lebih hebat antara akal dan rasa? Jawabnya tentu relatif. Bagi saya, tak penting mana yang lebih hebat. Akal dan rasa mestinya harus ditempatkan secara seimbang dan tepat. Banyak ketimpangan yang terjadi saat akal dan rasa tumbuh tak selaras.

Para guru, sang pendidik anak bangsa, juga sering terlena pada ketidakseimbangan ini. Mengunggulkan rasa secara berlebihan bisa membutakan akal mereka. Kadang para guru lebih menghargai siswa yang penurut dan keras kepada siswa yang menentangnya. Karena rasa kewibawaan yang terusik, guru juga sering mengabaikan anak-anak yang berani menyatakan haknya. Akal anak didik boleh cerdas, tapi sebagai guru Anda merasa tetap unggul. Rasa belum ditempatkan pada posisi yang semestinya, sehingga akal sering kalah.

Saat sang guru mengalami ketidakseimbangan, maka siswa pun tak mau ketinggalan. Karena rasa, seorang siswa mampu memorak-porandakan bangunan sekolahnya saat hasil ujian tak meloloskannya atau menjadikan tawuran pelajar sebagai agenda rutin akhir tahun.
Gunakan Musik Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar sains tidak melulu tentang akal, tapi juga tentang rasa. Misalnya, gunakan musik sebagai pengiring suasana saat belajar sains, bacalah puisi sesekali saat menjelaskan tentang konsep sains, ceritakan sebuah kisah saat suasana mulai menjenuhkan.

Selain itu, carilah kisah-kisah yang mungkin bisa dihubungkan dengan konsep sains. Selipkan humor dan pantun agar kantuk tak mengganggu. Atau bernyanyilah bersama-sama sekadar menceriakan suasana. Jangan lewatkan senyum, keindahan, dan kelembutan saat berkutat dengan sains. Arahkan ketajaman akal tanpa mengabaikan rasa. Kendalikan akal agar rasa mendapat tempat saat kita melakukan pertimbangan.

Untuk menjadi guru yang profesional kita harus senantiasa terus belajar. Jadi, untuk Anda para pengajar sains, ingatlah ini: Jangan malu jika merasa perlu belajar menyanyi. Bacalah buku-buku fiksi. Tak perlu sungkan empelajari sastra. Jadilah guru sains yang berseni. Maka, Anda pasti akan mengajar sains dengan sentuhan seni.

Mengajarlah dengan hati. Ajarkan pada mereka rasa dan akal secara seimbang. Tak sekadar ketajaman akal mereka yang tumbuh, juga kepekaan rasa. Dan, sains akan mereka kenal sebagai ilmu yang lembut. Setelah mereka menerima kelembutan di sekolah, sikap ini kemudian akan mereka bawa ke rumah dan kehidupan sosial mereka. Begitu juga Anda.

Diterbitkan di SKH SUARA MERDEKA edisi 14 Juni 2010 Kolom Suara Guru. Lihat

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s